Jumat, 17 Februari 2012

Filosofi Rumah Joglo


 Filosofi Rumah Joglo 
 
 Minggu, 20 November 2011 16:18:39 - oleh : admin
Filosofi Rumah Joglo
Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional jawa tengah, rumah
joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru
berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari
yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.
Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu
ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang
dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan,
dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang
keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu
senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan.

Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya.
Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat
umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).
Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian
belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga
sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan
terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi
kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian
masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang tersebut disebut krobongan,
yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur,
bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam pertama bagi
pengantin baru (Widayat, 2004: 7). Krobongan merupakan ruang khusus yang
dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat
berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.
Jadi dalam pemetaan ruang rumah Joglo ada tiga peta ruang utama yaitu :
• Pendopo
• Pringgitan, dan
• Dalem

Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka, hal
ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah,
terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya pendopo
tidak di beri meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu
yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai
kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab
rukun (rukun agawe santosa).


Pringgitan
Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk
memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya
hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi)
yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan
(Hidayatun, 1999:39). Menurut Rahmanu Widayat (2004: 5), pringgitan
adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan
wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara
ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa
raksasa yang maha hebat).


Dalem (Ruang Utama)
Dalem atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang pribadi
pemilik rumah. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu
ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Pada masa
dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan
kamar inipun otomatis hanya menjadi tiga yaitu kamar pertama untuk tidur
atau istirahat laki-laki kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat
tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur, dan yang ketiga
diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan.
Kamar yang kedua atau yang tengah biasa disebut dengan krobongan yaitu
tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan terhadap Dewi Sri.
Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi
penghuninya.
Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib
serta padi hasil panen pertama, Dewi Sri juga dianggap sebagai pemilik
dan nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang,
kasur, bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para
pengantin baru, hal ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa
Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara
perkawinan(Mangunwijaya, 1992: 108). Di dalam rumah tradisi Jawa
bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi
bermacam-macam benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai
kesatuan arti yang sakral (suci). Macam-macam benda lambang itu berbeda
dengan benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang
kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang perwujudannya adalah Dewi Sri
(Wibowo dkk., 1987 : 63).


Sumber :
Wacana Nusantara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar