Minggu, 19 Februari 2012

Untuk Selamatkan Tari Tradisional Indonesia, Mungkinkah Adanya Perubahan

Untuk selamatkan tari tradisional Indonesia, mungkinkan adanya perubahan

oleh Marzuki Hasan
13 Januari 2012

Jakarta, Indonesia - Pada November 2011, Badan PBB Urusan Pendidikan, Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) secara resmi menambahkan Saman Gayo, sebuah tarian duduk dari daerah Gayo Lues, Aceh, dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Pelindungan Mendesak. Meski tradisi budaya Indonesia lainnya — termasuk batik dan wayang — telah pula diakui sebagai bagian warisan budaya dari Indonesia, Saman Gayo adalah yang pertama yang dinyatakan perlu adanya langkah-langkah mendesak untuk menyelamatkannya.
Selaku orang Indonesia dan pengajar tarian Aceh, saya bangga bahwa Saman Gayo telah diakui oleh UNESCO. Namun, saya juga khawatir bahwa alih-alih melestarikan tarian ini tetap hidup, status baru Saman Gayo malah secara tidak sengaja akan membuatnya mandeg dan merosot jika hanya diasosiasikan dengan waktu dan ruang sejarah yang spesifik, dan bukannya menjadi sebuah tradisi hidup yang bisa menghubungkan banyak kelompok orang.
Saman Gayo dipentaskan oleh sekelompok laki-laki yang duduk dalam barisan rapat yang melakukan gerak tangan dan badan bagian atas secara serentak dan diiringi oleh nyanyian. Saman Gayo berbeda dari tari-tarian duduk yang lain karena ditampilkan dengan menggunakan bahasa dan kostum Gayo, dan bukannya bahasa dan kostum Aceh pesisir. Di Indonesia, tarian-tarian semacam ini sering kali memasukkan tema-tema Islami dalam lirik lagu mereka.
UNESCO beralasan mengapa Saman Gayo sangat mendesak diselamatkan karena menurunnya jumlah para tokoh yang memiliki pengetahuan tentang Saman Gayo, langkanya para penari terampil, dan kurangnya dana untuk pementasannya – yang semuanya berakibat pada menurunnya frekuensi pementasan tari ini.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mendukung prakarsa ini dan November lalu mengatakan: “Kita khawatir bahwa jika [Saman Gayo] tidak segera didaftarkan, bangsa lain mungkin akan mengklaimnya sebagai milik mereka [...] Untuk mencegah [ini], tari ini harus segera didaftarkan, dilindungi dan dipromosikan.” Kendati Ibu Menteri ingin Saman Gayo diakui dan dilindungi, ia juga berkepentingan agar Saman Gayo diakui sebagai milik khas Indonesia.
Saya mempertanyakan pemikiran bahwa agar suatu bentuk seni tetap menjadi tradisi yang hidup, ia harus dibatasi ke suatu kawasan atau seperangkat aturan. Justru, purisme ini bisa mengakibatkan kemandegan, penurunan dan akhirnya kepunahan tradisi budaya.
Kalau kita melihat Saman Gayo dalam konteks tari Aceh yang lebih luas, kita menemukan dua tari duduk dari Aceh – Saman Gayo dan Ratoh Duek – yang daerah asalnya hanya berjarak beberapa puluh kilometer, namun menempuh jalur yang sangat berbeda. Tidak seperti Saman Gayo, kesuksesan dan popularitas di tingkat dunia dari tari Ratoh Duek, yang umumnya ditampilkan dalam bahasa Aceh oleh para perempuan, tidak tergantung pada status internasional khusus apa pun, tetapi pada popularitasnya di tingkat akar rumput.
Sejak tahun 1960-an, tari-tari duduk dari Aceh, termasuk Saman Gayo, telah dipentaskan di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan dan Yogyakarta. Namun, Ratoh Duek menjadi yang paling populer dan paling luas dipentaskan karena adanya dukungan dari para seniman Aceh, sekolah-sekolah, kampus-kampus, LSM-LSM dan pemerintah. Tetapi popularitas ini terutama adalah karena daya tarik tarian ini bagi anak muda, yang telah menjadikan tarian ini suatu kegiatan ekstrakurikuler yang populer di seantero Indonesia. Selain itu, popularitasnya tidak terbatas di Indonesia. Berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan internasional telah mengkajinya, sering kali dengan datang ke Indonesia untuk belajar dari guru-guru lokal.
Salah satu kunci popularitas Ratoh Duek adalah keterbukaan tarian ini pada hibridisasi. Kostum, lagu dan variasi gerakan yang baru telah dimasukkan ke dalam penampilan tarian ini yang mencerminkan nilai-nilai global, serta pergeseran para penampil tari yang tidak lagi hanya perempuan. Ratoh Duek mengekspresikan pesan-pesan juga Islami dalam lirik-lirik lagunya, tetapi daya tarik utamanya adalah fokusnya pada harmoni dan kerja tim. Bahkan, Ratoh Duek telah menjadi begitu populer karena sekarang juga diperagakan oleh non-Muslim, sesuatu yang langka di dunia yang terkotak-kotak seperti sekarang.
Ratoh Duek telah terbukti menjadi sebuah kekuatan pemersatu. Sebelum bermigrasi ke luar Aceh, tarian ini menjadi sarana kegiatan bersama di mana orang-orang dari keluarga, kampung atau status sosial yang berbeda sama-sama berpartisipasi. Kini, anak muda dari latar belakang etnis, jender, agama dan negara yang berbeda duduk berdampingan dan menampilkan tarian ini di panggung-panggung di seluruh dunia.
Orang-orang yang khawatir bahwa Saman Gayo “terancam” dan perlu segera diselamatkan semestinya belajar dari Ratoh Duek, yang tidak saja telah “dilestarikan” tetapi juga telah berkembang, sebagian besarnya dengan menjadi terbuka terhadap perubahan. Kalau kita benar-benar ingin memastikan hidup dan langgengnya Saman Gayo, kita harus memungkinkan salah satu tradisi besar Indonesia ini untuk menyesuaikan diri.
###
* Marzuki Hasan ialah dosen di Institut Kesenian Jakarta. Ia juga seorang penyanyi, penari dan koreografer yang mengajarkan banyak tarian Aceh selama lebih dari 50 tahun. Berbagai contoh tari Saman Gayo bisa dilihat di sini.
Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Januari 2012, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar