Minggu, 22 April 2012

Melestarikan Cerita Rakyat Berarti Mewariskan Budaya

Minggu, 08 April 2012 | 19:53:03 WITA | 356 HITS
Melestarikan Cerita Rakyat Berarti Mewariskan Budaya 

SAYA tiba-tiba tergelitik . Ingin menulis betapa pentingnya cerita rakyat dilestarikan, agar pesan yang dikandungnya tidak hilang.

Cukup lama saya di depan komputer. Mencari kata untuk memulai tulisan ini. Saya kebingungan sendiri harus memulainya dari mana. Karena cakupan cerita rakyat tentu luas. Selain itu, cerita rakyat merupakan warisan budaya yang sarat dengan makna yang tergolong ke dalam sastra  lisan yang turun temurun, media penyampaiannya melalui bahasa tutur (bercerita) dan penyebarannya dari mulut ke mulut. Hal inilah yang menyulitkan untuk mendeteksi siapa pengarang cerita rakyat tersebut.

Tidak bisa  dipungkiri bahwa cerita rakyat telah menjadi  milik masyarakat dan daerah tertentu, baik berupa dongeng,
legenda, hikayat, maupun mitos. Cerita rakyat biasanya dijadikan pengantar tidur anak-anak, atau sarana hiburan ketika malam  tiba. Orang tua dulu biasanya menanamkan pendidikan moral dan nasihat kepada anaknya melalui tradisi tutur (bercerita) yang menurut penelitian  akan melekat sampai dewasa.

Hal ini sangat bermanfaat  dalam membentuk watak sang anak. Dalam cerita rakyat banyak mengandung nilai-nilai kejujuran, keberanian, saling mengasihi, saling menghormati, dan lain sebagainya yang merupakan nilai-nilai kebaikan.

Nilai-nilai inilah ketika ditranformasi ke dalam kehidupan sehari-hari  akan menjadi nilai yang tak terhingga harganya.  Sulawesi Selatan,  tentu tidak lepas dari pengaruh cerita rakyat  yang telah mengakar kuat dalam  masyarakatnya. Tidak sedikit masyarakat yang menjadikannya sebagai pegangan pembenaran  suatu tempat, baik itu letaknya maupun dari segi penamaan.

Cerita rakyat (baca sastra lisan) juga mengandung informasi kebudayaan sebagaimana dikemukan oleh  Heddy Shri Ahimsya-Putra (1966)  bahwa sebagai suatu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, sastra lisan tidak hanya mengandung unsur  keindahan (estetik) tetapi juga mengandung berbagai informasi nilai-nilai kebudayaan tradisi yang bersangkutan.  Oleh karena itu, sebagai salah satu data budaya, sastra lisan dapat dianggap sebagai pintu untuk memahami salah satu atau mungkin keseluruhan unsur kebudayaan yang bersangkutan. 

Sebagai warisan budaya yang kita miliki, maka sudah sepantasnyalah kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melestarikannya agar tidak punah. Sayangnya perkembangan teknologi membuat cerita rakyat tersingkir. Tidak ada lagi  orang tua yang menanamkan nilai moral kepada anaknya melalui tradisi tutur tersebut. Anak-anak hanya disuguhi hiburan yang serba instan, semisal tayangan televisi.

Nyaris tidak ada lagi ditemukan keluarga dalam satu rumah berkumpul mendengarkan cerita rakyat. Keluarga berkumpul di depan TV menonton tayangan  kesukaannya. Maka cerita rakyat perlahan tak mempunyai daya tarik apa-apa.

Berangkat dari  kekhawatiran cerita rakyat semakin hilang inilah, sekelompok pelajar dan mahasiswa  mengikuti workshop penulisan mengolah cerita rakyat ke dalam cerita pendek (cerpen) yang diadakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Makassar bekerja sama dengan Yayasan Baruga Nusantara dan Sanggar Alam Serang Dakko di Benteng Somba Opu Gowa selama tiga hari mulai 30 Maret hingga 1 April 2012.

Tentu sangat diharapkan “alumni” workshop tersebut bisa berbicara banyak untuk pelestarian cerita rakyat, agar nilai-nilai pendidikan moral dan dan pesan-pesan kebaikan di dalamnya tidak punah seiring dengan banyaknya pelaku tutur yang  meninggalkan dunia ini dan dengan mentransformasikan ke dalam sastra modern (cerpen) diharapkan  akan lebih segar dan menarik dibaca, sehingga cerita rakyat tidak menjadi barang yang dianggap “kuno” yang tak  mempunyai nilai apa-apa. 

Dalam workshop tersebut, hadir pembicara, di antaranya Dul Abdul Rahman seorang novelis yang tetap konsisten mengangkat tema-tema lokal ke permukaan, Saifuddin Bahrum, dosen dan pemerhati cerita rakyat dan Basri yang merupakan redaktur budaya Harian FAJAR. Di akhir workshop, peserta membentuk sebuah wadah penulisan yang dinamai "Kerabat Penulis Rakkeang" yang wilayahnya akan memfokuskan pada penulisan dan pelestarian cerita
rakyat.

Rakkeang sendiri merupakan bahasa Bugis, yakni  bagian atas rumah yang biasa dijadikan tempat menyimpan padi, jagung bahkan pusaka. 

Saya dan mungkin juga pembaca berharap agar "Kerabat Penulis Rakkeang" mampu berbicara banyak bagi pelestarian cerita rakyat sebagai sarana pendidikan moral yang sangat penting sebagai pegangang hidup. 

Melalui aktivitas "Kerabat  Penulis Rakkeang" diharapkan pula pesan-pesan dalam cerita rakyat  mampu dituangkan dalam kehidupan sehari-hari, agar kehidupan ini tidak karut-marut seperti sekarang dan tidak ada yang  saling sikut demi mementingkan diri dan golongannya.

Makassar , 3 April  2011

Penulis, Warga Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra Sulawesi Selatan (IPASS Sulsel) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar