Senin, 27 Februari 2012

Budayawan Indonesia Jadi Juri Lomba Puisi di Banda Aceh

Serambi»Seni-Budaya»Budayawan Indonesia Jadi Juri Lomba Puisi di Banda Aceh


Budayawan Indonesia Jadi Juri Lomba Puisi di Banda Aceh
Jum`at, 03 Februari 2012 00:00 WIB
Banda Aceh - Budayawan Indonesia Hudan Hidayat dan Handoko F Zainsam bersama sastrawan Aceh Herman RN jadi juri Lomba Puisi Pulang Melawan Lupa, karya penyair Zhu terbitan Lapena. Event sastra di awal tahun ini dilaksanakan di Jambo Kupi Apa Kaoy Banda Aceh.

Ketua Lapena Helmi Hass, Jumat (3/2), mengatakan Hudan Hidayat adalah seorang esais dan novelis dari Jakarta. Huda, kata Helmi, kini mengelola "Sesudah sastra - Jurnal Sastra tuhan Hudan’, yaitu sebuah media yang menyediakan diri untuk sebuah permainan wacana dalam sastra.

“Hudan yang menjadi juri berpendapat bahwa tokoh sastra Indonesia dan dunia diletakkan ke dalam tingkatan yang sama dengan mereka yang menggeluti sastra. Bahwa dalam sastra orang berhak mendapatkan tempatnya yang sama,"ulangnya mengutip pernyataan Hudan.

Juri seorang lagi, kata Helmi adalah Handoko F Zainsam. Menurutnya, Handoko penggagas dan pendiri Komunitas Mata Aksara, Jakarta yang menulis novel “I’m Still A Woman–Perempuan Dalam Dua Tanda" Kurung serta beberapa buku lain.

Salah seorang juri Herman RN, penerima anugrah Cerpen terbaik Harian Kompas 2010, mengatakan lomba puisi tersebut diikuti 60 orang dari seluruh Aceh dan acara akan ditutup dengan peluncuran buku Puisi Pulang Melawan Lupa karangan Penyair Zhu dan pembagian hadiah untuk pemenang.

“Acara ini merupakan salah satu usaha para budayawan Aceh dalam membangun budaya dan peradaban bangsa, khususnya bidang sastra sekaligus menyambung kejayaan sastra Aceh yang dibangun oleh Syeh Hamzah Fanshuri,” kata Herman.[rel]
 
Serambi»Seni-Budaya»Tarian Aceh Meriahkan Malam Tahun Baru di Kalimantan


Tarian Aceh Meriahkan Malam Tahun Baru di Kalimantan
Minggu, 01 Januari 2012 00:00 WIB
Palangka Raya - Sejumlah generasi muda Indonesia dan Kanada yang tergabung dalam pertukaran pemuda ikut memeriahkan malam pergantian tahun 2011-2012 di Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, dengan menampilkan tarian Aceh "Likok Pulo", Minggu dinihari.

Penampilan pemuda-pemudi asal Indonesia dan Kanada di depan Wali Kota Palangka Raya HM Riban Satia, muspida dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta ribuan warga masyarakat yang memadati Bundaran Besar, pusat Kota Palangka Raya itu mendapat sambutan meriah.

Tarian "Likok Pulo" yang dimainkan 18 pemuda asal Indonesia dan Kanada itu memukau masyarakat Kota Palangka Raya. Mereka memberi aplus meriah setiap kali diselingi tarian kreasi anak muda yang diakhir tarian "go international", Saman Gayo.

Koordinator pertukaran pemuda Indonesia-Kanada, Edwar Juanda Rusydi mengatakan, tarian daerah "Lilok Pulo" yang ditampilkan pemuda-pemudi dua negara tersebut merupakan salah satu dari sejumlah jenis kesenian yang ditampilkan pada malam pergantian tahun di Palangka Raya.

"Tarian likok pula yang kami tampilkan malam ini untuk menghibur masyarakat dan mengisi malam pergantian tahun atas undangan pemerintah Palangka Raya. Kami juga menampilan sejumlah jenis tari daerah lainnya," kata Edwar didampingi koordinator asal Kanada, Susanna Tang.

Pemuda-pemudi asal Kanada yang baru dua minggu di Palangka Raya menampilan kemahiran seninya di depan ribuan masyarakat itu adalah David Murray, Patrick Jordan, Raphael Balce, Marc Desaulniers, Erin Zip, Megha Natsya, Stacy Wormell, Hilary Caldwell dan Danielle Johnston.
Sementara pemuda asal berbagai provinsi di Indonesia yang ikut memainkan tarian "Likok Pulo" itu adalah Dimas Setiawan, Yeremia, Fedriyanto Bayu, Dicky Pahlawan, Ni Ketut Sudiani, Renata Resalia, Jean Sooai, Wan Oktavia, dan Mercy Insorak.

"Mereka baru belajar, tapi berani tampil. Mereka tampil memukau meski mungkin masih jauh dari yang sebenarnya. Pemuda-pemudi dari dua Negara ini baru belajar beberapa minggu di Kanada, namun berani tampil walaupun belum sempurna," ujarnya.

Seorang penata tari "Likok Pulo", Wan Oktavia asal Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat ditemui usai menari mengatakan, penampilannya bersama teman-teman dalam tarian Aceh juga dilakukan saat transit di sejumlah negara ketika terbang dari Kanada ke Indonesia.

"Kami belajar sejumlah jenis tarian tradisional Indonesia di Kanada. Khususnya belajar tari Likok Pulo sekitar dua minggu. Kami juga menampilkan tarian likok pulo di bandara-bandara yang kami transit dalam perjalanan dari Kanada menuju Indonesia," katanya.[003]
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar