Minggu, 12 Februari 2012

Mahasiswa meminta sumbangan: Antara simpati dan antipati

Mahasiswa meminta sumbangan: Antara simpati dan antipati

OPINI | 08 November 2011 | 17:48 78 2 1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat

13207490101860265014
Meminta sumbangan di jalan (dok. google)
Seharian ini saya diajak menemani saudara sepupu saya untuk beberapa keperluan. Perjalanan ini memang memutari kota Padang beberapa kali, karena banyaknya tempat-tempat yang dituju. Dan kami melintasi jalan utama, yaitu Jalan Sudirman hingga beberapa kali. Sepupu saya komplain beberapa kali mengenai banyaknya anak mahasiswa yang berdiri dengan kotak kardus ditangan dan meminta sumbangan untuk korban bencana banjir bandang di Pesisir Selatan.
Di beberapa perempatan jalan, para mahasiswa ini berdiri disetiap jalan dan meminta sumbangan pada saat lampu merah. Jarak antara satu perempatan dengan perempatan lainnya lebih kurang adalah sekitar 200-250 meter dan pada perempatan lampu merah berikutnya sudah ada kembali mahasiswa yang berdiri dengan kotak sumbangan.
Sepupu saya memang mengomel tak hentinya mengenai ini. Baru saja dia berhenti disatu lampu merah dan disodori kotak sumbangan, eh tahu-tahu diperempatan berikutnya kembali disodori. Apalagi ketika kami melintasi tempat yang sama beberapa kali. Karena dia sudah mulai kesal, sayapun mengangkat tangan tanda memohon maaf karena tidak memberikan sumbangan.
Si sepupu mengatakan bahwa kenapa sih mahasiswa tidak bisa meminta sumbangan dengan cara yang lebih elegan. Dia juga mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman-pengalaman lampau, tidak pernah ada audit dan laporan tentang uang yang dikumpulkan kepada publik. Dan kalaupun ada, menurutnya seharusnya disampaikan secara luas, toh mereka meminta sumbangan juga kepada masyarakat luas.
Menilik kejadian siang tadi, sebenarnya kejadian seperti ini sudah berulang dan tentu saja komplain juga sudah sering. Saya tidak menafikan bahwa saya sangat mengapresiasi para mahasiswa yang terpanggil untuk membantu yang sedang dilanda kesulitan. Sebagai seorang mahasiswa, saya paham akan keinginan mereka tersebut dan biasanya aksi ini dilakukan secara spontanitas.
Spontanitas para mahasiswa ini memang patut diacungi jempol. Mereka rela berpanas dan berhujan untuk mengusung kotak meminta bantuan pada para pengendara kendaraan bermotor yang melintas jalan. Mungkin saja mereka juga rela meninggalkan satu dua kelas kuliah mereka demi untuk berdiri dan meminta sumbangan. Dan terkadang mereka juga harus rela tetap tersenyum melihat muka masam pengendara.
Namun mungkin ada baiknya kita lihat pros dan cons mengenai metode pengumpulan dana yang dilakukan. Dengan beragam permasalahan yang berkembang dewasa ini, seperti maraknya aksi penipuan yang berkedok amal, wajar saja masyarakat mulai terdegradasi kepercayaannya terhadap lingkungan. Dan tentu saja, aksi seperti ini juga akan menuai beragam prasangka. Yang mungkin sering kita dengar adalah “beneran tuh duitnya bakal nyampe kepada yang berhak?”. Dan hal ini menjadikan orang-orang yang memang berniat tulus untuk membantu juga dijadikan korban syak wasangka.
Pada saat gempa Padang-Pariaman 2009, kami mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Christchurch juga melakukan penggalangan dana dengan cara membuka bazar makanan Indonesia serta menari. Alhamdulillah cukup banyak dana yang terkumpul dan penggunaan uang tersebut dilaporkan kepada publik, sehingga orang-orang yang sudah bermurah hati mengulurkan tangannya tahu bahwasanya yang mereka sumbangkan sampai kepada pihak yang berhak.
Tentu saja saya tidak akan membandingkan pelaksanaannya dan segala macamnya. Disini yang mungkin bisa dijadikan pemikiran bersama adalah bagaimana menggunakan cara yang bisa menarik simpati dan empati masyarakat serta tentu saja transparan dan akuntabel.
Saya rasa di setiap kampus pasti ada organisasi mahasiswa yang bisa berkoordinasi dengan sesama organisasi mahasiswa lainnya di daerah tersebut, sehingga acara pengumpulan dana bisa terorganisir. Dana yang terkumpul juga dihitung dan diumumkan kepada publik, misalnya dengan mengajak kerjasama media daerah (koran lokal, radio atau televisi) dengan memberikan spot secara gratis guna melaporkan sumbangan yang sudah diterima dan penyalurannya.
Nah, media juga diajak bekerjasama untuk mengumumkan pengumpulan dana ini sehingga masyarakat tahu dimana dan kapan saja mereka mengumpulkan dana. Dan kalau mereka memiliki posko, mungkin saja ada masyarakat yang datang dan memberikan sumbangan. Jika perlu, gandeng para pemuka masyarakat untuk mempromosikan gerakan pengumpulan dana.
Mungkin juga para mahasiswa ini bisa urun rembug untuk menggelar acara amal seperti bazaar makanan, pagelaran kebudayaan dan kesenian, dan sebagainya. Cara ini saya rasa mungkin akan mendapat sambutan dan dukungan dari masyarakat karena selain menyumbang, masyarakat juga merasa dilibatkan. Dan tentu saja dengan laporan keuangan yang jelas, kedepannya masyarakat akan semakin percaya.
Kedengarannya memang ribet dan terlalu banyak prosedur, sementara korban butuh immediate aid. Untuk langkah pertama memang sepertinya ribet, ini hanya hingga sistem terbangun dan orang-orang mulai terbiasa.
Yah, apapun itu mudah-mudahan kedepannya ini bisa menjadi pemikiran bersama dan para mahasiswa bisa menunjukkan kepeduliannya bukan hanya dari meminta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar