Jumat, 17 Februari 2012

Kearifan Lokal Jawa Bukan Syirik

Kearifan Lokal Jawa Bukan Syirik

 Selasa, 27 Desember 2011 04:40:01 - oleh : admin
Kearifan Lokal Jawa Bukan SyirikKEANEKARAGAMAN budaya Jawa sering dinilai syirik.
Sebagian kalangan menganggap penilaian ini membabi buta, karena
sebetulnya banyak yang bisa diluruskan. Kandungan nilai yang bisa diurai
secara ilmiah, sangat besar. Termasuk di dalamnya urusan keanekaragaman
hayati atau biodiversitas.

"Mestinya kita bisa memahami dari sisi tanggap ing sasmita, tanggap sasmitaning zaman, karena semua konsep budaya itu, bernilai dan bermakna sangat
dalam. Bukan sekadar vonis syirik semata," kata Prof Dr Sugiyarto MSi,
saat pengukuhan sebagai guru besar UNS ke 146.

Dia dikukuhkan
sebagai guru besar bidang ilmu Biologi MIPA. Namun demikian,
keseriusannya mengamati keanekaragaman budaya Jawa, menjadikannya banyak
mengupas berbagai fenomena budaya yang selama ini muncul di masyarakat.

Rektor
Prof Ravik Karsidi sempat memuji hal ini. Sebab sedikit ilmuwan yang
memiliki komitmen pada budaya. Apalagi ini justru datang dari ilmuwan
yang berlatar belakang bidang MIPA, khususnya Biologi. "Banyak yang
bertanya, Pak Giyarto ini sebetulnya guru besar bidang budaya apa
biologi? Tapi inilah uniknya ilmu pengetahuan. Sisi manapun bisa
ditelaah dari sisi keilmuan," kata dia.

Lebih uniknya, profesor
yang memilih disebut Profesor Ndesa, karena tinggal di lereng Merapi,
Desa Kadilaju, Klaten itu ternyata pencipta lagu keroncong. Sudah 70
lagu diciptakan. "Saya menunggu, kapan diberi kaset rekaman
lagu-lagunya. Saya kira ini menarik karena Prof Giyarto menyeimbangkan
otak kanan dan otak kiri secara bagus," katanya.

Dalam pidatonya,
Bapak berputra delapan ini mencontohkan adalah berbagai upacara tradisi
yang digelar di berbagai daerah. Setiap upacara baik perkawinan,
kehamilan, tingkeban, kelahiran, sunatan, sampai kematian, membutuhkan ubarampe berbeda-beda. Semua berkaitan dengan keanekaragaman hayati.

Perlambang


Kalau
disikapi secara syirik, tentu karena setiap ubarampe itu mengandung
makna dan perlambang kekuatan atau permohonan. Namun dari sisi ilmiah,
sebetulya menunjukkan upaya mengenalkan, mensifati, menilai, dan menjaga
eksistenti serta melestarikan biodiversitas itu. Baik spesies hewan,
varietas tanaman, kultivar, dan galur.

"Ada lagi pranata mangsa
yang mengatur tata tanam, sabuk gunung yang mempraktekkan terasering,
pengelolaan pekarangan rumah dengan sistem agroforestri, yang oleh
pujangga Ranggawarsita sudah dibuat tembangnya," kata dia yang lahir 30
April 1967 ini.

Wis tiba mangsa labuh, wus wayahe padha ulur
jagung, kanggo jagan sadurunge panen pari, prayogane uga nandur, mbayung
bayem lombok terong.
Itu salah satu bait tembang karangan Ranggawarsita yang menawarkan sistem tanam padi, padi, palawija.

"Sayang,
tuntutan produksi menjadikan petani kita tidak lagi mengindahkan soal
itu. Mereka pedomannya menanam padi, pari, pantun. Tiga mangsa tani itu,
harus ditanami padi untuk menggenjot produksi. Akibatnya tanah rusak,
struktur tanah hancur karena dipaksa. Tanaman memunculkan hama tanaman
yang mendapatka lahan berkembang," tandasnya.

Ada lagi tradisi
jejamu atau meminum jamu yang dibuat sendiri oleh masyarakat. Itupun
secara ilmiah sebetulnya mendorong orang jawa melestarikan konservasi
biodiversitas sanat luar biasa. Indonesia dikenal memiliki ragam tanaman
obat yang sangat besar.

Juga pekaliran pewayangan yang selalu
diawali dengan adegan tancep kayon (gunungan) dan diakhiri dengan tancep
kayon lagi. Bahkan di sela-sela adegan, selalu dimainkan gunungan itu.
Artinya, manusia hidup di alam, dan dibatasi dengan adanya alam raya
yang harus dilestarikan. Termasuk pelestarian Kiai Slamet, kebo bule
yang dirawat dengan baik oleh Keraton.

Kalau dimaknai syirik,
mistik, hanya akan berhenti sampai di situ saja. Namun jika dimaknai
pendekatan nalar, sebetulnya kawasan Surakarta ini adalah kawasan
agraris, pertanian. "Lambang kebo bule itu mendorong pelestarian hewan
yang berguna untuk menggarap ladang. Sayang manusia terlalu sombong
dengan menggantikan kerbau dengan mesin, sehingga biodiversitas makin
habis dan tidak dimaknai," kata dia.

(Joko Dwi Hastanto/CN27)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar