Senin, 27 Februari 2012

Salam World (Penetrasi Budaya Islam)

Din Syamsuddin harapkan 'Salam World' mampu aktualisasi potensi islam

Selasa, 14 Februari 2012 06:46 WIB | 1518 Views
Sosial media, Salam World, rencananya akan dirilis bulan Ramadhan tahun ini. (istimewa)
Bulan Ramadhan tahun ini, Salam World akan diluncurkan dengan harapan bisa segera menjadi rumah semua kelompok Islam yang tersekat tempat, waktu, budaya serta bahasa.

London (ANTARA News) - Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengharap "Salam World", jejaringan Islam mampu mengaktualisasikan potensi-potensi Islam yang selama ini terpendam.


Harapan itu disampaikan oleh Din Syansuddin dalam acara Salam World Inaugural Global Summit di Ciragan Palace, Istanbul, demikian Muhamad , pejabat Salam World dalam keterangannya yang diterima ANTARA News London, Selasa.

Dalam acara tersebut hadir beraneka tokoh muslim yang dating dari berbagai negara diantaranya dari Amerika, Kanada, Yaman, Rusia, Jerman, Malaysia, Saudi Arabia, Kuwait, Libya, Polandia, Kazakhstan, termasuk Indonesia.

Din Syamsuddin lebih lanjut menyarankan agar Salam World meninggalkan hal-hal yang bersifat formal dan mengedepankan substansi dan melahirkan produk yang kompetitif. "Saya harap Salam World mampu mengaktualisasikan potensi-potensi Islam yang selama ini terpendam," ujarnya.

Selain Din Syamsuddin selaku executive board Salam World melakukan pertemuan khusus dengan pimpinan Salam World juga hadir KH. Said Agil Siroj .

Menurut Muhamad, Istanbul tempat pertemuan tersebut bagaikan perlombaan pidato, banyak tokoh muslim dari berbagai ujung dunia memberikan dukungan untuk Salam World. Mereka juga memberikan masukan apa saja yang harus diperhatikan agar usaha jejaring Islam itu sukses.

Tidak hanya itu, beberapa selebritas Islam juga hadir seperti Sammy Yusuf dan Riz Khan.

Abdul Vakhed Niyazov, Chairman of Salam World kembali menegaskan tekad timnya untuk mengisi kekosongan media sosial bernuansa Islam bagi 1,5 milyar muslim di atas dunia.

Ia berjanji, bulan Ramadhan tahun ini, Salam World akan diluncurkan dengan harapan bisa segera menjadi rumah semua kelompok Islam yang tersekat tempat, waktu, budaya serta bahasa.

Sementara itu Mahathir Muhamad dalam sambutannya menegaskan kebutuhan media sosial (jejaring sosial) bagi umat Islam saat ini sudah tidak dapat ditunda lagi.

Bila hanya mengikuti media sosial yang ada maka dampaknya relatif negatif. "Karena itu saya bersedia ikut terlibat dan mendukung lahirnya Salam World," ujarnya.

Ketua PB NU, Said Aqil Siroj menandaskan bahwa Islam bukan hanya agama yang membicarakan soal surga dan neraka. Islam juga merupakan agama yang terkait dengan ekonomi, teknologi, politik dan budaya.

Karenanya, orang Islam juga harus memiliki kemampuan dalam bidang IT.

Dipesankan agar Salam World mengedepankan tekonologi tinggi dan menebar keharmonisan. Tidak boleh menabur kebencian apalagi teorisme.

Nihad Awad, Chairman of Council of American-Islamic Relations berharap Salam World dapat mengembalikan identitas umat Islam.

Mirip dengan itu, wakil dari Kuwait meminta agar jejaring sosial yang akan lahir tersebut dapat menjadi agent of change sehingga bersifat aktif bagi penggunanya.

Semua pembiaca menyampaikan dukungannya dalam acara Inaugural Summit yang dihelat di pinggir Selat Bosporus tersebut diakhiri dengan hiburan dari Sammy Yusuf dari Inggris.

(ZG)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012

Wartawan "gemar" memposting kegiatan kerja

Jumat, 17 Februari 2012 17:13 WIB | 1855 Views
Ilustrasi (wisc.edu)

Video Terkait




Jakarta (ANTARA News) - Lebih banyak jurnalis yang suka mengabarkan kegiatan kerja mereka, demikian hasil survai yang dilakukan Dewan Pers tentang penggunaan konten media sosial oleh jurnalis.


"Sebanyak 41 persen responden untuk memposting pesan tentang informasi kegiatan kerja yang sedang dilakukan di jejaring sosial, sedangkan 40 persen menginformasikan berita menarik di medianya," kata Uni Lubis, anggota Dewan Pers, dalam penyampaian hasil survei di Jakarta, Jumat (17/2).

Selanjutnya, 32 persen responden memilih jawab memposting pesan tentang perasaan mereka (informasi personal), dan tujuh persen memposting kritik sosial atas kebijakan publik.

Survei tersebut bertujuan mengetahui kecenderungan penggunaan konten media sosial dalam peliputan dan produksi berita oleh jurnalis atau media.

"Survei diselenggarakan 29 November 2011 hingga 3 Februari 2012 yang melibatkan 157 responden yang porsi terbesar berada di Jakarta, 45 persen responden," kata Uni.

Kecenderungan pers di era digital yang akan terdesentralisasi, bersifat seketika (real-time), dan bersinergi dengan jurnalisme warga melatarbelakangi penyelenggaraan survei Dewan Pers itu. (I026)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar