Rabu, 15 Februari 2012

Pencak Silat Menggebrak Johannesburg

Pencak Silat Menggebrak Johannesburg

 

Bela diri khas bangsa Indonesia, pencak silat, menorehkan sejarah di benua Afrika sana. Untuk kali pertama, turnamen pencak silat digelar di Bosmont Primary School Swiss Re-Hall, Johannesburg, Afrika Selatan.

Digelar pada tanggal 10 Oktober 2010 lalu, turnamen itu lahir dari buah kerjasama South Africa Pencak Silat Association, Local Community dari Bosmont, Al Azhar Seni Bela Diri cabang Afrika Selatan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Turnamen itu diadakan untuk memotivasi para murid-murid yang telah mengikuti pencak silat, sekaligus semakin memperkenalkan bela diri Indonesia itu di Afsel. Diharapkan dengan turnamen itu semakin banyak masyarakat Afsel yang tertarik dan mau mendalami bela diri pencak silat.
Acara bertajuk Pencak Silat Tournament Indonesia Ambassador’s Cup ini sendiri diikuti kurang lebih sekitar 200 pesilat, baik putra putri, kelas pre-junior, junior maupun kelas senior. Mereka berasal dari Sekolah Bomont Moslem School, Al Azhar School, Darul uloom Zakariya dan kelas malam di Bosmont.
Acara yang turut dimeriahkan oleh penampilan demonstrasi pencak silat dari Malaysia yang di pimpin oleh Muhammad Abdullah bin Zaid itu juga dihadiri langsung oleh Ketua Asosiasi Pencak Silat dari Capetown Moegamat Hilmy.
Setelah upacara pembukaan, acara pertandingan dibuka. Untuk kategori tanding, turnamen ini menggunakan peraturan persilat/persekutuan silat antar bangsa yang dijalankan sesuai standar aturan persilat.
Berlaku sebagai ketua pertandingan adalah Kemal Yasser, warga keturunan Albania yang sudah menetap menjadi penduduk Afrika Selatan. Dengan memakai peci khas Indonesia plus balutan pakaian silat, ia mengumumkan hasil-hasil pertandingan.
“Ini adalah bela diri yang indah dan memukau. Saya benar-benar jatuh cinta sama pencak silat,” komentar Kemal dalam siaran pers yang diterima detikSport.
Adapun pertandingan yang ditampilkan adalah pertandingan seni dan pertandingan nomor tanding pencak silat. Sejumlah aksi memukau pun ditampilkan, dengan beberapa di antaranya mencuri perhatian besar, seperti misalnya Daaian Lawrence, bocah berusia 4 tahun yang masih duduk di bangku playgroup.
Dengan fasih dan gaya meyakinkan, Daaian sukses mengalahkan pesaingnya yang jauh lebih besar dalam kategori seni.
Di kelas dewasa, Abdalrahman Fuad Abdalal dari Palestina berhasil mengalahkan Asadullah dari Atlanta. Kedua pelajar Darul Uloom Zakariyya itu bersaing ketat dengan penampilan teknik-teknik tanding yang mengesankan.
Seluruh peserta turnamen sendiri pada akhirnya mendapatkan medali. Selain itu, trofi bergilir Pencak Silat Tournament Indonesia Ambassador’s Cup 2010 diberikan kepada sekolah terbaik yang menggondol 18 medali emas yakni Bosmont Moslem School.
“Pertandingan ini bukan hanya bersifat lokal lagi namun sudah menjadi pertandingan yang bersifat internasional karena para pesertanya juga ada berasal dari banyak negara. Ada yang dari Palestina, AS, Kenya, Malaysia, Turki, Mozambik,” ujar Duta Besar Indonesia di Afsel Sjahril Sabaruddin, yang juga bertugas sebagai pemberi medali.
Menpora Ikut Mendukung
Program tersebut tidak lepas dari dukungan langsung dari Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, sebagaimana dikatakan oleh Ketua Asosiasi Pencak Silat Afrika Selatan Sariat Arifia.
“Program ini sudah didukung langsung oleh Menteri Pemuda Olahraga Andi Mallarangeng, namun sayangnya tidak mendapat dukungan dari konsuler jenderal di Capetown,” keluh Sariat.
“Saya sudah mendapat laporan dari ketua asosiasi di Capetown bahwa surat-surat dia tidak mendapat tanggapan dari konsul jenderal setempat, saya juga sudah memberi surat resmi kepada Konjen namun juga tidak mendapat tanggapan,” lanjutnya.
Meski begitu, Sariat mengaku sama sekali tidak berkecil hati. Ia akan terus berusaha memperkenalkan bela diri pencak silat di Afsel.
“Hari ini, hari yang bersejarah. Namun, kita masih punya tugas lebih berat lagi ke depan yaitu untuk menuntaskan penetrasi budaya bangsa Indonesia di Afrika Selatan dengan melakukan promosi dan pembukaan kelas di Capetown.”
“Mohon doanya dari segenap rakyat Indonesia agar dapat berhasil,” tuntas Sariat.
Sumber: detikSport

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar