Minggu, 22 April 2012

Kesampingkan Sekolah demi Uang


SUARA PANTURA
22 April 2012
Kesampingkan Sekolah demi Uang
 0
 
  0
GERAKANNYA cekatan, secepat ucapan juru lelang yang memandu penjualan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Peka­longan. Dengan menenteng plastik warna hitam di tangan kiri, Adi Susanto (12) mendekat ke arah tumpukan keranjang berisi ikan segar di TPI Kota Pekalongan, Jumat (20/4).

Tangan kanannya kemudian terulur di antara tumpukan keranjang ikan. Seekor ikan segar berukuran sedang yang terselip di antara keranjang ikan itu pun digenggamnya, lalu dimasukkan ke dalam plastik warna hitam di tangan kirinya.
Adi, satu di antara beberapa anak "alang-alang" yang setiap hari mewarnai aktivitas lelang ikan di TPI Kota Pekalongan. Berangkat dari rumah pukul 04.00, dia bersa­ma anak "alang-alang" seusianya menunggu dan berlarian saat melihat ikan jatuh dari keranjang, lalu diambilnya.

Ikan-ikan yang telah terkumpul itu kemudian dibawa pulang ke rumahnya, Kelurahan Boyongsari, Kecamatan Pekalongan Utara. "Ikan ini saya jual ke tetangga. Kadang dihargai Rp 5.000, kadang lebih. Tergantung dari banyak tidak­nya ikan yang jatuh," terang Adi.

Adi biasa di TPI Kota Peka­longan hingga pukul 10.00. Saat ini Adi masih tercatat sebagai siswa kelas 5 SD Negeri Panjang Wetan. Namun, ia tidak datang ke sekolah setiap hari. "Seminggu kadang hanya beberapa kali masuk sekolah. Selebihnya di sini, mencari ikan. Uang dari hasil penjualan saya belikan beras, selebihnya ditabung untuk membayar sekolah," tambahnya.

Ayah dia  bekerja sebagai tukang sapu, sementara ibu hanya di rumah mengurus adik-adiknya, sehingga ia harus ikut mencari uang untuk biaya sekolahnya. Karena pendapatan ayahnya hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. 

Prestasi

Meskipun demikian, Adi mengaku prestasi akademiknya cukup bagus. "Dapat ranking," tegasnya. Tak jauh beda dengan Adi, Juana berangkat dari rumah pukul 05.00 dan pulang pukul 10.00 dengan sebungkus plastik berisi ikan segar di tangan. "Uangnya diberikan ke ibu untuk membeli beras," terang­nya. 

Berbeda dengan Adi, Juana me­mi­lih sekolah di sore hari. Dia bersama dengan beberapa kawannya mengikuti Kejar Paket C karena pada pagi hari harus mencari ikan untuk biaya hidup sehari-hari.

Jauh dari TPI Kota Pekalongan, di depan sebuah minimarket di Kelurahan Pringlangu, Kecamatan Pekalongan Barat, Nia Kurnianing­sih (12) tengah mengatur sepeda motor di halaman minimarket tersebut. 

Ditariknya bagian belakang motor seorang pengunjung, saat pengunjung itu hendak meninggalkan minimarket.
Siswa kelas 5 SD Samborejo itu menjadi juru parkir bergantain dengan ayahnya. Jika ayahnya mengatur kendaraan yang parkir pada siang hari, Nia mengatur kendaraan mulai pukul 16.00 hingga 22.00. Dia tidak kehilangan waktu untuk belajar. 

Hasilnya, setiap hari antara Rp 10.000 hingga Rp 50.000.
"Jika ramai bisa mendapat 50.000. Namun jika hujan, hanya dapat Rp 10.000," jelas warga Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Pekalongan Selatan itu. Bagi ayahnya, Muslih (47), melihat anaknya yang masih berusia 12 tahun bekerja adalah bagian dari melatih ke­man­dirian anak. Ia selalu me­na­namkan kepada anak-anaknya, hi­dup itu harus diisi dengan bekerja. 

"Daripada di rumah menganggur, lebih baik bekerja. Ini juga untuk hidup dia ke depan. Kalau saat ini ia sudah biasa bekerja, setelah dewasa nanti ia akan menjadi orang yang tekun, tidak akan bergantung terus kepada orang tua," jelasnya. (Isna­wati-88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar