Sabtu, 21 April 2012

Lestarikan Budaya, Senangkan Leluhur

Lestarikan Budaya, Senangkan Leluhur

18 April 2012 Oleh   
Diarsip dalam ArtikelFiturSeni Budaya dan Pariwisata
Klojen, MC - Menumbuhkembangkan kecintaan akan budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang bekerjasama dengan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogjakarta menggelar dialog budaya. Dialog yang bertema “Peran Budaya Daerah dalam Pembentukan Jatidiri dan Integrasi Bangsa” tersebut dilangsungkan di Hotel Sahid Montana, Kota Malang, Selasa (17/4) sampai dengan Rabu (18/4).
Peserta dialog budaya mengikuti kegiatan dengan serius, Selasa (17/04)
Pada dialog budaya ini, hadir akademisi, budayawan, penegak hukum, para politisi, praktisi, tokoh masyarakat hingga para mahasiswa. Wali Kota Malang, Drs. Peni Suparto, M.AP berkenan hadir langsung untuk membuka acara.
Peni mengungkapkan, sangat senang sekali adanya dialog budaya diagendakan di Kota Malang tahun ini. Sebab budaya adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan. Dalam budaya terkandung nilai-nilai yang adiluhung.
“Saya yakin dengan kita menggelar dialog budaya, berarti kita ikut melestarikan budaya sehingga leluhur kita pun akan ikut senang. Saya yakin kegiatan ini akan mendapat support penuh dari arwah para leluhur,” ujar Peni, Selasa (17/4).
Menurut Peni, di Kota Malang untuk masalah budaya sudah menjadi tradisi untuk dilestarikan, seperti dengan mengadakan Malang Tempo Dulu, Festival Jaran Kepang, Pameran Kampung Keramik, dan lain sebagainya. Karena itu dengan adanya dialog ini diharapkan ke depan bisa lebih banyak lagi budaya peninggalan nenek moyang yang bisa dilestarikan.
“Festival Malang Kembali (Malang Tempo Doeloe_red) selama ini mendapat animo luar biasa dengan dihadiri sebanyak 400.000 pengunjung setiap hari, begitu juga Festival Kuda Lumping di Celaket, meski hanya sekampung, penonton yang hadir berasal dari 13 negara,” ujar Peni.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni, SH, M.Si  mengungkapkan dialog ini diikuti sebanyak 75 peserta. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pendidik, penegak hukum, pelaku budaya, karang taruna, maupun mahasiswa.
“Dari kegiatan ini kami berharap bisa semakin menumbuhkan kecintaan masyarakat akan budaya, mau berperilaku sesuai budaya sehingga ke depan bisa menjadi mayarakat yang berbudaya,” terang Ida. (cah/dmb)
Print Print

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar