Senin, 27 Februari 2012

Jathilan Perlu Dikemas Modern

Jathilan perlu dikemas modern

Sabtu, 25 Februari 2012 14:07 WIB | 1347 Views
Sejumlah warga unjuk kebolehan menampilkan kesenian tradisional Jathilan pada acara Gelar Potensi Desa di Desa Pokoh, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Senin (26/9). Gelar potensi desa yang diisi berbagai macam acara seperti Gejlok Lesung, tari tradisional Jathilan tersebut juga merupakan rangkaian kegiatan pencanangan desa ramah anak. (ANTARA/Noveradika)
Kelompok jathilan yang ada di Kota Yogyakarta cukup banyak, ada sekitar 30 kelompok. Kelompok-kelompok ini memerlukan peningkatan kualitas tampilan sehingga atraksi yang ditampilkan pun terus terlihat menarik.

Video Terkait




Yogyakarta (ANTARA News) - Kesenian tradisional jathilan yang hingga kini masih terus tumbuh berkembang di tengah masyarakat perlu melakukan inovasi salah satunya dikemas sebagai kesenian tradisional yang mampu tampil modern sehingga tetap diminati masyarakat.


"Kelompok jathilan yang ada di Kota Yogyakarta cukup banyak, ada sekitar 30 kelompok. Kelompok-kelompok ini memerlukan peningkatan kualitas tampilan sehingga atraksi yang ditampilkan pun terus terlihat menarik," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Yulia Rustiyaningsih di Yogyakarta, Sabtu.

Oleh karena itu, lanjut Yulia, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta kemudian mengajak kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) disertai dengan melihat secara langsung penampilan kelompok jathilan Rewe-Rewe yang menjadi pemenang dalam Festival Jathilan Provinsi DIY pada 2010.

Ia menegaskan, kesenian tradisional jathilan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan karena pada dasarnya memiliki atraksi yang menarik sehingga bisa menjadi salah satu atraksi wisata di Yogyakarta.

Tetapi, lanjut dia, potensi dalam kesenian jathilan tersebut perlu terus dikembangkan dengan melakukan perbaikan terhadap berbagai segi pendukung, di antaranya kostum, tata rias penari, tata gerak, komposisi musik termasuk manajeman dalam kelompok jathilan itu sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Budi Santoso mengatakan, dengan melihat secara langsung penampilan grup Rewe-Rewe dari Kabupaten Bantul tersebut, maka peserta diharapkan bisa mengambil pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya atraksi jathilan ditampilkan.

"Nantinya, mereka bisa mengetahui, perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kelompok jathilan mereka," katanya.

Sementara itu, pemerhati kesenian tradisional yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) N. Gandung Djatmiko mengatakan, pengembangan jathilan sangat diperlukan.

"Namun, pengembangan kesenian ini tetap harus berpegang pada akar tradisi lokal atau pun nasional," katanya.

Ia mengatakan, banyak kelompok jathilan yang justru melakukan pengembangan dengan menambahkan unsur-unsur budaya di luar budaya Indonesia, salah satunya dalam elemen musik dengan memasukkan alat musik modern seperti keyboard dan drum.

"Padahal, masih banyak alat-alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk pengembangan kesenian ini dan rasanya akan lebih cocok," lanjutnya.

Selain itu, kesenian jathilan yang banyak diilhami oleh cerita-cerita panji itu pun perlu mengikuti perkembangan zaman, termasuk durasi waktu pementasan.

"Jika dulu pentas jathilan memakan waktu cukup lama, maka kini perlu dipersingkat karena memang zaman yang terus berkembang," katanya.

Namun demikian, ia menilai, unsur "ndadi" (pemain kerasukan roh dan kemudian memakan pecahan kaca), masih diperlukan jika jathilan itu dipentaskan untuk keperluan hajatan.

"Tetapi, jika untuk kepentingan festival atau pentas saja, maka hal itu sudah tidak diperlukan. Semua harus menyesuaikan kondisi," katanya.
(E013)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar