Jumat, 13 April 2012

Modernisasi Narasi Gatotkaca

Modernisasi Narasi Gatotkaca

Minggu, 5 Februari 2012 - 11:20 wib
Titi DJ berperan sebagai Arimbi (Foto: dok. Djarum Foundation)
Titi DJ berperan sebagai Arimbi (Foto: dok. Djarum Foundation)
GATOTKACA tampil lebih segar dan modern yang diangkat dalam gaya drama sinema Gatotkaca Jadi Raja. Inilah pencampuran antara sinematografi, unsur gerak, wayang kontemporer, dan orkestrasi musik rock.

Musik rock menghentak mengiringi nyanyian Dewi Arimbi yang murka. Beberapa pasukan Brojodento mengepungnya. Di panggung, Dewi Arimbi (Titi DJ) berdiri gagah. Sementara di tiga layar berukuran lebar, sosok Arimbi digambarkan berbadan besar dan berubah menjadi raksasa.Arimbi terus bernyanyi.

Musik rock makin menghentak hingga panggung ditelan kegelapan. Itu salah satu bagian yang ditunjukkan MSP Production dan Djarum Bhakti Budaya kepada wartawan tentang pergelaran drama sinema Gatotkaca Jadi Raja di Senayan City, sehari sebelum digelar pada Sabtu kemarin (4/2).

Sebagian kecil dari pertunjukan yang berdurasi satu jam itu memang tidak komplet. General rehearsal (GR) versi MSP Production hanya berisi tiga adegan. Itu pun Titi DJ tidak memakai kemben layaknya wayang orang. Meski demikian, pertunjukan yang digelar lima kali pada hari Sabtu itu rasa-rasanya akan menjadi salah satu pertunjukan yang hendak memperbarui tradisi.

MSP Production dengan sutradara Mirwan Suwarso mencoba mengolaborasikan antara cerita tradisi dengan sentuhan sinema dan pementasan di atas panggung. Konsep ini pernah mereka bawakan tahun lalu lewat pertunjukkan Jabang Tetuko. Bedanya, dalam pertunjukkan kali ini, mereka berupaya untuk tampil lebih fresh.
Sutradara Gatotkaca Jadi Raja, Mirwan, mengatakan ada beberapa penambahan efek visual yang lebih baik daripada pertunjukkan JabangTetuko. Salah satunya efect visual dibuat lebih lama. Ada gambaran penari-penari di tiga layar berukuran besar. Penari itu mengiringi tarian penari yang ada di panggung. Alhasil, penonton disuguhi tampilan pasukan yang tampak lebih kolosal.

Tak hanya itu, unsur gerak tari juga lebih kontemporer. Ada street dance yang dimasukkan Mirwan dalam tari-tarian pasukan Brojodento. Lebih segar mengingat mereka memang tidak sedang melestarikan tradisi—atau jika mau, mereka dapat disebut sebagai pengembang tradisi dan bukan pelestari tradisi.

“Kita mencoba untuk menampilkan tradisi, tapi disesuaikan dengan kondisi saat ini.Lakon ini juga ditunjukkan bagi anak-anak tentang sosok pahlawan bernama Gatotkaca,” tegas Mirwan.

Selain itu, yang lebih segar dari pertunjukan ini adalah penataan musik yang memadukan rock dan punk. Aksan Sjuman begitu brilian menggantikan alunan pentatonis gamelan dengan orkestrasi musik rock yang menghentak-hentak. Alunan musik ini membawa dampak yang cukup signifikan dan terasa sangat kontemporer. Dengan alunan yang lebih ngerock, emosi penonton bisa lebih terbangun dengan cepat. Ketika Brojodento akan menyerang Gatotkaca, musik dari Aksan menjadi pengiring yang begitu membangkitkan semangat peperangan.

Dalam gelaran ini, Aksan menampilkan aransemen yang brilian. Aksan juga menciptakan delapan lagu yang masing-masing dinyanyikan para tentara dan pemeran Brojo Lamatan (Aqi Alexa), Dewi Arimbi (Titi DJ), dan Gatotkaca (Tora Sudiro). Musikalisasi dari pertunjukan ini memang lebih mirip sebagai drama musikal dengan cerita wayang meski Mirwan lebih senang menyebutnya sebagai drama sinema.

Pasalnya, dalam setiap adegan, lagu-lagu ini dinyanyikan oleh sejumlah pemain dalam menggambarkan emosinya. Mirip dengan drama musikal yang tengah menjamur di panggung pertunjukan kesenian.
(SINDO//ftr)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar