Senin, 23 April 2012

Pembelajaran Inovatif, Guru Perlu Jadi Manekin


PENDIDIKAN
23 April 2012
Pembelajaran Inovatif, Guru Perlu Jadi Manekin
 0
 
  0
SEMARANG-Penyampaian materi yang dilakukan guru membawa pengaruh besar dalam keberhasilan pembelajaran. Untuk itu guru harus pandai bermain peran. “Dalam pembelajaran guru itu ibarat manekin,’’ kata dosen fakultas Sastra Unika Soegijapranata Linggayani Soentoro, Minggu (22/40.
Bermain peran yang dimaksud di sini menurut dia adalah bagaimana mengelola pembelajaran sehingga siswa dapat memahami secara nyata apa yang diajarkan. Untuk itu perlu mengesampingkan rasa malu pada diri guru. “Pembelajaran bahasa dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara kesusastraan dengan elemen seni yang lain seperti musik,’’ kata dia.
Salah satu pembelajaran inovatif yang bisa diberikan pada siswa adalah melalui drama. Linggayani sendiri mempresentasikan metode pembelajaran pembelajaran berbasis project drama bebahasa Inggris di SMA berjudul “English Drama Project: It makes Us Alive dalam Pearson’s South Asia Amazing Minds 2012, Da Nang, Vietnam belum lama ini. Konferensi yang bertajuk “Always Learning - The Promotion & Emotion of English Language Teaching” ini dihadiri oleh para pendidik baik dari sekolah negeri maupun swasta yang terdiri dari jenjang SD, SMP, SMA dan Universitas, lembaga bahasa, dan institusi pendidikan lainnya dari 7 negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapore, Vietnam, Thailand, Filipina dan Kamboja.
Drama
Project drama ini dijelaskannya menjadi sebuah simulasi penerapan kehidupan berbahasa inggris dalam dunia nyata. Metode yang diterapkan bersifat dinamis dan tidak sekadar menerapkan pembelajaran teoritis belaka.
 “Akan tetapi juga mendorong siswa untuk menerapkan secara langsung kemampuan praktek berbahasa inggris yang nyata dalam proses pembuatan pentas drama.,’’ terangnya.
Linggayani menambahkan drama dapat melatih siswa untuk berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu akan menunjukkan kemampuan yang ada dalam diri tiap siswa , baik dalam bidang komunikasi, kesusastraan, ataupun organisasi. “Penerapan kemampuan secara kognitif, afektif dan psikomotorik secara individu juga dapat terlihat dalam pembuatan project ini,’’ kata Linggayani yang juga guru bahasa Inggris di SMA Tri Tunggal itu.
Ada tiga tahap dalam pembuatan pentas drama ini. Project  yang berlangsung selama satu semester ini diawali dengan tahap pertama yaitu tahap persiapan dilanjutkan dengan pelaksanaan dan diakhiri pementasan. Semua siswa akan terlibat dalam project karena di dalamnya mereka bisa berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Inggris dan bekerja sama dalam kelompok.
“Setelah semua proses persiapan selesai, mereka akan sampai pada hari pertunjukan. Dalam pertunjukan ini akan dapat dilihat perkembangan bukan hanya dalam berbahasa Inggris tetapi juga dalam perkembangan karakter tiap siswa,’’ terang pemilik Eduhouse itu. (K3-91)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar