Senin, 23 April 2012

Kepemimpinan Kartini Tak Sekadar Simbol


Kepemimpinan Kartini Tak Sekadar Simbol

Tribunnews.com - Rabu, 18 April 2012 22:37 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Kepemimpinan Kartini Tak Sekadar Simbol
TRIBUNNEWS.COM/ANDR MALAU
Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani 

Penulis Dewi Aryani. Anggota Komisi 7 DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ketua PP ISNU, Kandidat Doktor Adm dan Kebijakan Publik UI, DUTA UI untuk Reformasi Birokrasi Indonesia
Kepemimpinan "Kartini-Kartini" Tak Sekedar Simbol Kesetaraan

"...Perempuan Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional”. (Bung Karno)

Selama berabad-abad lamanya, Perempuan selalu dianggap sebagai kaum domestik yang tugasnya adalah mengurus rumah tangga dan keluarga. Nilai dan norma yang diciptakan adat dan kebudayaan tentang Perempuan sebagai “orang dalam” seolah menjadi senjata paling ampuh untuk mengebiri hak Perempuan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam lingkungan dan ruang yang lebih luas.
Perempuan hanya diberikan ruang dan tanggung jawab dalam mengelola urusan rumah tangga. Bahkan, hak-hak dasar manusia yang seharusnya  dimiliki baik oleh pria maupun perempuan, seperti pendidikan, dan hak berpendapat sering kali dikesampingkan.

Pada masanya, Raden Ajeng Kartini telah menciptakan sebuah usaha melawan arus kekangan adat dengan menuangkan pemikiran-pemikiran cerdasnya soal bangsa dan negara dalam korespondensi dengan kawan-kawan Belandanya. Jika kita amati pemikiran yang berkembang pada masa 1870an, maka kita akan menyadari, bahwa pemikiran Kartini tentang modernitas, peran perempuan, tentangan tehadap feodalisme, dan perjuangan pembebasan bangsa, adalah pemikiran yang paling besar dan paling progresif pada masanya.
Bahkan menurut Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya ‘Panggil saja Aku Kartini!” , jauh sebelum Bung Karno dan Bung Hatta dilahirkan, Kartini bahkan telah menuliskan pemikirannya mengenai nasionalisme, yang disebutnya dengan kata “kesetiakawanan”. Kartini menulis, "Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan rakyat seluruhnya tidak mungkin."

Usaha yang dilakukan Kartini pada masanya menunjukkan bahwa secara fitrah, Perempuan memiliki kemampuan yang sama bahkan terkadang lebih daripada pria. Potensi ragawi, akal, dan hati yang dimiliki oleh perempuan seakan menjadi paket lengkap yang jika dikembangkan akan melahirkan perempuan-perempuan hebat pencipta sejarah.
Layaknya kutipan yang disampaikan Bung Karno di awal tulisan ini, maka sudah semestinyalah Perempuan dengan potensi lengkap yang dimilikinya, berpartisipasi dan terlibat dalam usaha-usaha menciptakan kesejahteraan bagi bangsa dan negara.

Di tengah era kebebasan dan demokrasi seperti sekarang ini, pemikiran pesimis tentang peran perempuan bagi negara rasanya sudah tidak lagi relevan. Akses terhadap ruang publik bagi perempuan telah dibuka seluas-luasnya. Hal ini pun telah dibuktikan oleh beberapa perempuan pencipta sejarah Indonesia yang telah berhasil mengangkat martabat perempuan Indonesia dengan menempati posisi-posisi strategis dalam Pemerintahan.
Salah satunya adalah bahwa Indonesia telah mencatatkan dirinya dalam sejarah dunia sebagai salah satu Negara demokrasi terbesar yang pernah dipimpin oeh seorang Presiden Perempuan, yaitu Megawati Soekarno Putri. Perjalanan Ibu Mega sebagai Presiden pun bukan lah sebuah kebetulan atau momental semata, sebelumnya Ibu Mega telah bertahun menjadi salah satu dari sedikit Perempuan Indonesia yang pernah duduk di Parlemen, bahkan pada era orde baru dimana akses bagi Perempuan masih sedikit dan tertutup.

Selain Ibu Mega, sosok Perempuan lain yang telah mencatatkan sejarah bagi Indonesia adalah Sri Mulyani Indrawati yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Bank Dunia. Sebenarnya masih banyak sosok perempuan lain yang keberadaannya dalam ruang publik telah memberikan sumbangsih besar bagi bangsa dan negara ini. Seperti  Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo ataupun Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan.
Dan kini amat membanggakan kala Puan Maharani Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPP PDI Perjuangan juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Perempuan Pertama dalam sejarah parlemen Indonesia, masih banyak lainnya perempuan memimpin berbagai departemen,perusahaan,lembaga hingga kepala daerah.

Sejalan dengan demokrasi dan globalisasi yang akan dihadapi oleh Bangsa Indonesia kedepan, keberadaan perempuan dalam ruang-ruang publik akan semakin terbuka lebar. Kedepan, Indonesia akan dihiasi oleh sosok-sosok perempuan lainnya yang akan menghiasi sejarah Indonesia dengan prestasi dan sumbangsihnya membangun bangsa dan negara. Perjuangan perempuan dalam mengangkat martabat merekapun akan menuai hasil dengan kontribusi perempuan yang semakin konkret dan beragam dalam menciptakan kesejahteraan bangsa.

Pekerjaan rumah bagi perempuan Indonesia saat ini adalah bagaimana potensi ragawi, akal, dan hati yang sudah melekat pada diri mereka dapat berkembang dan memotivasi mereka untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan membangun bangsa. Potensi ragawi berupa kesempurnaan jasmani dengan daya tahan fisik (endurance) atas berbagai pekerjaan yang ada akan berkembang seiring dengan banyaknya tugas dan pekerjaan yang akan dihadapi wanita dalam perannya sebagai ibu, istri, wanita karir, bahkan tokoh masyarakat.
Potensi akal yang ditunjukkan oleh kecerdasan dalam berpikir dan keberanian dalam mengemukakan pendapat akan semakin berkembang seiring dengan sikap kritis yang terus ditanam oleh perempuan pada berbagai fakta sosial yang dihadapi setiap harinya.

Potensi hati yang ditunjukkan dengan kepekaan terhadap realitas sosial, sekaligus kekuatan mental pada setiap tantangan hidup yang dialami akan semakin berkembang seiring dengan  kepedulian terhadap lingkungan.
Sehingga dengan ketiga potensi yang terus menerus dikembangkan ini, pada tahun-tahun berikutnya akan lahir sosok-sosok pemimpin wanita Indonesia yang cerdas, berani, sekaligus peduli. Dan bukan mustahil pada tahun-tahun berkutnya Indonesia kembali memiliki seorang presiden wanita.

Poin penting yang harus digaris bawahi adalah bahwa kepemimpinan perempuan pada ranah publik nantinya tidak hanya sekedar simbol yang diberikan kepada wanita sebagai bukti bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sudah tegak di Negara demokrasi ini.
Lebih daripada itu semua, kepemimpinan yang harus dibawa oleh perempuan-perempuan Indonesia adalah kepemimpinan yang mampu mengubah potensi human capital menjadi kekuatan perubahan yang dapat mendorong terciptanya pembangunan nasional yang menyeluruh.

Banyak ahli yang telah mengkaji tentang jenis-jenis kepemimpinan, salah satu yang paling terkenal adalah terori kepemimpinan yang dikemukakan oleh Max Weber. Weber mengemukakan bahwa tedapat tiga jenis kepemimpinan, yaitu Kepemimpinan Tradisional, Legal Formal (Rasional), dan Kharismatik. Kepemimpinan Tradisional adalah kepemimpinan yang didapat oleh seseorang karena “warisan” kepemimpinan dari nenek moyang nya. Kepemimpinan ini menekankan pada pewarisan  tahta atau kekuasaan kepada keturunan pemimpin sebelumnya.

Kepemimpinan Legal Formal (rasional) adalah kepemimpin yang didapat melalui prosedur atau peraturan yang dibuat secara rasional dan legal. Sedangkan Kepemimpinan Kharismatik adalah kepemimpinan yang didapat

Jika mengacu kepada tiga jenis kepemimpinan yang dikemukakan oleh Weber, maka jenis kepemimpinan yang paling ideal untuk masa sekarang ini adalah jenis kepemimpinan Legal Formal (Rasional). Hal ini karena jenis kepemimpinan ini memiliki legitimasi yang kuat karena seorang pemimpin dipilih berdasarkan kecakapan dan kemampuannya yang dianggap oleh sebagian besar pengikutnya memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin.

Saat ini di Indonesia jenis kepemimpinan Legal Formal ini telah banyak dimiliki oleh para perempuan Indonesia. Dengan kemampuan dan kecakapan yang dimiliki para perempuan tersebut, diiringi pula dengan dukungan dari masyarakat banyak perempuan Indonesia yang telah menduduki posisi penting berdasarkan jenis kepemimpinan ini, seperti Anggota Dewan, Menteri, Kepala Daerah, Direktur, Manajer, dan sebagainya.

Namun demikian, meskipun jenis kepemimpinan legal formal (rasional) menurut Weber adalah jenis kepemimpinan yang paling ideal, jenis kepemimpinan ini tidak cukup mampu untuk menciptakan perubahan tanpa diiringi oleh kemampuan memimpin secara transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang menekankan seorang pemimpin untuk dapat memotivasi bawahan dan pengikut mereka untuk bekerja lebih dari yang mereka harapkan (Burns,1990).

Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader, joining in a shared vision of the future, or going beyond the self-interest exchange of rewards for compliance".  
Hater dan Bass memaparkan bahwa Dengan demikian, pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.

Dengan demikian, jika para perempuan Indonesia memiliki kemampuan untuk memimpin secara transformasional, maka keberadaan mereka akan mempunyai efek transformasi baik bagi Negara secara luas, ataupun bagi masyarakat dan individu  secara khusus.
Tentunya hal ini menjadi iklim positif bagi kepemimpinan di Indonesia, seperti yang diungkapkan sebelumnya, khususnya untuk menciptakan perubahan yang mendorong pembangunan nasional. Pertanyaan yang lahir kemudian adalah, bagaimana cara untuk menciptakan kepemimpinan transformasional ini?

Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transfomasional ini memiliki empat dimensi. Pertama adalah dimensi idealized influence atau pengaruh Ideal yang digambarkan melalui perilaku pemimpin yang membuat para pengiutnya mengagumi, menghormati, sekaligus mempercayainya.
Kedua adalah inspirational motivation atau motivasi inspirasi yang digambarkan melalui perilaku pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap keinginan masyarakat serta dapat menggugah semangat para pengikutnya melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme mereka.
Ketiga adalah Intellectual Simulation atau simulasi intelektual yang digambarkan dengan kemampuan pemimpin untuk menumbuhkan ide-ide baru dan memberikan solusi-solusi kreatif bagi permasalahan yang sedang diadapi masyarakat luas. Yang keempat atau terakhir adalah individualized consideration atau konsiderasi individu yang digambarkan melalui perilaku pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan dan masukan dari masyarakat dan para pengikutnya.

Jika perempuan Indonesia mau dan mampu memotivasi diri mereka untuk berkontribusi di ruang publik yang lebih luas, maka pada tahun-tahun mendatang rasanya Indonesia tidak akan kekurangan stok pemimpin perempuan. Perempuan akan lebih terlihat pada berbagai ruang publik dengan kontribusi konkret mereka bagi bangsa dan Negara. Perjuangan perempuan pun akan semakin menemukan bentuk idealnya. Dalam jangka panjang, kepemimpinan perempuan harus tetap diperjuangkan dan diusahakan melalui kontribusi perempuan yang kontinyu.
Oleh karenanya para pemimpin perempuan juga harus memiliki kepemimpinan yang mampu mencetak pemimpin-pemimpin baru yang pada masa-masa mendatang akan menggantikan mereka. Sehingga estafet kepemimpinan perempuan akan terus bergulir dan semakin berkualitas.

Dengan demikian, cita-cita Founding Father Indonesia, Presiden Soekarno, pada kutipan kalimat di awal tulisan ini, yang menginginkan perempuan Indonesia terlibat aktif dalam usaha menyelamatkan Republik dan Negara Nasional akan tercapai. Bukan hanya terlibat aktif, namun perempuan Indonesia di masa yang akan datang layak dan siap untuk memimpin Indonesia sebagai Presiden Negara demokrasi terbesar ini. Ayo, NKRI menanti kiprah perempuan-perempuan Indonesia, Kartini-Kartini masa kini.

Artikel ini ditulis dalam rangka Memperingati Hari Kartini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar