Sabtu, 28 April 2012

PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL TAK PERNAH MATI


PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL TAK PERNAH MATI

  • PDFPrintE-mail
Humas - Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tidak akan punah sebelum kiamat datang, Sebab kesejahteraan sosial sulit dicapai bila tidak ada sinergisitas antara berbagai elemen dan sikap mental individu yang lemah. 
Hal tersebut disampaikan dosen IAIN Walisongo Semarang Drs M Masrur MAg saat menyampaikan makalah pada kegiatan koordinasi dan fasilitasi program penanggulangan kemiskinan secara sinergis tingkat Badan Kordinator Wilayah (Bakorwil) III, di Pendopo Bupati Brebes, Kamis (26/4).
Termasuk terjadinya musibah bencana alam, akan memicu meningkatnya permasalahan sosial yang makin kompleks, baik dari kuantitas maupun kualitasnya.
Namun berkembang maju atau kayanya suatu Negara tidak tergantung pada umur Negara, sumber daya alam, ras/warna kulit maupun kecerdesan. Yang lebih berpengaruh hanyalah karakterisktik kaya mental. 
Dicontohkan, India dan Mesir sudah 2000 tahun tetapi masih tetap miskin sampai kini. Sebaliknya, Singapura, Australia, Kanada dan Selandia Baru sudah dikelompokan sebagai Negara maju. Jepang hancur tapi bangkit, swiss negara kecil tapi bank-banknya sangat dipercaya. “Negara-negara maju itu, memiliki karakteristik kekayaan mental yang luar biasa,” terang Masrur.

Menurutnya, karakteristik mental itu meliputi disiplin dan menghargai waktu, tanggung jawab, mematuhi hokum, cinta pada pekerjaan (dedikasi), mau bekerja keras, integritas, kemauan untuk belajar, kejujuran dan sifat serta sikap positif lainnya. 
Menjadi tantangan sendiri bagi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dalam upaya mensukseskan kesejahteraan social. Dalam catatan Badan Pusat Statistik Tahun 2010 dari jumlah penduduk Jateng 32.380.687 terdapat PMKS Jateng 19,53 persen (6.322.494). 
Dalam setahun, pemerintah provinsi Jawa Tengah hanya mampu mengentaskan 5 persen (700 ribu orang) dari  jumlah PMKS yang sekitar 14 juta lebih. Jadi, jika Gubernur menjabat selama lima tahun, maka dia baru mampu mengentaskan PMKS 25%. Sedangkan bencana dan permasalahan social terus bertambah dan makin kompleks. “Memang terlalu berat tugas Gubernur atau Bupati karena kondisi riil dilapangan demikian adanya,” 
Siapapun akan menghabiskan uang bila diberi seseorang, karena bukan atas jerih payah. Padahal yang perlu dibangkitkan adalah membangkitkan sikap dan sikap mental untuk kesejahteraan rakyat,” ungkap Masrur yang juga Ketua Pusat Pengkajian Mutu Akademik IAIN Walisongo Semarang.
Sementara angka kemiskinan di Brebes, berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 ada 23,01 persen dari 1,7 Juta. Brebes menempati nomor 4 terbawah dari Purbalingga, Rembang dan Wonosobo. 
Kondisi PMKS Jateng tahun 2011, Anak Terlantar, jalanan dan nakal sebanyak 138.324 orang, Penyandang cacat (236.304), Wanita rawan social ekonomi (163.037), Lanjut usia terlantar (190.165), HIV/AIDS (846), Tuna Susila (5.091), PGOT (5.546) dan Eks Napi (13.282).
Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Dra Noor Chayati MSi menjelaskan, kegiatan rakor digelar dalam upaya memfasilitasi program-program penanggulangan kemiskinan secara sinergis melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Kegiatan diikuti 105 perwakilan dari Kabupaten/Kota se wilayah eks Karesidenan Pekalongan dan Banyumas. 
Kegiatan dibuka Bupati Brebes H Agung Widyantoro SH MSi yang diwakili Asisten 3 Sekda Brebes Drs Suprapto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar