Jumat, 20 April 2012

Rumah Betang, Pencerminan Kalimantan Tengah


Rumah Betang, Pencerminan Kalimantan Tengah
Rabu, 18 April 2012
Foto: bd/dtc
(Berita Daerah - Kalimantan) Kemarin, saat siang hari masih terik. Mesin mobil menderu seperti berteriak minta istirahat. Ban mobilpun berdecit seperti tak sanggup mencengkram jalanan yang bertanah lembap. Tak berhenti, kami harus sampai ke sana. Tumbang Manggu, tempat yang kami tuju. Rumah Betang yang (katanya) kokoh berdiri menunggu untuk dikunjungi.
Hampir 5 jam sudah kami berada duduk di mobil ini. Sudah berpuluh puluh kali CD ini berputar pada lagu yang sama. Hanya untuk mengetahui kami harus menyeberangi 2 sungai. Dengan kapal rakitan masyarakat lokal. Menyeberang yang hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Dengan bayaran hanya Rp10.000,00 per mobil berapapun isi mobil.
Foto: bd/dtc
Tak lama, terlihat sudah Rumah Betang yang dimaksud. Ternyata memang kokoh. Pancang kayunya tegap gagap menyandang badan. Atapnya tinggi mencakar, terlihat sangat angkuh, dan tangga kayu justru menjulur seakan menyambut. Terbuat dari kayu ulin, memakan waktu 2 tahun untuk membangun kegagahan ini. Simbol Kalimantan Tengah.
Rahang kami hampir menyentuh tanah menyusuri setiap inci dari Rumah Betang. Kami mendadak haus untuk mengabadikan setiap sudut, setiap inci kayu, setiap batang. Perjalanan sekitar 5 jam dari Palangkaraya ke arah utara terbayar sudah. Kepenatan tak tersisa. Terbakar angin yang dingin bertiup.
Foto: bd/dtc
Sekarang, kami harus meninggalkan Palangkaraya yang setiap pagi menyambut dengan asap. Yang warganya rajin mengantri solar di setiap pom bensin. Tak ada pom bensin yang nggak antri. Kadang bukan hanya solar, premiumpun antri.
Ini daerah yang memerkenalkan dengan sayur umbut rotan. Dulu sih, taunya rotan hanya untuk dianyam. Dan ternyata, rasanya pahit. Pengolahan yang benar menjadi kunci. Palangkaraya yang membuat sadar, kalo hutan Indonesia memang dalam keadaan gawat! Kebakaran lahan terjadi setiap hari, sengaja ataupun tidak. Hampir setiap sore menjelang malam, melihat langit merah. Membara karena si jago. Asap hitam pekat membumbung tinggi. Asap putih tebal menutup bulan. God bless this rainforest.

Foto: bd/dtc
Palangkaraya kota kecil. Tak pernah ada kata macet. Jalanan bebas hambatan, sebenar benarnya. Kota ini membosankan. Tapi, saya nggak komplain. Saya menikmati menjadi bosan di Palangkaraya. Sepanjang mata memandang, hanya ruko. Tak sulit menemukan apapun yang kita cari. Bagi seorang yang suka dengan buah, silahkan berbahagia. Sangat mudah, menemukan penjual buah di pinggir jalan. Penjual yang bertoko, bertikar, atau bermobil. Penjual buah lokal, atau impor, silahkan pilih. Beli satuan, atau grosiran, mudah dicari. Sejujurnya, belum sempat mengeksplor banyak Palangkaraya,apalagi keindahan Kalimantan Tengah atau Central Borneo.
"But I'm in love at the first sight, even more on the last bite."
(Farid Ardian/SNS/bd-dtc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar