Senin, 30 April 2012

Intensi Berselingkuh dan Dampak Perselingkuhan


09 Februari 2012

Intensi Berselingkuh dan Dampak Perselingkuhan

Siapa Pelakunya dan Mengapa

Ditulis oleh Faikitunnisa, SE. - PLKB Kec. Tonjong


Perempuan menghendaki pernikahan monogami,

Laki-laki mendambakan segala sesuatu yang baru.


Dengan perbedaan seperti itu,

Kebaikan apa yang dapat terjadi?



- Dorthy Parker

Keluarga merupakan persatuan dua insan yang berbeda. Disanalah kita yang berbeda dipersatukan Tuhan melalui akad/janji pernikahan diikat oleh relasi seks, cinta suami istri dan pernikahan melalui perwujudan cinta antara suami istri dan cinta antara orang tua dengan anak-anaknya serta mewujudkan kesetiaan suami terhadap istri atau sebaliknya istri tehadap suaminya.Keluarga adalah kelompok social masyarakat yang paling kecil dan inti. Untuk menumbuhkan-kembangkan manusia Indonesia yang berkualitas, maka keluarga merupakan lahan utama dan pertama yang menempa dan membentuk genarasi penerus bangsa. Pada dasarnya keluarga berkualitas menginginkan lingkungan yang kondusif, sehat, bersih, indah, nyaman dan harmonis dalam keluarga. Keluarga dapat disebut harmonis apabila baik kebutuhan-kebutuhan keluarga kesatuan social, maupun kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga sebagai pribadi dapat terpenuhi secara terpadu, selaras dan serasi.

Namun kenyataannya masih banyak keluarga yang belum mampu mengelola lingkungan keluarganya dengan baik. Hubungan antara suami istri yang kurang harmonis, tidak setia, tidak mencerminkan pengalaman fungsi-fungsi keluarga antara lain : cinta kasih, reproduksi, social budaya, perlindungan dan keagamaan yang Nampak dari banyaknya kasus perselingkuhan, perceraian, domestic violent (kekerasan dalam keluarga) dan penyebaran penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS.

Banyak pasangan yang dapat mempertahankan rumah tangganya dan mencapai kehidupan yang bahagia, tetapi tidak sedikit pula pasangan yang merasa gagal namun tetap mencoba mempertahankan perkawinannya dengan memaafkan kesalahan pasanganya, dan ada pula pasangan suami istri yang terpaksa mengakhiri pernikahanya dengan memilih perceraian sebagai penyelesaiannya. Perceraian terjadi karena ada alasan tertentu antara lain : sudah tidak adanya kecocokan atau tidak harmonis, tidak adanya tanggung jawab, faktor ekonomi dan terjadinya perselingkuhan dalam keluarga atau gangguan orang ketiga.


Intensi Berselingkuh



Dalam tulisan ini komponen intensi akan lebih khusus dikaitkan dengan berselingkuh atau perselingkuahan.

Intensi (Intention)  itu sendiri berasal dari kata to Intend yang diartikan sebagai usaha yang disadari untuk mencapai tujuan atau sasaran (Drever, 1986). Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), mendefinisikan intensi sebagai niat yang ada pada individu untuk melakukan suatu perilaku. Menurutnya Intensi melibatkan empat macam unsur yaitu :

1. Behavior (Perilaku)

2. Target objek (Kepada siapa atau untuk siapa perilaku itu ditunjukan)

3. Situation (situasi pada saat tindakan itu dilaksanakan) dan

4. Time (waktu terjadinya perilaku tersebut)

Lebih lanjut Fishbein dan Ajzen (1975) menegaskan bahwa intensi harus dipandang sebagai komponen bebas dan khusus, bukan sekedar bagian dari sikap, oleh karena itu ada kemungkinan dua orang memilki sikap yang sama terhadap suatu objek, namun mempunyai intensi yang berbeda terhadap objek tersebut

Sejumlah ahli memandang batasan kecendrungan (Intensi) sebagai niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Ancok (2002) mengartikan kecendrungan sebagi niat seseorang untuk melakukan perilaku tertentu yang brekaitan erat dengan belief (keyakinan) tentang suatu hal. Keyakinan yang subyektif tehadap suatu perilaku akan membentuk suatu sikap.Keyakianan subjektif lebih mendasar pada keyakinan diri individu itu sendiri terhadap suatu perilaku tertentu. Sedangkan keyakian objektif lebih mendasarkan pada keyakinan yang sebenarnya dan merupakan penilaian orang pada umumnya dalam memandang suatu periku tertentu. Sedangkan menurut Ajzen (1988), intensi seseorang akan terwujud dalam suatu perilaku bila didukung adanya control perilaku nyata. Kontrol perilaku nyata adalah situasi dan kondisi yang mendukung terjadinya suatu perilaku. Budi (Mahkota, 1988) memisalkan hal ini dengan seseorang yang tidak lapar, tetapi tidak juga kenyang, lalu seseorang tersebut dihadapkan pada makanan dan makanan itu sangat enak dan menarik, dalam keadaan seperti ini orang tersebut masih dapat memakanya.

Perselingkuhan, pertama-tama dan utama, merupakan suatu pelanggaran terhadap eksklusivitas hubungan seks antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah menikah.

Berselingkuh atau Perselingkuhan berasal dari kata selingkuh atau seleweng, yang artinya menyimpang dari jalan yang seharusnya (Wojowasito,1977). Menurut Kamus Besar Indonesia (1989), selingkuh dapat diartikan sebagai perbuatan tidak berterusterang, tidak jujur, menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri ; curang, serong. Sedangkan dalam bahasa inggris perselingkuhan biasa dsebut Extramarital affair, Liaison, infidelity dan adultery.

Walau definisi perselingkuhan begitu jelas dan mudah dipahami, beberapa orang mencoba “membengkokan” arti kata itu untuk menyesuaikan dengan situasi mereka sehingga perselingkuhan yang mereka lakukan dapat dibenarkan.

Seorang laki-laki berpendapat bahwa sebuah hubungan baru dapat dikatakan perselingkuhan jika didalamnya terjadi hubungan intim yang terus-menerus dengan seorang perempuan yang bukan istrinya. Dibandingkan kaum laki-laki, kaum perempuan membuat definisi yang lebih tegas tentang perselingkuhan. Beberapa perempuan menjelaskan bahwa ketika seorang laki-laki memberi perhatian lebih banyak kepada perempuan lain dibandingkan pada istrinya, maka laki-laki itu sudah bisa dikatakan berselingkuh.

Jadi dapat disimpulkan banwa intensi berselingkuh adalah keinginan, minat, kecondongan atau usaha yang disadari, untuk melakukan perbuatan menyimpang dari tujuan atau menyalahi atuaran, seperti perbuatan tidak berterusterang; tidak jujur atau menyumbunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; curang, serong, tidak menghormati kepercayaan pasangan dan menghianati ikatan perkawinan dengan menjalin kedekatan baik secara fisik (sexual intercourse) maupun emosional dengan orang lain yang bukan pasangannya.


Siapa dan Mengapa?


Perselingkuhan telah lama menjadi bagian dalam pernikahan. Dan seiring dengan berjalanya waktu, jumlah laki-laki dan perempuan yang terlibat hubungan intim di luar nikah saat ini lebih besar. Yang mengejutkan, angka keterlibatan perempuan menikah dalam perselingkuhan juga meningkat. Walaupun prosentasenya masih jauh lebih tinggi kaum laki-laki. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Masters and Johnson, Janus and Janus, serta share Hite Menunjukan bahwa di banyak tempat krang lebih 25 – 90 % laki-laki telah menghianati istrinya. Sementara Prosentase perempuan yang melakukan perselingkuhan hanya 30 – 60 %. Dan ternyata semakin tinggi penghasilan seorang laki-laki, semakin besar kemungkinan ia menyeleweng dari istrinya.

Hal ini karena laki-laki biasanya lebih banyak mempunyai keinginan dan kesempatan untuk melakukan perselingkuhan dibanding kaum perempuan dalam status yang sama, sehingga para laki-lakilah yang paling mungkin berselingkuh.

Meski ada sejumlah situasi yang menyebabkan baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hubungan di luar nikah, keadaan itu biasanya dilandasi factor-faktor yang berbeda. Laki-laki mencari perhatian melalui seks; perempuan mencari perhatian, baru kemuadian seks. Secara keseluruhuan, laki-laki dan perempuan sebetulnya mempuanyai harapan dan kebutuhuan yang sama dari pasangan mereka; hanya cara mereka mencoba memenuhi kebutuhan emosional dan seksual yang berbeda.

Penelitian yang dilakukan oleh Layton-tholl (2000), menemukan bahwa banyak factor yang menyebabkan seseorang melakukan perselingkuhan seperti ketidakpuasan hubungan dalam prkawinan, kekosongan emosional, kebutuhan akan variasi sexual, ketidakmampuan menghadapi kesempatan hubungan seksual yang baru, marah pada pasangan, sudah lama tidak merasa jatuh cinta, kecanduan alkohol atau obat-obatan, perpisahan, keinginan untuk membuat pasangan cemburu dan sebagainya.

Berikut beberapa Alasan laki-laki melakukan perselingkuhan :

Beberapa alasan Laki-laki Melakukan Perselingkuhan :

Alasan-alasan yang berhubungan dengan masalh seksual :

♥ Variasu dalam hubungan seks

♥ Hubungan intim lebih banyak dan lebih sering

♥ Oral seks

Alasan-alasan yang berhubungan dengan kesenangan karena sesuatu yang baru :

♥ Sensasi tubuh yang baru

♥ untuk “senang-senang “- tidak ada tanggung jawab atau beban emosional

♥ kegairahan karena tantangan baru

♥ mendengar serangkaian erangan dan rintihan yang berbeda

Alasan - alasan yang bersifat member dorongan ego :

♥ merasa menarik didepan perempuan yang lebih muda

♥ sensasi/kemungkinan diketahui istri

♥ petualangan melakukan sesuatu yang baru

♥ menjadi pusat perhatian

♥ kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan

♥ “Dia yan memulai”

♥ “ Sudah disediakan mengapa tidak?”

Alasan -  alasan yang berkaitan dengan istri :

♥ kekuasaan atas istri

♥ merasa jenuh dengan pernikahan

♥ istri tidak lagi menarik

♥ untuk membalas istri

♥ untuk melukai istri

Alasan – alasan yang berhubungan dengan fantasi romantic :

♥ ongin merasakan pengalaman romantic

♥ untuk mendapatkan cinta dan kasih saying

♥ pelarian sementara dari pernikahan yang tidak bahagia

♥ untuk membuktikan kejantanan/daya pikat/daya tarik seksual



Alasan yang tepat dipakai untuk menjelaskan mengapa laki-laki berselingkuh sama beragamnya dengan jumlah laki-laki yang melakukanya. Begitu banyak alasan-alasan laki-laki melakukan perselingkuhan, lalu pertanyaannya adalah kekuatan social apa yang menjadi dasar perselingkuhan laki-laki _ dan perempuan mentoleransinya? Ternyata factor utamanya adalah standar ganda yang sedemikian kuat mengenai penampilan, usia dan pernikahan. Kita memuja kemudaan dan kecantikan yang dimiliki perempuan dan mengagungkan kesuksesan laki-laki. Ketika lki-laki bertambah tua, “harga” mereka semakin tinggi, sedangkan “harga”perempuan semakin turun. Konsekuensi sekenario seperti ini adalah sangat terbatasya kesempatan perempuan untuk meninggalkan smereka yang berselingkuh. Apalagi, kedudukan serta status laki-laki dan perempuan yang tidak sejajar dalam masyarakat membuat banyak perempuan terikat dalam pernikahan yang ternoda penghianatan. Ternyata masih banyak laki-laki yang memberlakukan standar ganda yang tegas mengenai perilaku seksual “saya boleh, tetapi kamu sebaiknya jangan melakukannya”

Yang pada akhirnya baik dalam waktu singkat maupun jangka panjang, perempuan yang bertahan dengan suaminya yang tidak setia akan tetap menjadi “sisa” dari sebuah perselingkuhan.

Dampak Perselingkuhan



Di seluruh dunia, penyelewengan menjadi factor utama penyebab perceraian, demikian dijelaskan oleh Dr. Helen Fisher, meski terbokarnya sebuah perselingkuhan mungkin tidak secara langsung mengakibatkan perceraian, hubungan gelap tersebut akan mengikis rasa percaya dan jika terjadi terus-menerus akan berujung pada perceraian.

Cobalah bertanya kepada siapa pun yang pernikahanya pernah terlibat dalam hubungan cinta segitiga. Sebagian besar dari mereka akan menceritakan bahwa betapa pun saat itu mereka menikmati hubungan intim yan hebat, tetapi tidak ada pihak yang benar-benar menjadi pemenang setelah hubungan gelap itu. Sebuah perselingkuhan mempunyai kencendrungan untuk menjadi sesuatu yang tidak bisa dihentikan bahkan, sering kali setelah tidak lagi dikehendaki. Sebagai dampak sebuah perselingkuhan, hampir semua pihak yang terlibat merasa terluka baik secara emosional, seksual, personal maupun professional.



Hubungan di Luar Nikah – “Sesuatu yang Menyenangkan”

yang Dampaknya Tidak Bisa Dihentikan



Hubungan di luar nikah selalu mengandung dampak negative. Seperti kerusakan yang tersisa setelah terjadi ledakan, selalu ada saja sisa-sisa kerusakan yang lain. Dampak negative sebuah perselingkuhan mungkin bervariasi tingkat keparahanya, tetapi biasanya ada “pembunuhan manusia” dalam bentuk penderitaan dan luka emosional. Beberapa dampak dari perselingkuhan antara lain : Penularan penyakit seksual, Perceraian, Karir yang hancur, dan Kehidupan pribadi menjadi berantakan, tidak kalah extrimnya lagi jika “:kecemburuan seksual” sebagai akibat dari penghianatan fatal, mengakibatkan pembunuhan dan penganiayaan, seperti yang sering kita lihat di berbagai media yan menampilkan kasus-kasus pembunuhan atau penganiayaan yang disebabkan oleh perselingkuhan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sebuah penyelewengan atau perselingkuhan sungguh-sungguh sedemikian berharga?

Walaupun beberapa orang peduli terhadap dampak aktivitas seksual yang mereka lakukan di luar nikah, jauh lebih banyak lagi yang tidak memikirkan akibat tindakan mereka terhadap pasangan dan keluarga. Mereka sekadar ingin “terhanyut” dan tidak memperhitungkan konseksuensi atau kemungkinan masalah yang timbul

Hubungan gelap mungkin saja menawarkan penangkal rasa bosan yang hadir  dalam sejumlah pernikahan, tetapi berapa besar kerugian emosional dan financial yang harus ditanggung mereka yang terlibat?siapa yang untung?Siapa yang rugi?Apakah kesenangan sesaat ini sebanding dengan masalah yang akan muncul kelak? Kebanyakan orang tidak ingin repot-repot memikikirkan pertanyaan-pertanyaan sulit semacam itu sampai perselingkuhan mereka terbongkar dan menimbulkan kerusakan pada pernikahan serta kehidupan mereka sendiri.





SUMBER PUSTAKA :BKKBN, Apa dan bagaimana Lingkungan Keluarga yang Berkualitas
BKKBN, Program dan Pedoman Pengelolaan Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga
BKKBN, Upaya meningkatkan kulaitas lingkungan Non Fisik keluarga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Budi, M. 1988. Jika Pria Menyeleweng, Benarkah Wanita Juga Ikut Menyeleweng : Majalah Mahkota. No. 11 Hal. 22 – 23
Brown, E.1997. Types of Affairs. http: // www. Affairs-help.com/ I Five Types htm.8 Juni 2005
Drever, J. 1986. Kamus Psikology. (Terjemahan Nancy Simanjutak). 
Dan dari Beberapa Sumber lain

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar