Selasa, 14 Februari 2012

Titik Temu Agama-Agama melalui Sudut Pandang Islam

Titik Temu Agama-Agama Melalui Sudut Pandang Islam

Diskusi Kebangsaan National Integration Movement
‘Titik Temu Agama-Agama Melalui Sudut Pandang Islam’ bersama Amina Wadud
Bulan Oktober 2009 kali ini, National Integration Movement kembali menghadirkan seorang tokoh dunia, imam wanita pertama di dunia dan juga seorang filsuf Islam yang sudah menelorkan berbagai buku yang sudah diterjemahkan dalam 7 bahasa, Prof. Dr. Amina Wadud.
Melihat sosok Prof. Amina Wadud, kesan pertama yang terlintas adalah tenang dan bijaksana. Beliau adalah seorang keturunan Afrika Amerika, terlahir di sebuah keluarga pendeta Kristen, yang sudah memulai pencarian spiritualnya dari usia dini. Ketertarikan Prof. Amina Wadud untuk mendalami spiritualitas terinspirasi oleh ayah beliau, seorang pendeta Kristen yang tidak hanya memberikan ceramah mengenai cinta kasih di gereja, namun membawa semangat cinta kasih ini dalam kehidupan sehari-harinya. Perjalanan spiritual Prof.Amina Wadud dimulai di sebuah ashram Buddhis, dimana selama 1 tahun, Prof. Amina Wadud mengikuti pola hidup dan mendalami ajaran Buddha. Dan perjalanan itupun mengantar Prof. Amina Wadud untuk mendalami ajaran Islam, yang kemudian dianut oleh Prof. Amina Wadud sejak tahun 1972. Pendalaman terhadap Islam dilakukan Prof. Amina Wadud dalam pendidikannya, sampai beliau mendapatkan gelar PhD dari University of Michigan, pada tahun 1988, dalam bidang Islam dan Bahasa Arab.
Pandangan Prof. Amina Wadud mengenai nilai universal Islam sangatlah menarik, ketika beliau menjelaskan hubungan antara Allah, pria dan wanita. Tidak seperti sebagian besar masyarakat yang memaknai dalam Al Quran, bahwa wanita adalah warga kelas dua dalam tatanan dunia ini, beliau memaparkan dengan sangat jelas bahwa manusia apapun jenis kelaminnya, apapun latar belakangnya, mempunyai kedudukan yang setara. Dan diatas manusia hanyalah Allah. Jadi siapapun yang menganggap pemahaman diri atau kelompok mereka lebih benar dari yang lain, berarti mereka sedang bermain menjadi Allah. Dan beliau juga memaparkan inti ajaran yaitu tawhid, lengkap dengan sifat-sifat Allah yang termaktub dalam Al Quran, salah satunya adalah Allah adalah persatuan (Allah is united) dan mempersatukan (Allah unites). Sehingga dalam ajaran Islam, dalam arti yang sebenarnya yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah (engaged surrender), tidak ada titik temu agama-agama, karena semua agama diliputi oleh Allah dan tidak pernah ada keterpisahan antara agama-agama tersebut.
Dan perspektif Prof. Amina Wadud mengenai Indonesia juga sangat menarik. Dimana Indonesia, menurut Prof. Amina Wadud, sudah dikaruniai keberagaman, dapat mencontohkan kepada dunia, kehidupan yang harmonis ditengah keberagaman yang ada. Dan ketika seseorang hendak menghasut kita untuk menolak keberagaman dengan menggunakan dalih agama Islam, Prof. Amina Wadud meyakinkan kita bahwa kita punya pilihan yang lebih baik dari hanya sekedar diam, yaitu menolak dengan tegas. Karena kita telah mengetahui bahwa Islam yang sebenarnya tidak menolak keberagaman. Islam yang sebenarnya, seperti termaktub dalam Al Quran, sangat sarat dengan nilai universalitas dan spiritualitas. Berkali-kali, Prof. Amina Wadud menekankan bahwa kejahatan akan merajalela ketika orang baik berdiam diri.
Ketika sebuah pertanyaan muncul dari salah seorang peserta diskusi tentang bagaimana Prof. Amina Wadud berhadapan dengan kelompok garis keras, ketenangan dan kebijaksanaan beliau menjadi pilihan sikap beliau. Prof. Amina Wadud sadar bahwa apa yang dipahaminya tentang Islam berbeda dengan kelompok garis keras, dan apapun alasannya beliau dengan sadar tidak dapat memaksakan pemahaman itu kepada mereka. Namun tidak surut semangat beliau untuk terus berbagi kepada mereka yang mau mendengarkan pemahaman beliau.
Bapak Anand Krishna, yang juga berkenan hadir dalam diskusi ini, menegaskan kembali pentingnya untuk menolak dengan tegas pemahaman-pemahaman dalam Al Quran yang telah disalahgunakan demi kepentingan sebuah kelompok. Pentingnya penguasaan bahasa Inggris dan kemauan untuk menggali lebih dalam Al Quran dan literartur sejarah yang berkaitan, juga mejadi perhatian beliau.
Prof. Amina Wadud dan Bapak Anand Krishna, keduanya menekankan bahwa Islam adalah penyerahan diri dan ajaran Islam sarat dengan kedamaian dan universalitas.
Di akhir diskusi, Ibu Maya Safira Muchtar, ketua Yayasan Anand Ashram, menunjukkan video pre event dari Parliament of World’s Religions, yang akan diadakan di Melbourne, 3 – 9 Desember 2009, dimana Bapak Anand Krishna dan Ibu Maya Safira Muchtar akan menjadi duta besar pada event tersebut, membawa pesan One Earth, One Sky, One Humankind dan merayakan kesatuan dalam perbedaan. (Oming)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar