Rabu, 18 April 2012

Ketika Brebes Dibuat Galau Karena Cerai


Ketika Brebes Dibuat Galau Karena Cerai


OPINI | 18 April 2012 | 14:31Dibaca: 123   Komentar: 4   Nihil
Membuka-buka lembaran data angka perceraian di Kabupaten Brebes memang bisa membuat siapa saja galau. Betapa tidak, fakta hancurnya mahligai pernikahan di Kota Bawang sedang jadi trend yang terus meningkat setiap tahunnya. Sejak tahun 2009 hingga 2011, “prestasi” Brebes dalam pencapaian angka perceraian selalu menduduki rangking 2 besar Se-Jateng, setelah Cilacap. Bahkan tahun 2011 lalu, peringkat Kota Telur Asin menjadi tak terkalahkan yaitu nomor 1 Se-Jateng.
Karenanya wajar jika “prestasi” yang kurang membanggakan ini membuat H Agung Widyantoro, SH, Msi galau hingga menerbitkan Surat Keputusan Bupati Brebes yang melarang pejabat eselon di lingkungan Pemkab. Brebes untuk bercerai.
Rupa-rupanya virus galau karena cerai yang melanda Brebes juga menular sampai ke tingkat propinsi. Hal itu terungkap saat Ketua PW Muslimat NU Jateng, Prof. Dr. Ismawati, M.Ag memberi tausiyah dalam puncak Peringatan Harlah Ke-66 Muslimat NU beberapa pekan lalu di Ponpes Darussalam Jatibarang Brebes.
Beliau menggaris bawahi dominasinya gugat cerai daripada talak, yang artinya lebih banyak perceraian karena permintaan kaum hawa. Posisi perempuan kian dipersalahkan ketika diungkap hasil survei beliau di Pantura Barat Jateng yang menunjukkan bahwa faktor utama penyebab perceraian adalah kekeliruan penerapan emansipasi wanita, dimana perempuan lebih dominan mengambil alih fungsi peran lelaki.
Lalu sebenarnya bagaimana emansipasi wanita yang diharapkan Ibunda R.A Kartini, Sang Pengusungnya? Dan dalam kasus meningkatnya perceraian, bagaimana upaya-upaya untuk meredam hal itu, menurut perspektif emansipasi wanita?
Dr. Marwah Daud Ibrohim (1994) menjawab bahwa emansipasi yang baik adalah melihat lelaki bukan sebagai seteru, melainkan kawan seperjalanan. Emansipasi yang sesuai dengan konteks kekinian, tak lagi berarti perjuangan untuk mencapai persamaan hak, tapi ia tiba pada tingkat upaya keras untuk unggul dalam proses selektivitas. Yakni, seleksi dalam upaya untuk menggapai harapan, cita dan mimpi yang telah dirancang dan didulang; seleksi yang menuntut kualitas; dan seleksi yang bukan hanya dengan kawan jenis tetapi sekaligus lawan jenis. Dan di atas segalanya adalah kemampuan untuk melejit ke puncak karir dan cita-cita tanpa melepas ikatan dengan kodrat alami sebagai perempuan.
Merujuk pada pendapat di atas, maka kurang pas jikalau emansipasi wanita dituding sebagai biang kerok perceraian, dan tak bijak pula jika tampilnya perempuan di dunia kerja dijadikan sebagai faktor utama penyebab perceraian karena dianggap “melukai” ego lelaki yang seharusnya mengambil peran utama dalam bidang itu.
Menikah = Memakai Sepatu
Pakar pernikahan islami, Cahyadi Takariawan menulis bahwa menikah itu bukan seperti memakai sepatu. Sependapat bahwa menikah bukan sekedar perkara cocok atau tidak cocok, sebagaimana memakai sepatu. Sepatu cocok, pakai. Tidak cocok, buang. Dengan suami atau istri masih cocok, nikah tetap jalan. Sudah tidak cocok, nikah bubar. Tetapi menikah bisa juga sama dengan memakai sepatu, apabila persepsinya satu sama lain saling mencocokkan.
Persoalannya adalah suami dan istri sebagai masing-masing pribadi yang unik sedang menuntut hak pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan dasar yang bersifat fisik maupun kebutuhan tak kasat mata berupa : pengertian, kasih sayang, penghormatan dan kekaguman. Pribadi yang unik karena beda pola asuh, beda pengalaman, beda pemikiran sebagaimana lain sawah lain belalang, lain rambut lain kepala, lain kepala lain pula isinya.
Perbedaan yang kerap kali bagai langit dan bumi atau bertentangannya kutub negatif dan kutub positif ini tidak lantas dijadikan alasan tuk saling memisahkan diri. Justru ia sebagai ruang kosong untuk saling diisi dan dilengkapi.
Untuk memperjelas persoalan ini, kelihatannya kita perlu agak lancang beranalogi – meminjam teknik Plato dalam memecahkan permasalahan. Kita kiaskan manusia sebagai sepatu. Boleh suami sebagai sepatu kanan, istri sepatu kiri atau sebaliknya. Dan menikah sebagai memakai (sepasang) sepatu.
Hemat saya nilai kesepatuan (pernikahan) barulah ada tatkala ia terdiri dari dua, kanan (suami) dan kiri (istri). Dari arah menghadap sepatulah kita bisa mengidentifikasi si kanan dan si kiri. Perbedaan inilah yang kita sebut suami istri sebagai pribadi-pribadi yang unik. Namun di balik pertentangan arah langkah, tersimpan gerakan saling berhadapan, saling menutupi dan saling memberi. Persamaan yang sinergis simultan keduanya inilah yang disebut “tujuan bersama antara suami dan istri untuk menikah”, yaitu meraih kebahagiaan bersama. Sama saja jika dilihat bentuk, ukuran dan model antar sepatu kanan dan kiri, kita dapat menemukan keserasian yang indah.
Adapun pertanyaan tentang apakah si kiri harus dibuang jika tidak sama mengkilap atau tidak sama bagusnya dengan si kanan dan sebaliknya, adalah pertanyaan yang gila. Sama tidak warasnya dengan orang yang keluar rumah dengan satu alas kaki. Bagi yang merasa nyaman dengan “sebelah sepatu baru” yang dibeli sebagai pengganti “sebelah sepatu lama” yang tak lagi indah, maka ia tidak lebih dari orang yang tidak cerdas, tidak bijak dan tidak efisien. Saat membuang “sebelah sepatu lama” maka ketidakbersamaan keduanya menjadikan ia tak lebih dari seonggok sampah.
Jadi anggaplah menikah sebagaimana kita memakai sepasang sepatu. Saat si kanan kurang mengkilap dibanding si kiri atau sebaliknya, maka pilihan bagi orang yang cerdas adalah mengkilapkan pasangan sebelahnya. Bukan lantas membuangnya. Karena betapapun ego kita dengan cara membeli si kanan atau si kiri yang baru, ingatlah ini. Bahwa yang barupun bisa jadi akan menjadi kotor lalu terbuang kembali. Bahkan bisa saja kita yang jadi kotor dan dibuang “pasangan baru” kita. Pilihan ada pada kita.
Selamat Hari Kartini 2012, semoga kartini-kartini bersama “kartono-kartono” masa kini dapat memaksimalkan potensi dan upaya untuk mendorong dan menarik turunnya angka perceraian di kota kita tercinta, amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar