Sabtu, 25 Februari 2012

Inquiry Based Teaching (IBT)

Inquiry Based Teaching (IBT)

Rabu 15 Feb 2012 09:13 PM Alim Sumarno, M.Pd
a. Pengertian IBT
Inquiry adalah kata yang memiliki banyak makna bagi banyak orang dalam berbagai konteks yang berbeda. Dalam bidang sains, inquiry berarti seni atau ilmu bertanya tentang alam dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Inquiry dilakukan melalui langkah-langkah seperti observasi dan pengukuran, hipotesis, interpretasi, dan penyusunan teori. Inquiry memerlukan eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan terhadap kekuatan dan kelemahan metode yang digunakan (Hebrank, 2000). Pendapat senada dikemukakan oleh Budnitz (2003), yang mengatakan bahwa inquiry berarti mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab melalui justifikasi dan verifikasi.
Dalam bidang pembelajaraan, dikenal pendekatan pemelajaran yang disebut Inquiry-Based Learning (IBL) dan pendekatan pengajaran yang disebut Inquiry-Based Teaching (IBT). IBL adalah cara memperoleh pengetahuan melalui proses inquiry (Hebrank, 2000). Sementara itu, IBT adalah sebuah pendekatan pengajaran yang memandatkan guru untuk menciptakan situasi yang memposisikan pemelajar sebagai ilmuwan. Pemelajar mengambil inisiatif untuk mempertanyakan suatu fenomena, mengajukan hipotesis, melakukan observasi di lapangan, menganalisis data, dan menarik simpulan, serta menjelaskan temuannya itu kepada orang lain. Jawaban yang diharapkan atas pertanyaan tersebut tidak bersifat tunggal tetapi jamak. Yang penting adalah bahwa dalam mencari jawaban, pemelajar bekerja dengan menggunakan standar tertentu yang jelas sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dimungkinkan pemelajar mengintegrasikan dan mensinergikan berbagai disiplin ilmu dan/atau metode yang berbeda (Budnitz, 2003).
b. Manfaat IBT
IBT bermanfaat bagi pemelajar karena beberapa alasan sebagai berikut: (1) materi pelajaran yang dipelajari terkait dengan pengalaman sehari-hari pemelajar, yang kadangkala menimbulkan keingintahuan mereka; (2) IBT dapat membuat pemelajar aktif karena IBT meminimalisir metode ceramah; (3) IBT dapat mengakomodasi perbedaan perkembangan pemelajar; (4) metode penilaian pada IBT memungkinkan pemelajar memperlihatkan kompetensi dengan berbagai cara; (5) IBT dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran dan metode mengajar/belajar yang berbeda; (6) IBT dapat mengembangkan kompetensi komunikasi pemelajar karena mereka harus menyampaikan temuannya dengan cara yang mudah dipahami; (7) IBT dapat mengembangkan berpikir kritis pemelajar; dan (8) akhirnya, IBT dapat membuat pemelajar lebih mandiri (Hebrank, 2000).
Bagi guru, IBT dapat menciptakan kesempatan untuk mempelajari bagaimana pikiran pemelajar bekerja. Pemahaman tersebut dapat digunakan untuk menciptakan situasi belajar dan memfasilitasi mereka dalam memperoleh pengetahuan. Ketika menerapkan IBT guru dapat mengetahui : (1) kapan memberikan dorongan, (2) petunjuk apa yang dapat diberikan kepada setiap pemelajar, (3) apa yang tidak perlu diberikan kepada pemelajar, (4) bagaimana membaca perilaku pemelajar ketika mereka sedang bekerja, (5) bagaimana membantu pemelajar berkolaborasi dalam memecahkan masalah secara bersama-sama, (6) kapa pengamatan, hipotesis, atau eksperimen bermakna bagi pemelajar, (7) bagaimana mentolelir ambiguitas, (8) bagaimana memanfaatkan kesalahan (mistakes) secara konstruktif, dan (9) bagaimana membimbing pemelajar secara tepat (Budnitz, 2003).
Pembelajaran dengan pendekatan IBT juga dapat memberikan intake lebih baik. Magnesen (dalam Deporter, Reardon, dan Singer-Nourie, 2000) memberikan klasifikasi prosentase retensi pengetahuan berdasarkan metode belajar yang digunakan: 10% dari dari yang dibaca, 20% dari yang didengar, 30% dari yang dilihat, 50% dari yang dilihat dan didengar, 70% dari yang dikataakan, dan 90% dari yang dikatakan dan dilakukan. Menurut hemat saya, IBT sangat erat kaitannya dengan yang terakhir karena pemelajar harus melakukan inquiry dan menyampaikannya kepada orang lain, baik guru maupun koleganya.
c. Tahap-Tahap dalam IBT
Barman dan Kotar (1989) memberikan tahap-tahap inquiry dalam IBT sebagai berikut: eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Pada tahap eksplorasi, pemelajar bebas menemukan dan memanipulasi materi pelajaran. Pengajaran tentang konsep belum diberikan; oleh karena itu, pemelajar bebas bereksplorasi dan mengajukan pertanyaan dan/atau gagasan. Pemelajar, baik secara individu maupun dalam kelompok, melakukan observasi dan mencatat data. Guru berperan sebagai fasilitator – mengamati, mengajukan pertanyaan, dan memberikan saran. Tahap ini disebut tahap penemuan terbimbing (oleh guru).
Pada tahap pengenalan konsep, pemelajar, di bawah bimbingan guru, mengorganisasikan data yang telah dikumpulkan dan mencari pola yang muncul. Selanjutnya, mereka saling menyampaikan dan membandingkan temuannya dengan teman atau kelompok lain. Pada tahap ini guru dapat memberikan tambahan informasi yang berupa referensi atau sumber-sumber lain yang relevan. Selanjutnya pemelajar dapat melanjutkan pencariannya atau melakukan penguatan atas temuannya itu dengan cara membaca referensi tersebut dan mengkomunikasikannya kepada guru atau teman lain.
Pada tahap aplikasi konsep, pemelajar diberi permasalahan yang harus mereka pecahkan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui penemuan di lapangan dan membaca referensi. Pada tahap ini biasanya guru memberi aktifitas tambahan yang dapat memberi penguatan hasil belajar sebelumnya.
d. Tipe-Tipe IBT
Ada tiga tipe kegiatan pembelajaran yang dapat dijalankan dengan IBT: kegiatan rasional, kegiatan eksperimental, dan kegiatan penemuan (discovery). Pada kegiatan rasional, generalisasi dibuat melalui pemberian pertanyaan dan penguatan oleh guru. Langkahnya adalah: (1) Guru mengajukan pertanyaan atau memberikan permasalahan; (2) Guru memberikan referensi; dan (3) Pemelajar, melalui pertanyaan, diarahkan ke jawaban yang benar.
Pada kegiatan eksperimental, pemelajar menguji validitas suatu hipotesis. Langkahnya adalah: (1) Guru mengajukan persoalan; (2) Pemelajar mengajukan sejumlah variabel dan cara-cara untuk menguji efek setiap variabel; (3) Pemelajar dan guru merencanakan eksperimen; dan (4) Pemelajar melakukan eksperimen: mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik simpulan.
Pada kegiatan penemuan (discovery), pemelajar mengeksplorasi konsep secara langsung. Kegiatan ini meliputi tiga tahap: tahap belajar, inquiry terbimbing, dan inquiry mandiri. Pada tahap belajar, generalisasi dibuat melalui eksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan materi untuk eksplorasi, (2) Pemelajar menggunakan materi di bawah bimbingan guru; dan (3) Guru membantu menyimpulkan atas konsensus kelompok. Pada tahab inquiry terbimbing, pemelajar dibimbing melakukan eksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan persoalah dan memberikan referensi; (2) Pemelajar diberi kebebasan untuk bereksplorasi; (3) Pemelajar menguji hipotesis dan membuat simpulan sementara; dan (4) Guru membantu membuat simpulan berdasarkan konsensus kelompok. Pada tahap inquiry mandiri, pemelajar diberi kebebasan total untuk bereksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan materi eksplorasi; (2) Guru memberi petunjuk hanya dalam kaitannya dengan kesalamatan dan peralatan kerja; dan (3) Pemelajar melakukan eksplorasi berdasarkan kemampuan mereka sendiri.
Pustaka
  • Budnitz, Norman. (2003). “What do We Mean by Inquiry?” www.biology. duke.edu/cibl/inquiry/what_is_inquiry.htm>
  • Hebrank, Mary. (2000). “Why Inquiry-Based Teaching and Learning in the Middle School Science Classroom?” www.biology.duke.edu/cibl/inquiry/ why_is_inquiry.htm>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar