Jumat, 20 April 2012

Minimalisir Aksi Coret Usai UN - Siswa Kumpul Seragam Sekolah dan Doa Bersama


Minimalisir Aksi Coret Usai UN - Siswa Kumpul Seragam Sekolah dan Doa BersamaE-mail

User Rating: / 0 
PoorBest 
WRITTEN BY SWISMA   
friday, 20 april 2012 10:02
Guna minimalisir aksi co­ret seragam sekolah yang ke­rap dilakukan siswa di kota Medan usai melaksanakan Uji­an Nasional (UN), para siswa dan guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Medan menggelar doa bersama serta dirangkai dengan pengumpulan pakaian seragam sekolah.

"Coret-coret baju merupakan tindakan mubajir dan tidak mencerminkan kepribadian seorang kaum intelektual. Itu sangat menyedihkan serta memprihatinkan sekali,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Emiruddin Harahap di hadapan sejumlah siswanya usai melaksanakan UN di SMA Negeri Medan, Kamis (19/4).

Menurutnya, aksi coret-coret seragam sekolah usai me­laksanakan UN bertentangan dengan nilai moral, sebab  seragam sekolah tersebut me­miliki nilai-nilai kebang­saan yang harus dihargai, karena di dalamnya memiliki nilai tertinggi dalam menggapai cita-cita dan masa depan.

Diakuinya kalau aksi coret-coret yang dilakukan para sis­wa di kota Medan, tanpa terkecuali juga dilakukan siswa SMA Negeri 3, yang selama ini terjadi, menurutnya merupakan luapan euforia para siswa usai melaksanakan UN.Tapi kini tradisi yang mubajir tersebut dirubah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.

"Salah satunya yakni dengan mengumpulkan seragam sekolah bekas, adalah kegiatan positif yang harus dilakukan seluruh siswa di kota Medan, terutama siswa SMA Negeri 3,” ungkapnya.

Dengan kegiatan ini, diha­rap­kan nantinya hasil pe­ngum­pulannya bisa dipergunakan atau didistribusikan kepada adik-adik kelas atau orang-orang yang tidak mam­pu. Hal itu sangat mulia serta mencerminkan seorang kaum intelektual.

Namun, diakui tidak semua siswa di kota Medan bisa mela­kukan hal itu. Di mana, masih banyak siswa di kota Medan yang melakukan aksi coret-coretan seragam sekolah, dan tidak jarang pada saat usai melaksanakan UN, para siswa melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada tindakan anarkis serta mengganggu kenyamanan orang di sekitarnya.

Dikatakan Emir, dengan melihat kondisi yang selama ini kerap terjadi, di mana usai pelaksanaan UN, para siswa melakukan aksi coret-coret seragam sekolah, maka sudah sepatutnya pemeritah mencari solusi mengatasi persoalan ini.

“Saya mengusulkan, agar di­buat pakta integritas yang melibatkan seluruh sekolah, guru, orang tua siswa serta sis­wa un­tuk tidak melakukan aksi tersebut apalagi hingga menjurus tindakan anarkis seperti yang terjadi selama ini," tegasnya.

Di dalam pakta integritas dibuat sebuah aturan berupa sanksi administratif bagi sekolah yang melakukan atau me­ngabaikan pakta integritas tersebut.

"Penundaan pengumuman serta pemberian ijazah, merupakan sanksi administratif yang dinilai tepat untuk pe­langgar aturan tersebut, "pung­kasnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Drs Sahlan Daulay menuturkan jika dirinya mewakili sekolah dan para guru merasa terharu dan berbangga telah menghantarkan para siswa ke fase terakhir dengan baik. Diharapkan kepada siswa untuk menjaga nama baik sekolah pasca pelaksanaan UN.

Di tempat berbeda, di SMA Negeri 13 Medan, usai pelaksanaan UN, siswa SMA Negeri 13 melakukan dzikir bersama dan pengumpulan seragam sekolah.

"Dzikir dan pengumpulan seragam ini, merupakan ke­giatan kedua yang dilakukan para siswa usai melakukan UN, dan ini merupakan wujud syukur telah melaksanakan UN, "ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 15 Medan, Sutrisno.

Swisma | Medan | Jurnal Medan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar