Kamis, 19 April 2012

UPACARA ADAT JAWA TENGAH

Jawa Tengah dikenal dengan sumber kebudayaan Jawa ( dengan keratin sebagai pusatnya) yang mewarnai kebudayaan tanah Jawa. Di dalam pergaulan hidup maupun interaksi social sehari-hari mereka terikat dengan norma-norma maupun system nilai yang didasarkan pada bahasa, pelapisan social, dan istem kekerabatan yang mengatur antara yang baik dan buruk maupun yang boleh dan tidak boleh. 

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mengenal beberapa jenis upacara selamatan yang sesuai dengan peristiwa atau kejadian alam dalam kehidupan manusia sehari-hari, yakni: selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian dan setelah panen, selamatan berhubung dengan hari-hari dan bulan-bulan besar Islam dan selamatan pada saat-saat tidak tertentu atau yang berkenaan dengan kejadian-kejadian seperti mengadakan perjalanan jauh, menempati rumah kediaman baru, menolak bahaya (ngurawat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul) dan lain-lain.

Selamatan dalam rangka linmgkaran hidup meliputi peristiwa hami 7 bulan, kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, sunat, perkawinan, dan kematian serta saat-saat sesudah kematian.

Sedangkan upacara yang dilakukan berkaitan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa Tengah antara lain:
  • Nyadran: yaitu upacara yang diadakan pada bulan Ruwah (bulan menjelang puasa) yang dilakukan secara bergotong royong membersihkan makam keluarganya dan bersaji.
  • Memetri desa: upacara yang diadakan di desa-desa setelah panen padi, biasanya dipertunjukkan wayang kulit dengan cerita Dewi Sri.
  • Suran: upacara yang diadakan oleh masyarakat Jawa pada malam 1 syuro (tahun barun hijrah) yang diselenggarakan dengan sajian wayang kulit semalam suntuk dan diusahakan pada malam itu tidak tidur.
  • Sedekah laut: upacara yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Cilacap pada setiap bulan Suro untuk memberi persembahan kepada penguasa lau Selatan (Nyai Roro Kidul) yang berupa hasil ternak, pertanian, dan perlengkapan lain yang diletakkan dalam sebuah kapal hias.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar