Senin, 20 Februari 2012

Membangun dan Merawat Integritas

Membangun dan Merawat Integritas

www.engr.usask.ca
Oleh Reza A.A Wattimena
Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya
Bangsa kita merindukan integritas, baik integritas batin pribadi, maupun integritas organisasi-organisasi yang menopang kehidupan publik. Dalam arti ini integritas dapat dipahami sebagai kesatuan antara kata dan tindakan, serta kekokohan prinsip di tengah pelbagai situasi yang terus berubah, dan menggoda untuk melepaskan prinsip. Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda sudah mampu membangun dan merawat integritas dalam diri anda?
Pada hemat saya, ada 6 langkah yang bisa diambil, jika kita sungguh ingin membangun dan merawat integritas di sekitar kita. 6 langkah ini saya dapatkan dari refleksi pribadi saya, sekaligus dari presentasi publik yang dilakukan oleh B.S Mardiatmaja pada bulan Januari 2012 di UNIKA Widya Mandala Surabaya. Tertarik? Saya akan jelaskan lebih jauh.
Ketegasan Visi dan Nilai
Langkah pertama membangun integritas adalah dengan menegaskan visi dan nilai hidup anda sendiri, ataupun visi dan nilai organisasi tempat anda berkarya. Ketegasan ini amat penting, karena visi dan nilai itulah yang akan membimbing anda mengarungi hidup yang penuh dengan perubahan ini. Visi dan nilai hidup membimbing anda, ketika mengalami kebingungan. Visi dan nilai itu pulalah yang menguatkan anda di tengah penderitaan yang seringkali tak bisa dihindarkan. Apa visi dan nilai-nilai hidup anda?
Langkah kedua adalah memilih tempat ataupun organisasi yang memiliki visi dan nilai yang kurang lebih sama sejalan dengan visi dan nilai hidup pribadi anda. Ini penting supaya anda bisa menjalani hidup yang bermakna di tempat anda bekerja atau berkarya, dan organisasi tempat anda berkarya bisa sungguh memberikan dampak sosial yang positif pada masyarakat luas. Apakah anda sudah bekerja di tempat yang memiliki visi dan nilai-nilai yang sejalan dengan visi dan nilai-nilai pribadi anda?
Saat ini visi pribadi saya adalah memberikan pencerahan publik. Artinya di manapun saya berada, saya berusaha untuk memberikan pencerahan pada orang-orang sekitar saya melalui tutur kata, perbuatan sehari-hari, maupun tulisan-tulisan yang saya rumuskan. Untuk mewujudkan visi itu, saya perlu untuk belajar terus sepanjang hidup saya, dan membangun relasi yang bermutu serta mendalam dengan berbagai kalangan. Maka saya perlu untuk banyak membaca, rajin bekerja, bersikap simpatik dan empatik pada orang lain, apapun latar belakangnya. Apa visi dan nilai-nilai hidup anda?
Harus saya akui, bahwa saya amat beruntung. Tempat saya sekarang berkarya (bukan hanya bekerja) memiliki visi dan nilai-nilai yang sejalan dengan visi dan nilai-nilai hidup saya pribadi. Ini membuat saya tetap bersemangat untuk berkarya, walaupun banyak kesulitan dan penderitaan di tengah jalan. Saya juga berharap organisasi tempat saya bekarya sekarang ini (Fakultas Filsafat UKWMS) mampu memberikan sumbangan nyata bagi masyarakat luas. Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah berkarya di tempat yang sejalan dengan visi dan nilai-nilai hidup anda pribadi?
Sosialisasi yang Gencar dan Berkelanjutan
Visi dan nilai-nilai hidup yang anda punya perlu anda tegaskan, dan jelaskan pada orang-orang sekitar anda. Tujuannya adalah supaya mereka mengerti di mana posisi anda di dalam hidup, dan apa visi hidup pribadi anda. Ini juga amat penting di dalam organisasi tempat anda berkarya. Visi dan nilai-nilai organisasi tersebut haruslah disosialisasikan secara intensif dan berkelanjutan kepada setiap orang yang ada di dalamnya, termasuk klien ataupun pelanggan. Jadi apakah anda sudah mensosialisasikan visi dan nilai-nilai hidup pribadi maupun organisasi tempat anda berkarya secara intensif dan berkelanjutan?
Komitmen saya pada pencerahan publik memang belum diketahui oleh semua rekan saya. Proses untuk menyatakan visi dan nilai-nilai hidup pada kerabat sekitar memakan waktu cukup lama, dan harus dilakukan pada kesempatan yang betul-betul tepat. Jika tidak, maka sikap ini akan dicap sebagai arogansi. Memang betul bahwa kita tidak perlu terlalu peduli pada omongan orang yang tak selalu bermutu. Namun tak mengindahkan pendapat publik juga dapat menjauhkan kita dari kesempatan untuk sungguh membangun hubungan yang bermutu dengan orang lain. Bagaimana menurut anda?
Visi dan nilai-nilai organisasi juga perlu untuk terus ditegaskan dan disebarkan secara intensif serta berkelanjutan pada semua pihak yang terkait dengan organisasi tersebut. Ini amat penting supaya orang-orang yang terkait dengan organisasi itu dapat terus ingat akan arti penting kehadiran dan partisipasi aktif mereka di dalam organisasi. Bagaimana pengalaman anda? Apakah organisasi anda telah mensosialisasikan visi dan nilai-nilainya secara intensif dan berkelanjutan? Apakah anda memahami arti penting kehadiran dan partisipasi anda dalam organisasi tempat anda berkarya?
Refleksi dan Revisi Berkala
Dunia ini terus berubah. Tidak ada yang abadi. Visi dan nilai-nilai hidup pun bukan sesuatu yang mutlak. Maka kita perlu untuk melakukan refleksi dan revisi berkala tentang visi maupun nilai-nilai hidup yang kita punya. Bagaimana menurut anda? Apakah anda melakukan refleksi dan revisi rutin pada visi maupun nilai-nilai hidup anda?
Hal yang sama berlaku untuk kehidupan organisasi. Apa yang berhasil di tahun lalu belum tentu berhasil untuk tahun depan. Maka organisasi perlu terus melakukan refleksi dan revisi atas visi maupun nilai-nilai yang dipegangnya. Ini semua nantinya akan berdampak pada strategi apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi organisasi tersebut. Setuju?
Saya rutin bertanya pada diri saya sendiri, apakah visi dan nilai-nilai hidup saya masih relevan untuk menanggapi perkembangan jaman sekarang ini secara bijak? Sampai sekarang saya masih yakin, bahwa visi dan nilai-nilai hidup saya masih amat relevan untuk jaman ini. Namun saya tetap terbuka pada kemungkinan, jika suatu saat saya harus mengubah visi dan nilai-nilai hidup yang kini saya pegang. Bagaimana pengalaman anda sendiri?
Dalam konteks organisasi hal yang sama juga diperlukan. Seluruh pihak di dalam organisasi harus melakukan refleksi rutin pada visi dan nilai-nilai yang mereka pegang, dan, jika perlu, melakukan revisi atasnya. Ini bukanlah tanda inkonsistensi, melainkan tanda keterbukaan dan kemauan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan jaman, sehingga bisa terus memberikan dampak positif pada masyarakat luas. Bagaimana menurut anda? Apakah organisasi tempat anda bekerja siap melakukan refleksi dan revisi berkala atas visi maupun nilai-nilai yang dipegangnya?
Kepemimpinan yang Melibatkan
Dalam konteks organisasi, integritas bisa diperoleh dengan menerapkan model kepemimpinan yang melibatkan. Pemimpin harus mampu menyentuh dan menggerakan hati orang-orang yang dipimpinnya untuk berpartisipasi secara aktif mewujudkan visi bersama organisasi. Hanya dengan pola ini, visi organisasi bisa tercapai, dan nilai-nilai organisasi bisa tetap dipertahankan. Apakah anda sudah menjadi sosok pemimpin yang melibatkan, atau masih menggunakan gaya birokrat yang asal perintah dan tak punya wawasan?
Saya amat jarang menemukan sosok pemimpin yang mampu melibatkan setiap orang di dalam organisasi untuk mencapai visi bersama dengan dipandu pada nilai-nilai yang dipegang oleh organisasi tersebut. Yang banyak ditemukan justru adalah pola kepemimpinan birokrat yang asal perintah, namun tak memiliki kejelasan visi, dan wawasannya sempit. Dengan pola pemimpin semacam itu yang tersebar di berbagai organisasi di Indonesia, baik organisasi privat maupun publik, tak heran, jika negara kita tidak maju sampai sekarang. Bagaimana menurut anda?
Struktur Organisasi yang Kokoh
Pola kepemimpinan yang melibatkan ini juga harus memiliki struktur organisasi yang cukup kuat untuk membuat visinya menjadi kenyataan yang bisa dirasakan banyak orang. Ketika berbicara tentang kreativitas, maka sosok pemimpin haruslah memiliki organisasi yang cukup kuat untuk membuat kreativitas tersebut sungguh menjadi atmosfer yang dirasakan organisasinya. Jika tidak ia akan dicap sebagai pemimpin yang omdo, yakni omong doank; banyak bicara, tetapi tak pernah menjalankan aksi nyata. Ya kan?
Di Indonesia saya mengalami sendiri, bagaimana hidup di bawah sosok pemimpin yang hanya bicara, tetapi tak ada aksi. Janji diumbar, namun hanya sedikit sekali yang sungguh menjadi nyata. Akhirnya banyak orang menjadi tak peduli pada urusan bersama, dan visi bersama pun menjadi tak jelas. Bagaimana pengalaman anda?
Di balik semua teori tentang integritas, yang sungguh dibutuhkan adalah kekuatan mental untuk memahami tujuan hidup pribadi, mampu memegang prinsip secara teguh, lepas dari semua godaan yang datang, dan bersikap terbuka pada pelbagai perubahan jaman. Integritas diri adalah kunci dari integritas organisasi. Keduanya berjalan searah tanpa bisa terpisahkan. Tidak ada integritas organisasi tanpa integritas orang-orang yang berada di dalamnya. Pertanyaan reflektifnya adalah, sejauh mana anda sudah berusaha membangun dan merawat integritas di dalam diri anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar