Kamis, 19 April 2012

UPACARA ADAT BANGKA BELITUNG


Provinsi Bangka Belitung memiliki cukup banyak upacara tradisional, diantaranya adalah upacara Perang Ketupat, Buang Jong, Mandi Belimau, Ruwah, Kongian, Imlek, Sembahyang Rebut, Sembahyang Kubur, Kawin Masal, Nganggung, Maulid Nabi Muhammad, Selikur, Nyukur.
Perang Ketupat: adalah acara adat yang biasa di gelar di pulau Bangka. Acara ini diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Pada saat acara ini berlangsung, penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara tersebut akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Perang ketupat adalah acara inti dari semua prosesi dari acara hari itu. Orang-orang berkumpul di Pantai Tempilang, kemudian pada saat Meriam dinyalakan bertanda acara dimulai. Orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui. Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini.

Kongian: Adalah sebutan lain untuk Tahun Baru Imlek dalam dialek Hakka (Khe). Sejarahnya Imlek dirayakan untuk merayakan datangnya musim semi. Namun pada saat musim semi itu konon datang binatang buas yang disebut nian (ngian, nyan) dari gunung atau laut untuk mengganggu manusia.

Maka manusia mengenakan pakaian warna merah dan membuat kebisingan dengan menyalakan petasan untuk mengusir nian. Oleh karena itu Imlek disebut juga Kongian yang berarti "mengusir/melewati nian". Di Indonesia sebutan kongian lebih umum digunakan daripada kata Imlek atau Sin Cia di daerah-daerah yang berpopulasi warga suku Hakka yang signifikan. Nian dimanifestasikan dalam bentuk barongsai (samsi).

Imlek: Imlek atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari.

Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti "Kalender Agrikultur", "Kalender Yin (karena berhubungan dengan aspek bulan), "Kalender Lama" setelah "Kalender Baru" yaitu Kalender Masehi, diadopsi sebagai kalender resmi, dan "Kalender Xià yang pada hakikatnya tidak sama dengan kalender saat ini.

Sembayang Kubur: Perhelatan Sembayang Kubur atau Festival atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu.

Festival tradisional Cina ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari pada musim dingin (atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi), pada umumnya jatuh pada tanggal 5 April, dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April. Secara astronomi, ini juga merupakan terminologi matahari. Dalam terminologi matahari, Festival Qīngmíng adalah pada hari pertama dari 5 terminologi matahari, yang juga dinamai Qīngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi, dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berangkat ke kuburan. Festival ini merupakan hari libur umum di Cina (RRC), sama halnya juga di Hong Kong, Macau dan Taiwan. Di Korea, Qīngmíng dikenal dengan sebutan hari Hansik.

Selikur: Selikyr merupakan tradisi di Bangka Belitung pada saat satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri. Selama satu minggu sampai malam Takbiran orang-orang di Bangka Belitung menghidupkan lampu minyak di depan rumah mereka. Biasanya pada hari pertama, lampu minyak yang dihidupkan satu buah, kemudian bertambah satu lagi pada hari keduanya. Begitu seterusnya sampai pada hari ketujuh atau malam takbiran lampu minyak yang dihidupkan sebanyak tujuh buah. Pada masa sekarang, sering sekali diadakan perlombaan kreasi lampu likur antar desa di Bangka Belitung. Ada yang dibentuk menyerupai masjid dan sebagainya, biasanya lampu likur hasil kreasi warga ini diletakkan di pintu gerbang desa masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar