Rabu, 08 Februari 2012

Keanekaragaman Budaya Indonesia 2

Harmoni Kebhinekaan Suro

Tahun baru Jawa mempunyai makna panjang. Menuju keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam.
  • Yovinus Guntur / Arwani
  • 5 Desember 2011 - 14:47 WIB

Empat ratusan orang berkumpul di Tugu Pahlawan, Surabaya, Sabtu (26/11) malam. Anak-anak, perempuan, dan pria bergabung jadi satu. Beberapa orang sibuk mengatur barisan. Tepat pukul 18.00 rombongan berangkat menuju Kampung Ilmu di Jalan Semarang. Mereka berjalan beriringan. Barisan terdepan pasukan berkuda, disusul "abdi dalem", kemudian kaum perempuan, pria, dan anak-anak membawa obor. Di tengah barisan atraksi kuda lumping dan barongsai.
Gelaran kirab atau pawai ini dalam rangkaian memperingati tahun baru Jawa Suro atau 1 Muharram dalam penanggalan Islam. Mereka mengusung tema ”Menjaga Harmono, Merayakan Kebhinekaan”.
Prosesi kirab diawali penyerahan payung agung kepada Menggala Yuda (pemimpin kirab). Di atas kuda putih Menggala Yuda memimpin kirab yang diikuti rombongan 40 gunungan hasil bumi dan buah-buah, arak-arakan 40 obor, jaranan, barongsai, dan rombongan masyarakat menuju Kampung Ilmu.
Setiap langkah dalam kirab memiliki makna. Payung Agung, misalnya, sebagai simbol penegasan hidup rukun dan harmoni tidak bisa terwujud tanpa jaminan dari pemangku pemerintahan. Gunungan hasil bumi dan buah-buahan mencerminkan pandangan keseimbangan kosmologis yang dijunjung tinggi masyarakat Indonesia. Rombongan obor menggambarkan semangat menjaga kearifan lokal agar tidak padam. Rombongan jaranan dan barongsai merupakan bukti harmoni budaya mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.
Koordinator acara Budi Santosa mengatakan, gelaran Suroan ini bisa dikatakan istimewa, karena lintas agama dan sektoral. Seperti Paroki Vincentius a Paulo Surabaya, Budhist Education Center Surabaya, Forum Studi Tionghoa Indonesia, dan Jaringan Gus Durian Surabaya. "Kami juga melibatkan anak-anak jalanan, waria, dan pekerja seks komersial. Kami ingin 1 Suro milik semua lapisan masyarakat," ujar Budi.
Harmoni Kehidupan
Budi berharap peringatan 1 Suro tahun ini mengilhami masyarakat untuk mengejawantahkan kembali pandangan hidup harmoni sehingga semua individu dan kelompok hidup berdampingan secara merata.
Pemerintah juga diharapkan berperan dalam menjaga dan menyelaraskan harmoni hidup. Di antaranya dengan memasukkan tahun baru Jawa dalam kalender nasional. Hal prinsip lainnya adalah soal kebhinekaan yang terus tergerus akibat gelombang fundamentalis dan budaya modern. "Peran pemerintah dalam keberagaman budaya adalah faktor penentu terciptanya tata kehidupan berbangsa yang harmonis," kata Budi.
Pemerintah mengemban tanggung jawab memberikan kesempatan kepada setiap individu dan kelompok mengembangkan diri dalam kekayaan khazanah budaya masing-masing. Pemerintah juga tidak bisa mengelak dari kewajiban melindungi dan memenuhi hak kelompok minoritas agama / keyakinan yang selama ini mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Pemimpin Kirab Gereget Suro, Mashuri, mengatakan 1 Suro adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk melakukan permenungan dan mensyukuri berkat dan perlindungan Tuhan. Manusia yang berbudaya bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan dalam kehidupan, termasuk negara yang kaya, indah, permai. "Kita harus merawat alam dengan baik, jika ingin Indonesia makmur."
Pekerja seni Asih Suwito mengatakan, perayaan 1 Suro hendaknya dijadikan momentum menghidupkan kembali budaya bangsa serta sarana membersihkan diri. Suro adalah bulan sakral untuk membersihkan hati.
Hendy Sidharta dari Forum Studi Tionghoa Indonesia mengatakan, Suro memiliki makna yang panjang dalam kehidupan manusia. Dengan gelaran 1 Suro tidak ada lagi pengotakan budaya tertentu. Melalui budaya, masyarakat bisa bersatu dalam membangun kebersamaan.
Menurut dia, tradisi budaya Jawa dan Tionghoa memiliki kesamaan. Yakni digusur oleh mereka yang berkuasa dan dihancurkan oleh sekelompok pemeluk agama yang beraliran fundamental. "Selama Orde Baru, kesenian barongsai dilarang. Beberapa waktu lalu patung wayang dirusak oleh ormas keagamaan. Ini bukti budaya pelan namun pasti akan dihancurkan."
Sejarah 1 Suro
Peringatan 1 Suro atau tahun baru Jawa berlangsung sejak berdiri kerajaan Mataram Islam. Di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613 - 1645 Masehi), tahun Hijriyah dan tahun Saka dikonversi menjadi tahun Jawa.
Sultan Agung saat itu mengganti tahun 1555 Saka menjadi tahun 1555 Jawa. Penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Hijriyah. Alhasil, tanggal 1 Suro 1555 tahun Jawa disamakan dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah, bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi. Inilah tonggak masyarakat Jawa merayakan tahun baru Jawa.
Sebagai kekayaan budaya, peringatan tahun baru Jawa mengejawentahkan pandangan hidup harmoni yang diugemi mayoritas masyarakat Jawa. Secara filosofis, peringatan 1 Suro mencerminkan keyakinan tentang keseimbangan kosmologi antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam penalaran masyarakat Jawa, alam semesta dihargai sebagai ”makhluk hidup” yang berdampingan dengan manusia. Menghormati dan menjaga kelestarian alam berarti menjaga kelestarian hidup manusia.
Perayaan tahun baru Jawa juga dijiwai dengan penghayatan yang mendalam pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal. Masyarakat Jawa mengimani Tuhan adalah kekuatan adi -  manusiawi yang memungkinkan keseimbangan kosmologis tetap langgeng.
Pandangan hidup harmoni inilah menjadikan masyarakat terbuka atas berbagai budaya baru. Kehadiran budaya Arab, Islam, dan Barat dalam sejarahnya tidak mengganggu pandangan hidup harmoni yang dikembangkan masyarakat Jawa.
Tradisi peringatan 1 Suro bagi masyarakat Jawa adalah upaya untuk menemukan jati diri agar selalu tetap eling lan waspodo. Eling artinya ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi (asal mula), menyadari kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dan tugasnya sebagai khalifah di bumi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Waspodoberarti harus tetap cermat, terjaga, dan awas terhadap segala godaan yang menyesatkan. Karena godaan itu menjauhkan diri dari Sang Pencipta, sehingga menyulitkan manusia dalam mencapai manunggaling kawula gusti (bersatunya makhluk dan Sang Khalik).
Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sakral karena merupakan bulan yang suci atau bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (E4)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar