Rabu, 15 Februari 2012

Tanggapam Terhadap Ramalan Indonesia Pecah tahun 2015

Tanggapan terhadap,ramalan Indonesia pecah tahun 2015.

Posted on May 18 2011 by Ferdinand Pandey / IM
Membaca ramalan Djuyoto melalui tulisannya seperti ini ,saya kira hampir semua orang bisa melakukannya.Lain lagi kalau   penjelasannya/analisanya seperti dua orang akhli ilmu sosial  yaitu,Huntington dan yang satulagi lupa namanya, mereka berdua pernah memprediksikan di dunia yang semakin global  akan terjadi benturan kebudayaan (agama) dalam bentuk kekerasan. Analisa ramalan/prediksi kedua akhli Ilmu sosial tersebut didasarkan pada penelitan ilmiah, dan ternyata kebenaran ramalan/predisinya terbukti setelah 20 tahun kemudian terjadi pemboman yang dikenal dengan peristiwa 9 – 11 – 2001. di New York.Dibandingkan dengan ramalan Djuyoto bahwa tahun 2015 NKRI akan bubar,ramalan seperti ini beberapa tahun sebelumnya sudah banyak orang yang mengatakan dan diberitakan di Media Pers.Hanya saja perbedaannya Djuyoto mengkaitkan dengan mistik/aliran kepercayaan kejawen.
Saya katakan hampir semua orang bisa melakukan ramalan seperti ini,karena saya sendiri ditahun 2004 sudah mendengar bahwa perjuangan Islam garis untuk menjadikan NKRI menjadi negara berazaskan Islam akan tinggal landas tahun 2015 dan di tahun 2020 Hukum syariah sudah rampung penerapan di seluruh NKRI.Apalagi tahun 2011 sekarang ini sudah semakin terlihat berbagai kekacauan yang mereka ciptakan dalam rangka NKRI menjadi “Negara Islam Indonesia”.Dari sini saja sudah sangat jelas Indonesia akan terpecah belah apabila rencana tersebut terus dipaksakan.
Dari uraian penjelasan Djuyoto ini,maksud sebenarnya bukan murni ramalan atau tidak sama seperti yang  dikemukakan oleh kedua akhli ilmu sosial tersebut diatas,tetapi penjelasan Djuyoto lebih mengarah kepada anti “Demokrasi”,Seperti diketahui nillai nilai demokrasi sudah menjadi “Main Stream”nilai nilai global”.Dalam hal ini suatu bangsa negara untuk masuk dalam pergaulan Global, nilai nilai Global tersebut, minimal sudah harus tersirat dalam “penerapan Hukum,HAM,sistem Hukum Ketatanegaraan” dalam hal menjalankan sistem pemeritahan dalam negaranya.Pada kenyataannya bangsa negara yang sampai sekarang masih tetap anti demokrasi dalam berprocesnya di era globalisasi tidak bisa bertahan, dimana masyarakatnya terus menerus mengalami kekacauan,penderitaan,kekerasan,semakin terpuruk,dll.Contoh,negara2 yang anti demokras,yang masih menjalankan Hukum Syariah yaitu,beberapa negara Arab yaitu,Suriah,Iran,Irak,dan di Asia adalah Pakistan,Afganistan,dan Indonesia sedang menuju kesana.kemudian beberapa negara di Africa antara lain,Mesir,Libia,Somalia,Yaman.Sudan,dll.Begitu juga negara negara yang masih menjalankan Hukum dan sistem Ketata Negaraannya berdasakan faham sosial komunis nasibnya sama dengan negara2 Islam tersebut yaitu, beberapa negara di America Latin,Cuba,Bolivia, dan di Asia tinggal satu2nya yaitu Korea Utara.
Menurut pengamatan saya selama ini di Indonesia ada tiga aliran yang anti demoksi Yaitui,1)Islam garis keras yang berusaha dengan kekerasan untuk menjadikan NKRI negara Islam,2)Feodal Kejawen ,yang sangat bernafsu menguasai NKRI dimana NKRI harus dikuasai oleh tirani turun temurun dari kelompok keluarga keluarga yang berasal dari sekitar kelompok mereka.3)Mereka yang masih menganut aliran sosiallis Marxisme.
Mereka ini sangat anti USA,negara2 Eropa Barat,Australia,anti Semit(bangsa Yahudi),dan negara negara maju lainnya.
Ketiga kelompok aliran tersebut diatas,dalam rangka mencapai tujuan masing masing,kenyataan dilapangan mereka saling memanfaatkan,saling menunggangi dan saling memanipulasi.Situasi dan kondisi masyarakat luas diobok obok antara lain dalam hal keamanan dan ketenangan hidup .Masyarakat sering diadu domba dikotak kotakan dengan cara mempertentangkan perbedaan SARA.
Hukum dan HAM dan Hukum Tata Negara ditumbangkan alias dilumpuhkan.Seperti kita ketahui bersama, sekarang ini banyak kasus kejahatan berat yang terjadi,dan bukan lagi rahasia umum bahwa,”yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.Untuk menutupi kebangkrutan Negara yang disebabkan kejahatan Korupsi yang dilakukan oleh penguasa istilah, neolib,kapitalisme,liberalisme,kafir,sering digunakan untuk menuduh negara2 maju yang Demokrasi sebagai penyebab,keterpurukan bangsa negara,dengan maksud mengalihkan perhatian masyarakat dari kejahatan berat yang dilakukan oleh para penguasa.Supaya masyarakat luas tetap dibodohi dan terisolasi dari pergaulan Global istilah tersebut sering digunakan dengan cara memutar balikan data dan fakta bahwa,negara2 maju yang menganut nilai2 Demokrasi adalah penyebab yang selalu membawa malapetaka dan penderitaan bagi umat manusia diseluruh dunia.Karena dengan terisolasinya masyarakat luas dari pergaulan globalisasi dengan sendirinya kegiatan masyarakat luas hanya bergantung akan segala galanya kepada penguasa.Sehingga dengan adanya ketergantungan rakyat/masyarakatnya tetap bodoh,merasa terancam,tidak ada kreatifitas dan actualisasi diri serta tetap miskin sehingga dengan demikian gampang diatur dengan sesuka hati oleh mereka yang berkuasa.

Disadur dari Milis Migas Indonesia,…. 

Ramalan Indonesia Pecah Tahun 2015

Djuyoto Memprediksi Tahun 2015 Indonesia Pecah. Beragam reaksi dan tanggapan muncul ketika prediksi tentang masa depan Indonesia, yang juga dijadikan judul buku oleh Djuyoto Suntani, itu muncul dalam acara Dialog Kebangsaan yang berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok sekaligus peluncuran buku tersebut. Komentar bernada pesimis, optimis, hingga rasa tidak percaya silih berganti diberikan oleh berbagai pihak yang hadir di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial kemarin. Mungkinkah Indonesia benar-benar akan ‘pecah’ pada tahun 2015?
Djuyoto Suntani, sang penulis buku, menyatakan dalam bukunya paling tidak ada tujuh faktor utama yang akan menyebabkan Indonesia “pecah” menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil di tahun 2015. Kepingan negeri-negeri kecil itu sendiri menurutnya didirikan berdasarkan atas:

1. Kepentingan rimordial (kesamaan etnis),
2. Ikatan ekonomis (kepentingan bisnis),
3. Ikatan kultur (kesamaan budaya),
4. Ikatan ideologis (kepentingan politik), dan
5. Ikatan regilius (membangun negara berdasar agama).
Penyebab pertama adalah siklus tujuh abad atau 70 tahun. Dalam bukunya ia menuliskan;
“Seperti kita ketahui, semua yang terjadi di alam ini mengikuti suatu siklus tertentu. Eksistensi suatu bangsa dan negara juga termasuk dalam suatu siklus yang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum alam. Dia mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah. Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″.
Dia pun menyatakan,
“Selama ini saya selalu optimis, tapi melihat perkembangan di lapangan, apa yang terjadi pada sesama anak bangsa, sungguh mengenaskan. Irama perpolitikan nasional dewasa ini mengisyaratkan hitungan siklus bersatu dan bubar dalam tujuh abad, 70 tahun tampaknya kembali terulang. Berbagai fenomena alam yang menguat ke arah bukti kebenaran siklus sudah banyak kita saksikan. Pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik, tidak kunjung selesai, tulis Djuyoto. Penyebab kedua, Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa. Setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto, tidak ada tokoh nasional yang benar-benar bisa mempersatukan bangsa ini. Masing-masing anak bangsa selalu merasa paling hebat, paling mampu, paling pintar, dan paling benar sendiri. Para tokoh nasional yang memimpin negeri ini belum menunjukkan berbagai sosok negarawan karena dalam memimpin lebih mengutamakan kepentingan politik golongan/kelompok daripada kepentingan bangsa (rakyat) secara luas. Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan”. Katanya tegas.
Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana/uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan jadi Presiden; merupakan penyebab ketiga Indonesia akan pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Masing-masing tokoh ingin menjadi nomor satu di suatu negara. Fenomena ini sudah menguat sejak era reformasi yang dimulai dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah.
Salah satu penyebab Indonesia akan pecah di tahun 2015 karena adanya konspirasi global. Ada grand strategy global untuk menghancurkankeutuhan Indonesia. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia atau bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai negara bangsa, tegasnya. Konspirasi global ini, Djuyoto Suntani melihat, terus bergerak dan bekerja secara cerdas dengan menggunakan kekuatan canggih melalui penetrasi budaya, penyesatan opini, arus investasi, berbagai tema kampanye indah seperti demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, kebebasan pers, kemakmuran, kesejahteraan, sampai pada mimpi-mimpi indah lewat bisnis obat-obatan terlarang dengan segmen generasi muda.
Penyebab utama kelima Indonesia akan”‘pecah” dalam penilaiannya adalah faktor nama. Apa yang salah dengan nama? Ternyata, nama Indonesia sesungguhnya berasal dari warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur alias Hindia Belanda. Kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas malah sering menyebut Indonesia dengan singkatan: In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau kalau diartikan secara bebas nama Indonesia sama dengan singkatan Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Pemberian nama Indonesia oleh Belanda memang memiliki agenda politik tersembunyi sebab Belanda tidak rela Indonesia menjadi bangsa dan negara yang besar. Nama orisinil kawasan negeri ini yang benar adalah Nusantara, yang berasal dari kata Bahasa Sansekerta Nusa (pulau) dan Antara. Artinya, negara yang terletak di antara pulau-pulau terbesar dan terbanyak di dunia sebab negara kita merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Bila para anak bangsa tahun 2015 mampu menyelamatkan keutuhan negeri ini sebagai satu bangsa, salah satu opsi adalah dengan penggantian nama dari Indonesia menjadi Nusantara. Nama Nusantara lebih relevan, orisinil, berasal dari jiwa bumi sendiri dan lebih membawa keberuntungan, pesan Djuyoto. Namun, karena perpecahan sudah di ujung tanduk, salah satu agenda dalam membangun komitmen baru sebagai bangsa dalam pandangannya adalah dengan cara (perlu direnungkan) mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Karena, nama memiliki arti serta memberi berkah tersendiri. Tidak hanya nama Indonesia yang bisa menjadi penyebab negeri ini pecah, nama Jakarta pun ternyata ikut berpengaruh terhadap keutuhan republik ini.
Nama Jakarta, Djuyoto mengungkapkan, memiliki konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat. Bila kita ingin menyelamatkan Indonesia dari ancaman perpecahan serta punya komitmen bersama untuk membawa negara ini menjadi negara besar yang dihormati dunia internasional, maka nama ibukota negara seyogianya dikembalikan kepada nama awalnya yaitu Jayakarta. Nama Jayakarta lebih tepat sebagai roh spirit Ke-Jaya-an Ibukota negara daripada nama Jakarta, sarannya.
Penyebab terakhir pecahnya Indonesia adalah gonjang ganjing pemilihan Presiden tahun 2014. Dia menyatakan dalam Pilpres 2009 bisa saja sejumlah tokoh yang kalah masih mampu mengendalikan diri tapi gejolak massa akar rumput yang berasal dari massa pendukung tidak mau menerima kekalahan jago pilihannya. Mereka lalu mempersiapkan diri untuk maju bertarung lagi pada Pilpres 2014. Pilpres 2014 adalah puncak ledakan dashyat gunung es yang benar-benar membahayakan integrasi Indonesia. Menurut Djuyoto dari informasi yang ia peroleh di seluruh penjuru Tanah-Air, indikasi karena gengsi kalah bersaing dalam Pilpres Indonesia lantas mengambil keputusan radikal dengan mendeklarasikan negara baru bukanlah sekedar omong kosong tapi akan terbukti. Pergolakan alam negeri ini seperti gunung es yang tampak tenang di permukaan namun setiap saat pasti meletus dengan dashyat.
Djuyoto Suntani menjelaskan, pada Pilpres 2014 bakal bermunculan figur dari berbagai daerah yang mulai berani bertarung memperebutkan kursi RI-1 untuk bersaing dengan tokoh nasional di Jakarta. Para tokoh daerah sudah dibekali modal setara dengan para tokoh nasional di Jakarta. Jika mereka kalah dalam Pilpres 2014, karena desakan massa pendukung, opsi lain adalah mendirikan negara baru, melepaskan diri dari Jakarta. Gonjang ganjing Indonesia sebagai bangsa akan mencapai titik didih terpanas pada Pilpres 2014. Jika kita tidak mampu mengendalikan keutuhan negeri ini, tahun 2015 Indonesia benar-benar pecah. Para Capres Indonesia 2014 yang gagal ramai-ramai akan pulang kampung untuk mendeklarasikan negara baru. Mereka merasa punya kemampuan, punya harga diri, punya uang, punya jaringan dan punya massa/rakyat pendukung. Perubahan dan pergolakan politik nasional pada tahun 2014 diperkirakan bisa lebih dashyat karena tidak ada lagi figur tokoh pemersatu yang dihormati dan diterima oleh seluruh bangsa.
Agar Indonesia tidak pecah, dia menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersatu. Dia berharap seluruh bangsa menyadari ancaman yang ada di depan mata dan kemudian saling bergandengan tangan bersatu untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Djuyoto bilang buku ini ditulis sebagai peringatan dini, sebagai salah satu wujud untuk berupaya menyelamatkan Indonesia dari ancaman kehancuran. Dengan adanya buku ini diharapkan semoga anak-anak bangsa mulai menyadari bahwa hantu Indonesia pecah sudah berada di depan mata. Kalau sudah paham, diharapkan mulai tumbuh kesadaran dari dalam hati lalu secara bersama-sama mengambil langkah untuk mencegah.
ke 17 negara itu antara lain.
1.Naggroe Atjeh Darrusallam : Banda Atjeh
2.Sumatra Utara : Medan
3.Sumatra Selatan : Lampung
4.Sunda Kecil : Jakarta
5.Jamar (Jawa Madura) : Surakarta
6.Yogyakarta : Yogyakarta
7.Kalimantan Barat : Pontianak
8.Kalimantan Timur : Samarinda
9.Ternate Tidore : Ternate
10.Sulawesi Selatan : Makassar
11.Sulawesi Utara : Manado
12.Nusa Tenggara : Mataram
13.Flobamora & Sumba: Kupang
14.Timor Leste : Dili- sudah pecah
15.Maluku Selatan : Ambon
16.Maluku Tenggara : Tual
17.Papua Barat : Jayapura

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar