Jumat, 17 Februari 2012

Macapat dan Bentuk Komunikasi Sosial

Macapat Dan Bentuk Komunikasi Sosial

Keberadaan tembang macapat sebagai media tradisional atau kesenian tradisional, apabila memiliki unsur-unsur komunikasi, maka dapat disebut komunikasi tradisional. Demikian pula keberadaan tembang macapat sebagai alat penyampai pesan- pesan sosial dari pusat perkembangannya di keraton, yang ditujukan kepada masyarakatnya, dapat dikatakan sebagai komunikasi sosial. Dan keberadaan tembang macapat yang sudah menggunakan media massa, maka dapat dikatakan sebagai komunikasi massa.
Namun untuk mempermudah penjelasan diatas, maka tembang macapat terlebih dahulu dibahas sebagai komunikasi sosial. Karena cakupan komunikasi sosial lebih luas dibanding kedua bentuk komunikasi tersebut

Komunikasi Sosial
Manusia sebagai mahluk sosial, tidak terlepas sebagai pelaku komunikasi. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Namun untuk mengaktualisasikan kebutuhannya itu ia memerlukan cara. Dengan komunikasilah maka manusia dapat menyatu dalam kehidupan sosialnya.
Hakekat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain yang menggunakan bahasa verbal maupun non verbal. Pikiran dan perasaan itu disampaikan oleh komunikator kepada komunikan selalu bersatu padu. Oleh karena itu dalam komunikasi selalu ada tujuan untuk menjadi satu atau menyamakan pendapat atau informasi.
Astrid S. Susanto mendefinisikan komunikasi sosial sebagai berikut,
“ Komunikasi sosial adalah suatu kegiatan komunikasi yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu integrasi sosial.” ( Susanto, 1985 : 1 )
Dari pernyataan diatas , dapat diketahui bahwa tujuan komunikasi sosial yang harus dicapai yaitu integrasi sosial. Sedangkan menurut Ashadi Siregar ( 1985 : 8 ), yang menjadi tujuan komunikasi sosial adalah realitas sosial.
Integrasi sosial, menurut Astrid tersebut, lebih dikarenakan titik pangkal dari suatu komunikasi sosial adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seiya sekata tentang materi yang akan dibahas dalam kegiatan komunikasi yang akan dilangsungkan. Melalui komunikasi sosial terjadi aktualisasi dari masalah-masalah yang dibahas. Oleh karena itu secara tidak langsung, komunikasi sosial adalah sekaligus suatu proses sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup sosial seperti, stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh masyarakat, dari suatu kelompok sosial akan terjamin.
Tembang macapat yang pada masa Surakarta awal mengalami zaman keemasan, lebih disebabkan oleh adanya persamaan pendapat tentang materi atau isi pesan yang dikandungnya. Nilai-nilai atau norma-norma yang membawa keberadaan kehidupan sosial menjadi tertib namun dinamis. Selain itu, tembang macapat juga merupakan cara para raja, bangsawan ataupun pujangga keraton untuk mengajak masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai kebudayaan mereka, selain loyalitas juga, dari pengaruh kebudayaan kolonial yang pada saat itu amat merugikan.
Penetrasi kebudayaan asing akibat besarnya pengaruh kolonial pada kekuasaan keraton bukan hanya dibidang politik dan ekonomi saja. Para bangsawan yang merasa cocok dengan gaya pergaulan barat, mengikutinya, dan perlahan-lahan meninggalkan kebudayaan nenek moyang. Para bangsawan dan kaum ningrat yang prihatin atas kejadian tersebut, berusaha mempertahankan niali-nilai kebudayaan mereka melaui cara yaitu kesenian dan kebudayaan. Melalui kesenian tembang macapat, maka pihak keraton mencoba menyampaikan pesan-pesannya, baik kepada lingkungan keraton itu sendiri maupun masyarakat luas terutama masyarakat keraton jawa. Proses yang terjadi inilah dapat dikatakan komunikasi sosial.
Ada empat fungsi komunikasi sosial menurut Schramm yang dikutip dan dijelaskan oleh Ashadi Siregar ( 1985 : 21 ), yaitu,
1.Fungsi Radar Sosial, yaitu memberikan informasi terkait dengan peristiwa yang berhubungan dengan komunitas sosialnya.
2.Fungsi Manipulatif atau Manajemen, yaitu kegiatan komunikasi untuk mengatur atau alat untuk mengendalikan komunitasnya.
3.Fungsi Instruktif, yaitu kegiatan komunikasi untuk menyampaikan pengetahuan atau pendidikan untuk generasi baru untuk dapat hidup dalam masyarakat atau komunitasnya.
4.Fungsi Hiburan, merupakan kegiatan komunikasi yang memberikan dunia alternatif bagi anggota komunitas.
Dari keempat fungsi komunikasi sosial diatas, tembang macapat mampu melakukan keempat fungsi tersebut. Sebagai radar sosial, macapat memberikan informasi keadaan masyarakat pada masa itu seperti yang didapat pada Serat Kalatidha. Sebagai fungsi manipulatif, masyarakat diberikan pengarahan-pengarahan oleh pihak keraton. Sebagai funsi instruksi masyarakat diberikan wejangan-wejangan seperti yang didapat pada Serat Wedatama. Sebagai fungsi hiburan, Macapat yang hadir sebagai kesenian telah memberikan nilai-nilai yang sakral dan magis, berkaitan dengan kebahagiaan hidup. 
 
 

Macapat Sebagai Suatu Pesan

Pesan merupakan suatu unsur terpenting dalam suatu proses komunikasi. Karena pesan adalah suatu materi yang dimiliki oleh sumber atau komunikator untuk ditujukan kepada orang lain sebagai komunikan. Materi yang dibagikan haruslah sesuai dengan kebutuhan komunikan, memberi manfaat dan keuntungan. Seperti apa yang dikutip oleh Astrid S. Susanto dari Skinner, yakni :

“ Komunikasi akan berlangsung selam orang merasa ada keuntungan yang diperoleh dari suatu komunikasi, yakni baik keuntungan secara materi maupun non materi “ ( Susanto, 1987 : 41 )

Adapun pesan itu sendiri, sebagai bahan materi dari komunikator kepada komunikan, merupakan penghubung antara kedua unsur komunikasi tersebut.
Mortensen menyatakan pesan adalah,

“ Satuan perilaku apapun berfungsi menghubungkan para anggota komunikasi.” ( Rahmat, 1986 : 365 )



Clevenger dan Mathews mendefinisikan :
“ Pesan merupakan peristiwa simbolis yang menyatakan suatu penafsiran tentang kejadian fisik baik itu oleh sumber maupun penerima. ”
( Rahmat, 1986 : 370 )
Dari pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam suatu pesan menyangkut masalah prilaku baik itu dalam bentuk pengungkapan pesan maupun penafsiran tersebut. Selain itu pesan merupakan penghubung antara anggota komunikasi yaitu yaitu komunikator maupun komunikan.
Pesan dalam suatu proses komunikasi sangat berpengaruh dalam keberhasilan komunikasi. Menurut Onong, pesan dapat membangkitkan tanggapan dari komunikan jika,
-. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
-. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama- sama dimengerti.
-. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi sasaran dan menyarankan beberapa cara untuk memeperoleh kebutuhan tadi.
-. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana sasaran berada pada saat ia digerakan untuk menumbuhkan tanggapan yang dikehendaki ( Effendi, 1973 : 53 )

Pemberian pesan yang logis mempunyai maksud agar memudahkan interprestasi akan isi pesan pada diri komunikan. Denagn demikian akan terjadi persamaan antara maksud komunikator dengan interprestasi pesan oleh komunikan. Samanya maksud komunikator dan komunikan dalam menerjemahkan pesan akan memperlancar tujuan dilakukan dalam suatu komunikasi atau pesan tersebut.

Dalam tembang macapat terkandung tujuan berwujud pesan. I Made Purna mengungkapkan bahwa :
“ Berbagai makna dan suasana yang tersirat dihantarkan oleh tembang macapat untuk menyampaikan pesan atau amanat yang terkandung. Kandungan pesan yang tersusun dalam bentuk ikatan kata yang hangat dan akrab tanpa mengabaikan kaidah atau patokan yang berlaku “
(Purna, 1997 : 8 )
Kemudian ia menambahkan,
“ Segala pesan yang tersampaikan dengan sarana macapat termuat didalam berbagai bentuk penyajian, ditunjang oleh beberapa unsur-unsur yang bersifat melengkapi dan memperindah. Dengan segala bentuk penyajian, macapat mampu menyampaikan pesan dan berkomunikasi antara penulis dan pembaca serta mampu ber interaksi. “ ( Purna 1997 : 10 )

Jadi dalam penyampaian pesan pada tembang macapat dibentuk dalam suatu ikatan kata sesuai kaidah dan patokan yang berlaku. Dimana dibuat dalam bentuk hangat dan akrab yang lekat dengan daya keindahan sebagai suatu kesenian dan sebagai suatu proses komunikasi.
Menurut Teeuw yang dikutip oleh Laginem, menurut konsep semiotik, karya sastra dianggap sebagi suatu otonom dan komunikatif (Laginem, 1995 : 6 ). Komunikatif diartikan bahwa karya sastra diletakkan pada model komunikasi. Dalam model komunikasi terdapat unsur komunikator (penyampai), message (pesan), komunikan (penerima). Komponen-komponen itu dengan fungsinya masing-masing dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai konsep dalam macapat. Misalnya, dalam menjelaskan berbagai konsep sejarah macapat, antara lain, perlu dihubungkan dengan komponen pencipta macapat (komunikator), macapat (sebagai pesan) dan pembaca (sebagai komunikan).
Sebagai suatu pesan, macapat mempunayi ciri dan amakna sendiri-sendiri sesuai tujuan yang dimaksudkan. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap satu serat tembang macapat mempunyai tujuan dan makna tersendiri serta berbeda satu sama lainnya yang secara langsung membuat pesan yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan maksud penciptanya.
Hal ini dapat dijelaskan melalui penjabaran singkat tentang pesan yang dikandung dalam serat-serat dibawah ini.

1.Serat Wulanreh
Isi serat ini cenderung ditujukan para pemuda. Didalamnya terdapat pesan tentang kewaskithaan, kepekaan terhadap tanda-tanda, kejujuran dan kesabaran, rasa hormat dan sebagainya.
2.Serat Tripama
Isi pesan serat ini disampaikan melalui perlambang atau penampilan tokoh pewayangan sebagai contoh atau simbol. Ada tiga tokoh yang menjadi contoh yaitu Bambang Sumantri atau Patih Suwanda dari epos Arjuna Sastrabahu, Kumbakarna dari epos Ramayana dan Adipati Karna atau Basukarna dari epos Mahabarata. Sesuai dengan ketiga contoh tersebut, isi pesannya merupakan tauladan keksatriaan yang patut dicontoh.
3.Wirawiyata
Isi pesan ini ditujukan kepada prajurit karena menyangkut masalah ajaran keprajuritan. Hal yang terkandung berupa janji prajurit, kedisiplinan, ketaatan, ketakwaan, ketidaksombongan, dan ketidaksewengan.
4.Serat Panitisastra
Pokok-pokok ajaran atau pesan yangterdapat dalam karya itu adalah adat istiadat, sopan santun, nilai karta dan derma, tenggang rasa, pendidikan anak sebagai pendukung nilai sosial orang tua dan sanak saudara, ilmu pengetahuan untuk mempertebal ketakwaan kepada Tuhan.
5.Wulang Estri
Isi pesan dalam serat ini ditujukan bagi wanita yang akan memasuki hidup berumah tangga. Agar kehidupan rumah tangganya baik, sejahtera lahir batin, seorang isteri harus tahu tentang aturan rumah tangga, tahu watak atau sifat suami, teliti, dan tidak boleh mendahului kehendak suami apabila sikap lebih kuasa. Ajaran ini di simbolkan dengan Dewi Adaniggar dari Cina, Putri Raja Ternate, Dewi Citrawati dan lima jari tangan. Simbol-simbol itu diberikan gambaran tentang kegagalan kegagalan dan keberhasilan berumah tangga.
6.Candra Rini
Isi pesan ini adalah ajaran moral bagi kaum wanita dalam hibup berumah tangga. Konsep ajaran yang tertuang berupa deskripsi sifat, watak, prilaku istri Arjuna agar menjadi contoh dan ditauladani oleh kaum wanita. Istri Arjuna yang menjadi simbol adalah Sumbadara, manuhara, Ulupi, Gandawati, Srikandi, Manikarja, Maeswara, Rarasati dan Sulastri.
7.Serat Dumbasawala
Serat Dumbasawala berisi ajaran atau pesan yang diharapkan menjadi sauri tauladan bagi warga kraton Surakarta waktu itu. Isi pesan itu terutama pada masalah kepahlawanan (keprajuritan), Etika ( tingkah laku ), religiusitas (ketuhanan ) dan sosial.
Dari hal diatas maka dapat diperjelas bahwa dalam tembang macapat, suatu pesan dapat diketahui isi dan ditujukan kepada siapa pesan tersebut.


Macapat Dan Bentuk Komunikasi Massa

Komunikasi massa disini dikaitkan dengan segala bentuk komunikasi yang menggunakan media massa seperti surat kabar, televisi, radio, buku dan lain-lain.
Astrid S. Susanto mendefinisikan komunikasi massa sebagai berikut ,
“ Adalah suatu kegiatan komunikasi yangditujukan kepada orang banyak yang tidak dikenal. “ ( Susanto, 1985, 2 )
Sedangkan Onong Uchjana Effendi mendefinisikan,
“ Yang dimaksudkan dengan komunikasi massa ialah komunikasi melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi luas siaran radio dan televisi yang ditujukan pada umum, dan film yang dipertunjukan di gedung-gedung bioskop “
( Effendi, 1993 : 79 )
Gerbner , seperti yang dikutip Jalaludin Rakhmat, membuat batasan,
“ Komunikasi masa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan tehnologi dan lembaga dari arus pesan kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri “ ( Rakhmat, 1986 : 176 )
Dari beberapa pendapat para sarjana diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud komunikasi massa yaitu suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan oleh suatu sumber kepada khalayak melalui media massa. Media massa yang dimaksud adalah surat kabar, televisi, radio, buku, film dan lain-lain.
Dalam macapat, proses komunikasi massa pun terjadi. Macapat dapat dilakukan melalui komunikasi massa . Untuk itu, macapat dapat dibagi menjadi dua jenis komunikasi yaitu,
1.Komunikasi Massa Tradisional
2.Komunikasi Massa Modern
Komunikasi massa tradisional yang dimaksud adalah bentuk-bentuk penggunaan media massa yang masih bersifat tradisional. Hal ini bisa berwujud lembaran-lembaran baik itu kertas maupun daun lontar, maupun batu lie. Seperti yang diceritakan oleh Anjar Any berikut ini,
“ …...di setiap pintu Mangkunagaran ditaruh batu belis ( batu lie atau disebut sabak ) beserta pensilnya sekali (gerip).Sewaktu-waktu Sri Paduka mendapat ilham langsung ditulis dibatu tulis tersebut.” ( Any, 1993: 19 )

Tambahnya lagi :
“…...Apabila sudah mendapat ilham,lalu ditulis pada batu tulis itu…..,lalu dibagikan dipisah-pisah jenis karangan di berikan kepada salah seorang siswa. Siswa tersebut diatas ,disuruh menulis(menyalin ) dikertas …..,bila sudah dihaturkan lalu diberikan kepada Raksa Pustaka (perpustakaan Mangkunegaraan) guna ditulis dalam buku,sedangkan konsepnya disuruh menyimpanya di kantor Raksa Wilapa,…..”( Any , 1993 : 22 )

Dari cerita Anjar Any diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
1.Adanya media sederhana untuk tulis menulis yaitu berbentuk batu lie atau sabak, gerip ( pensil ), kertas dan buku.
2.Adanya proses penyalinan atau tulis ulang, yang memungkinkan tersebar dan penyebaran serat macapat oleh penyalinnya kepada khalayak atau masyarakat.
3.Adanya sarana penyebaran media massa secara tidak lansung yaitu bentuk buku yang dikumpulkan dan disimpan dalam ruangan yang bernama Reksa Pustaka.
Sedangkan komunikasi modern yang dimaksud adalah penerbitan atau pencetakan sarana atau media massa berupa buku ataupun majalah, radio dan televisi yang menyajikan mengenai serat-serat macapat. Beberapa media cetak jawa yang menyajikan , seperti Mekar Sari, Djaka Lodhang, Kandha Raharja, Penjebar Semangat, Jaya Baya, dan Punakawan.
Selain itu buku-buku mengenai tuntutan sekar macapat maupun sekar macapat tertentu yang terkadang juga sudah dikaji oleh penulis, budayawan ataupun pemerhati seni sastra jawa, sudah banyak yang diterbitkan. Contoh buku teori atau tuntunan tembang macapat yang telah diterbitkan adalah Pathoking Njekaraken ( Raden Harjowirogo, 1952 ), Mbambang Manah ( Tedjo Hadisumarto, 1958 ), Widyaparwa, dan Sekar Macapat jilid I dan Jilid II ( Arintaka , 1981 dan 1983 ).
Sedangkan yang sudah dikaji adalah Jangka Ranggowarsito : Sabda Pranawa, Jaka Lodhang, Kalatidha oleh R. Sastrasadarga. Kemudian pula buku Menyingkap Serat Wedotomo oleh Anjar Any dan buku Tripama-Wirawiyata tulisan Hardjasarkara terbitan tahun 1964.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar