Jumat, 10 Februari 2012

Empati


EMPATI

Jika empati diartikan secara harfiah bahwa dengan berempati, seseorang masuk ke dalam diri orang lain dan menjadi orang lain agar bisa merasakan dan menghayati orang lain, maka timbul penilaian bahwa mustahil orang tersebut bisa melakukannya tanpa melepaskan diri dari dirinya sendiri, sehingga terdapat aku yang ada dan aku yang keluar dan menjadi orang lain. Hal tersebut pun mustahil jika terjadi dalam keadaan biasa karena jika sampai terjadi berarti ada pembelahan diri (splits personality; schizophrenia) yang justru menjadi tanda adanya hambatan yang serius di dalam kepribadian seseorang (Gunarsa Singgih, 1992, hal.71).
Di pihak lain, empati justru dianggap sebagai salah satu cara yang efektif dalam usaha mengenali, memahami, dan mengevaluasi orang lain karena dimungkinkan seseorang itu masuk dan menjadi sama dengan orang lain. Dengan berempati, seseorang bisa benar-benar merasakan dan menghayati orang lain termasuk bagaimana seseorang mengamati dan menghadapi masalah dan keadaannya (Gunarsa Singgih, 1992, hal.71).

A. Definisi
1.      Empati suatu istilah umum yang dapat digunakan untuk pertemuan, pengaruh dan interaksi di antara kepribadian-kepribadian. “ Empati ” merupakan arti dari kata “einfulung” yang dipakai oleh para psikolog Jerman. Secara harfiah ia berarti “merasakan ke dalam”. Empati berasal dari kata Yunani “pathos”, yang berarti perasaan yang mendalam dan kuat yang mendekati penderitaan, dan kemudian diberi awalan “in”. Kata ini paralel dengan kata “ simpati “. Tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Bila simpati berarti merasakan bersama dan mungkin mengarah pada sentimentalitas, maka empati mengacu pada keadaan identifikasi kepribadian yang lebih mendalam kepada seseorang, sedemikian sehingga seseorang yang berempati sesaat melupakan/ kehilangan identitas dirinya sendiri. Dalam proses empati yang mendalam dan misterius inilah berlangsung proses pengertian, pengaruh dan bentuk hubungan antar pribadi yang penting lainnya
2.      George & Cristiani (1981), empati adalah kemampuan untuk mengambil kerangka berpikir klien sehingga memahami dengan tepat kehidupan dunia dalam dan makna-maknanya dan bisa dikomunikasikan kembali dengan jelas terhadap klien. Dengan berempati, memungkinkan konselor untuk mendengar dan bereaksi terhadap kehidupan perasaan klien, yakni : marah, benci, takut, menentang, tertekan, dan gembira.
3.      Stewart (1986) merumuskan empati sebagai kemampuan untuk menempatkan diri di tempat orang lain supaya bisa memahami dan mengerti kebutuhan dan perasaannya. Empati menuntut untuk masuk ke pandangan dunia klien dan untuk melihat dengan mata mereka dan selanjutnya “to walk in their shoe”.
4.      Rogers, empati berarti memasukkan dunia klien beserta perasaan-perasaannya ke dalam diri sendiri tanpa terhanyut oleh pikiran dan perasaan klien (Hackney, 1978).
5.      Ada tiga aspek dalam empati menurut Patterson (1980), yaitu:
a.       Keharusan bahwa konselor mendengarkan klien dan mengkomunikasikan persepsinya kepada klien.
b.      Ada pengertian atau pemahaman konselor tentang dunia klien; dan
c.       Mengkomunikasikan pemahamannya kepada klien.

B. Makna Penting Empati
Menurut Rogers dalam Konseling dan Psikoterapi (Gunarsa Singgih, 1992, hal. 72), empati bukan hanya sesuatu yang bersifat kognitif namun meliputi emosi dan pengalaman. Juga diartikan sebagai usaha menglami dunia klien  sebagaimana klien mengalaminya. Karena itu, seorang kenselor harus berusaha memahami pengalaman klien dari sudut klien itu sendiri. Dalam makalahnya yang berjudul “ The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change ”(Kondisi Yang Harus Terjadi Dan Cukup Bagi Perubahan Pada Klien), Rogers mengemukakan tentang emphatic understanding, yakni kemampuan untuk memasuki dunia pribadi orang. Emphatic understanding merupakan salah satu dari tiga atribut yang harus dimiliki oleh seorang terapis dalam usaha mengubah perilaku klien. Atribut yang lain yaitu kewajaran atau keadaan sebenarnya (realness) dan menerima (acceptance) atau memperhatikan (care).
1.      Tanpa empati, tidak mungkin ada pengertian. Memahami secara empati merupakan kemampuan seseorang untuk memahami cara pandang dan perasaan orang lain. Memahami secara empati bukanlah memahami orang lain secara objektif, tetapi sebaliknya dia berusaha memahami pikiran dan perasaan orang lain  dengan cara orang lain tersebut berpikir dan merasakan atau melihat dirinya sendiri. Memahami klien berdasarkan kerangka persepsi dan perasaan klien sendiri oleh Rogers disebut internal frame of reference, artinya menggunakan kerangka pemikiran internal.
2.      Menurut Rogers empati konselor sebagai salah satu factor kunci yang membantu klien untuk memecahkan masalah personalnya. Ketika kita berempati kepada orang lain, kita meletakkan diri kita “in their shoes”, melihat dunia dari mata mereka, membayangkan bagaimana bila menjadi mereka, dan berusaha merasakan apa yang mereka rasakan.
3.      Faktor sosial dan budaya (seperti gender, etnis, perbedaan kultur) mempunyai pengaruh dalam pengekspresian emosi. Faktor ini mempengaruhi cara bagaimana konselor merespon secara emosional.
4.      Jika klien merasa dimengerti, maka mereka akan lebih mudah membuka diri untuk mengungkapkan pengalaman mereka dan berbagi pengalaman tersebut dengan orang lain. Klien yang membagi pengalamannya secara mendalam memungkinkan untuk menilai kapan dan di mana mereka membutuhkan dukungan, dan potensi kesulitan yang membutuhkan fokus untuk rencana perubahan.
5.      Saat klien melihat empati pada diri konselor, mereka akan lebih nyaman untuk dan tidak melakukan defend seperti penyangkalan, penarikan diri, dll. Artinya empati konselor mampu memfasilitsi perubahan pada klien. Sebaliknya akan lebih mau membuka diri terhadap dunia luar dengan cara yang lebih konstruktif. Karena itulah istilah empati ditambah menjadi perkataan “emphatic understanding”.

C. Mengkomunikasikan Empati
Empati membutuhkan kemampuan konselor dan usaha untuk menempatkan ia pada posisi klien dan memahami dunia klien. Tetapi empati sendiri tidak akan efektif bila tidak di barengi dengan kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menunjukkan empati itu. Klien akan berfikir bahwa konselor berempati hanya jika mereka melihat dan percaya hal tersebut. Truax dan Carkhuff mengemukakan bahwa dalam memahami secara empati ini sangat perlu konselor menerima dan mengkomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal, secara akurat dan penuh kepekaan tentang perasaan dan makna perasaan itu.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merespon:
1.  Respon harus pendek dan to the point, menangkap esensi dari perasaan dan situasi.
2.  Bukan pengulangan dari apa yang orang lain katakanya. Diulangi dalam kata yang berbeda.
3.  Harus lebih dalam dari apa yang telah dikatakan, seperti menebak perasaan yang tidak diungkapkan (jika terkaan itu salah hal ini bukanlah masalah. Klien akan membenarkan dan menjelaskan).
Egan (1975, dalam Ivey et al, 1987) membedakan dua tipe untuk memahami “emphatic understanding”, yakni :
1.      Empati primer, adalah empati sebagaimana dikemukakan oleh Rogers.
            Membentuk fondasi dan atmosfer inti helping relationship. Termasuk mendengarkan semua pesan dan meresponnya. Kemampuan paraphrasing dan merefleksikan perasaan konselor dengan baik akan memulai dasar empati untuk memahami klien.
      Contoh perkataan : “ Sekarang saya bisa merasakan betapa sedih Anda pada waktu itu”.
2.      Empati lanjutan (advanced accurate emphaty)
            Memahami hal yang tersembunyi dari klien, bentuk dasar dari empati lanjutan adalah memberi respon dan pemahaman terhadap hal yang tidak langsung dikatakan klien. Di mana konselor memberikan lebih dari dirinya dan seringkali membutuhkan upaya langsung untuk mempengaruhi klien. Karena informasi itu selalu subjektif bagi interpretasi individu, konselor harus menyusun kembali situasi, kepercayaan, atau pengalaman untuk membantu klien melihatnya dari perspektif yang berbeda dan mengecek apakah interpretasi itu sudah benar.
             Advanced emphaty lebih kritis, mendalam, dan membahas masalah yang sensitif oleh karena itu dapat menyebabkan klien bertambah stress. Untuk mencegah klien mengalami emosi berlebihan dan melakukan perlawanan respon empati konselor harus bersifat sementara dan hati-hati.
      Contoh perkataan : “ Saya akan merasa sedih juga” ; ”Dari apa yang kamu katakan......” ; ” Apakah hal ini ......?” ; ”Sepertinya hal ini .......”

D. Latihan Empati
1.      Rasional
Kehidupan dunia dalam klien merupakan rahasia yang sulit untuk ditembus. Bahkan keadaannya begitu berlapis. Klien yang kita hadapi sering tampil hanya dipermalukan saja, dan jarang menampilkan dunia dalam mereka. Kecuali terhadap orang yang sangat dipercayai.
Orang yang dipercayai oleh klien adalah yang memahami dan dapat merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien. Konselor yang empati mudah memasuki dunia dalam klien sehingga klien tersentuh dengan sikap konselor.
Seorang calon konselor harus dilatih agar peka terhadap perasaan klien, memahami pikirannya, dan mampu merasakan perasaan dan pengalaman klien. Untuk mencapai hal tersebut maka dilatihkan teknik empati. Latihan tersebut mencakup ungkapan perasaan konselor mengenai perasaan, pengalaman, pikiran (keadaan dunia dalam klien) baik dengan cara biasa (primary empathy-PE) maupun dengan cara yang lebih mendalam/ menyentuh (advance accurate empathy-AAE).
2.      Tujuan
Latihan empati bertujuan agar calon konselor mampu memasuki dunia dalam klien melalui ungkapan-ungkapan empati (PE dan AAE) yang menyentuh perasaan klien. Jika demikian keadaannya maka klien akan terbuka dan mau mengungkapkan dunia dalamnya lebih jauh baik berbentuk perasaan, pengalaman, dan pikiran.
3.      Materi
(a).  Latihan mengosongkan diri calon konselor dari perasaan dan pikiran egoistik, dan masuk kedalam diri klien dengan merasakan apa yang dirasakan klien, berpikir bersama klien, dan bukan merasakan dan memikirkan tentang klien.
(b). Melakukan empati primer (PE) dengan mengungkapkan:
-         ”Saya dapat merasakan apa yang anda rasakan.”
-         ”Saya memahami apa yang telah anda lakukan.”
-         ”Saya mengerti apa yang anda inginkan.”
(c).  Melakukan empati tingkat tinggi (AAE) dengan mengatakan:
-         ”Saya ikut terluka dengan penderitaan anda. Namun saya juga bangga dengan kemampuan daya tahan anda.”
-         ”Saya seperti hadir di sana saat anda mengalaminya, saya bangga dengan keberhasilan anda.”
-         ”Saya ikut terhina dengan pengalaman keji yang anda alami namun saya salut terhadap keuletan anda membela kebenaran.”
-         ”Saya ikut kecewa dengan perlakuannya terhadap anda, namun saya yakin anda masih mempunyai iman untuk melupakannya.”
Dalam melakukan teknik empati pengamat harus secara tajam mengamati bahasa tubuh konselor. Jika bahasa tubuhnya dilakukan dengan baik, maka akan menunjang terhadap teknik empati. Selanjutnya akan membantu klien terbuka dan terlibat di dalam hubungan konseling.

Bagan Prosedur Microtraining Teknik Empati Primer
Peserta I
(konselor)


 






Pembimbing


Primary
Empaty

Peserta II
(klien)














 







1      2       3

Pengamat
Klien : ” Ya, ia membuat saya nervous. Dia suka melirik wanita-wanita lain, hal itu membuat saya ingin memukulnya. Kami bertengkar tentang itu, akan tetapi ia selalu menolak tuduhanku. Saya bangkit dan pergi meninggalkan bar dan lari pulang.”
 



DISKUSI
 
                       

Pengamat
(masukan, kritik)
Pembimbing
(masukan)
Konselor
(tanggapan)
Konselor
(jawaban)








FACILITATIVE
CONDITION

Bahasa Tubuh
-      mendengarkan penuh perhatian dan meggunakan attending
-      hangat respek
-      penuh perhatian
-      merasakan getaran jiwa klien (perasaan)
-      diikuti paraphrasing dan refleksi perasaan

Bahasa Lisan
Konselor :”Saya memahami perasaan anda. Anda merasa tidak nyaman kalau pacar anda berpaling kepada wanita lain. Akan tetapi anda punya kekuatan untuk berlari dan pulang sendiri ketika dia menghampiri anda.”(primary empathy)



                                               



Daftar Pustaka

Capuzzi, D & Groos, Douglas R. 1997. Introduction to The Counseling Profession Second Edition. Boston : Allyn & Bacon
Gunarsa, Singgih. D. 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia
Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang
May, Rollo. 1997. Seni Konseling. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Willis, Sofyan.S. 2004. Konseling Individual Teori Dan Praktek. Bandung : Alfabeta, CV

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar