Rabu, 11 April 2012

Sanggul dari Limbangan Wetan Brebes

Sanggul dari Limbangan Wetan Brebes

  • , 4 April 2012 12:53
  •      0 vote
    • sanggulLimbah rambut yang diperoleh dari sisa potongan rambut di salon dan tempat cukur rambut, dapat diolah menjadi produk yang menghasilkan uang.
      Di Brebes, Jawa Tengah, limbah rambut tersebut diolah menjadi sanggul yang banyak diminati orang.
      Limbah rambut atau sisa potongan rambut dari salon atau tempat cukur rambut, seringkali menjadi sampah yang harus dibuang. Namun bagi sebagian warga Desa Limbangan, Brebes, Jawa Tengah, limbah potongan rambut justru mereka cari karena dapat menghasilkan uang.
      Produk kerajinan sanggul merupakan hasil home industri masyarakat Kelurahan Limbangan Wetan Kecamatan Brebes. Jaringan pemasaran pelengkap tata rias wanita ini telah menyebar ke seluruh wilayah nusantara.
      Ditangan mereka, limbah rambut dapat diolah menjadi aneka bentuk dan jenis sanggul yang cukup diminati masyarakat.
      Menurut Sriyatun, salah seorang pengrajin sanggul, limbah rambut sebagai bahan baku sanggul dibelinya dengan harga 8000 rupiah per kilogram, dari sejumlah salon di Brebes. Setiap minggu, Sriyatun mampu memproduksi hingga 10 kodi sanggul aneka jenis dan bentuk. Sriyatun mengaku mampu meraup keuntungan sebesar Rp 200 ribu per minggu.
      Sanggul-sanggul buatan Sriyatun dipasarkan di butik-butik di kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Harga yang dipatok bervariasi, antara Rp 7500 hingga Rp 2500 per buah, tergantung pada bentuk dan modelnya. Di kota metropolitan Jakarta, harga tersebut bisa lima kali lipat, bahkan sampai 10 kali lipat. Semakin rumit bentuk dan model sanggul, semakin mahal harganya.
      Untuk membuat konde, perajin mengumpulkan rambut bekas potongan dari salon kecantikan. Bahan baku diperoleh dari pengepul yang datang ke para perajin. Bahan potongan rambut yang panjang dan pendek dipisah-pisah.
      Yang pendek mereka jadikan satu kemudian disasak menggunakan alat sederhana, sebuah kayu yang di atasnya dipasang jeruji sepeda motor yang ujungnya lancip seperti paku. Setelah penyasakan selesai, rambut direbus dicampur pewarna hitam.
      Proses rebusan itu memakan waktu sampai dua jam. Setelah itu, bahan rambut dicuci dan dijemur di terik matahari. Setelah itu, para perajin konde menyasak kembali untuk dibentuk sesuai dengan keinginan.
      “Pengerjaan sanggul dilakukan tanpa menggunakan mesin. Jadi melibatkan banyak tenaga kerja. Setelah dibeli, limbah rambut direbus dulu kemudian diwantek dan dijemur. Setelah dijemur, baru disisir dan dibentuk”, jelas Sriyatun.
      Permintaan sanggul biasanya meningkat pada bulan-bulan tertentu ketika banyak orang menggelar hajat pernikahan. Jadi, tak pernah ada pikiran didiri mereka, bahwa kerajinan mereka tak akan laku di pasaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar