Sabtu, 11 Februari 2012

Siri na Pesse dalam Kekerabatan Masyarakat Bugis Makasar

Siri na Pesse’ dalam Kekerabatan Masyarakat Bugis Makassar

sumber postingan: www.daengrusle.net
Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’ gulingku, kualleangnga tallanga natoalia.
(Layarku telah kukembangkan. Kemudiku telah kupasang. Kupilih tenggelam daripada melangkah surut)
- Syair Sinrilik Makassar

Tidak ada yang lebih berharga dari sebuah kehormatan. Sejak manusia diturunkan ke bumi, maka berulangkali kita membaca bahwa penegakan kehormatan terkadang menjadi asbab munculnya banyak kronik-kronik yang berlintasan di lini masa sejarah manusia. Perang dan penguasaan adalah salah satu kancah yang distimulus oleh penegakan kehormatan ini.
Glory, Gospel dan Gold yang menjadi semboyan penaklukan bangsa eropa terhadap benua asia dan amerika juga dilandasi oleh semangat menancapkan kehormatan sebagai manusia yang unggul. Demikian juga bagaimana Hitler dan partai Nazi nya meluluh lantakkan Eropa dan sebagian Asia dan Afrika hanya demi didorong oleh prasangka keunggulan ras yang notabene juga adalah sebuah representasi penegakan kehormatan primordial. Hal yang sama juga dikenal dalam kultur Jepang: semangat bushido.
Demikian juga dalam budaya Bugis Makassar (juga Mandar, Toraja dan Luwu dan semua derivasi sub-kultur yang terdapat di dalamnya), kehormatan yang kemudian tertuang dalam system social bernama Siri na Pesse juga mengemuka sebagai dasar pijakan perihidup manusia Bugis Makassar. Kehormatan diri menjadi filosofi dasar bagaimana manusia Bugis Makassar menjalani hidupnya.
Tanpa kehormatan, tanpa siri na pesse ini, mereka menganggap tak layak hidup sebagai manusia. Hidup tanpa kehormatan bak hidup laiknya binatang, bahkan mereka berprinsip bahwa lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup dengan kehormatan tercabik-cabik. Siri’mi Narituo, narekko degage siri’na sirupaini olok-koloe (karena malu kita hidup, kalau tak ada malu maka tak ada beda dengan binatang).
Zainal Abidin Farid (1983 :2) membagi siri, dalam dua jenis:
Pertama adalah Siri’ Nipakasiri’, yang terjadi bilamana seseorang dihina atau diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu) harus menegakkan Siri’nya untuk mengembalikan Dignity yang telah dirampas sebelumnya. Jika tidak ia akan disebut mate siri (mati harkat dan martabatnya sebagai manusia).
Yang kedua adalah : Siri’ Masiri’, yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih payah demi Siri’ itu sendiri, demi Siri’ keluarga dan kelompok. Ada ungkapan bugis “Narekko sompe’ko, aja’ muancaji ana’guru, ancaji Punggawako” (Kalau kamu pergi merantau janganlah menjadi anak buah, tapi berjuanglah untuk menjadi pemimpin).
Sistem kekerabatan dalam budaya Bugis Makassar boleh dianggap sebagai muasal munculnya tradisi siri na pesse ini. Terbiasa dididik dalam system komunal, baik dari sisi lingkungan tempat tinggal maupun semangat persaudaraan, membuat kekerabatan menjadi bagian vital dalam system social mereka. Apapun yang terjadi dalam lingkungan kekerabatan, wajib kiranya dilindungi oleh semua anggota kerabat, terlebih kalau hal tersebut menyangkut kehormatan, siri na pesse. Disintegrasi antara anggota keluarga sedapat mungkin dihindari, kalaupun terjadi harus secepatnya diselesaikan. Meski demikian perseteruan antar kerabat keluarga yang dilatari oleh persoalan siri na pesse sangat sulit bisa dihindari dan jamak terlihat terutama karena makin kompleksnya persoalan hidup yang dihadapi kini.
Dalam masyarakat Bugis Makassar, kekerabatan juga sinonim dengan kehormatan. Membaur menjadi anggota dari suatu rumpun kekerabatan yang terhormat adalah suatu kebanggaan, makanya sering terjadi pernikahan antar keluarga yang ongkos sosialnya sangat tinggi dalam bentuk uang panaik. Selain biaya teknis pesta pernikahan yang perlu ditanggung oleh keluarga calon mempelai lelaki, juga uang panaik merupakan representasi dari biaya asimilasi menjadi anggota keluarga dari rumpun kerabatan calon mempelai perempuan. Ini bisa diartikan bahwa pembauran ke rumpun kerabat yang terhormat dapat menaikkan derajat kehormatan keluarga lelaki.
Terkadang persoalan siri na pesse ini menjadi pemicu terjadinya benturan antara rumpun kekerabatan, terutama kalau yang merasa dirinya berasal dari kerabat yang lebih terhormat diperlakukan kurang sopan oleh orang lain yang dianggap kurang terhormat. Semisal dari cara berbicara, cara menempatkan diri dan sebagainya. Meskipun hal ini sangat primordial dan cenderung subyektif, namun masih sering terjadi di lingkungan modern. Jangan berharap seorang Bugis Makassar dari kalangan biasa bisa bercakap bebas dengan bahasa awam dengan seorang karaeng atau andi dalam suatu pertemuan formal.
Karenanya, persoalan menaikkan derajat kehormatan suatu keluarga menjadi hal yang penting sekali. Salah satu cara yang paling sering ditempuh adalah melalui jalur pernikahan. Kalau ada keluarga dari kalangan yang lebih terhormat yang bersedia dengan senang hati menikahkan anggota keluarganya dengan keluarga lain tentu bisa menaikkan derajat siri keluarga tersebut. Namun terkadang, penolakan internal sering terjadi dikarenakan persoalan derajat kehormatan keluarga yang lebih tinggi ini.
Cara yang lain menaikkan derajat kekerabatan yang juga sudah banyak dilakoni adalah melalui pendidikan dan usaha. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka dianggap bisa menaikkan derajat kehormatan keluarga nya. Juga berlaku untuk ukuran kekayaan dan kedermawanan, karena di beberapa hal, masyarakat Bugis Makassar masih cenderung senang dengan penampakan kekayaan, meskipun tak jarang dicibir sebagai representasi kesombongan. Namun ini semua demi menaikkan siri na pesse dari rumpun kekerabatan tersebut.
Diatas semua hal diatas, ada siri na pesse merupakan hal sakral yang tetap menjadi filosofi hidup manusia Bugis Makassar. Bukan persoalan kehormatan yang buta atas semua system nilai, tapi siri na pesse yang dilandadi oleh kebenaran dan kejujuran. Kita mengenal dalam kultur Bugis mengenai adanya prinsip getteng, lempu, acca, warani (tegas, lurus, pintar, berani) sebagai empat ciri utama yang menentukan ada tidaknya Siri’ na Pesse. Kalau empat demikian sudah dipenuhi oleh seseorang maka bisa dikatakan bahwa ia adalah manusia atau keluarga yang terhormat.
sebagian dari bahan tulisan ini diambil dari tulisan Adamry Muis di link ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar