Jumat, 10 Februari 2012

Pendidikan Empati dan Toleransi untuk Perdamaian

Pendidikan Empati dan Toleransi untuk Perdamaian

Hery Sucipto
Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah
SEBAGAI bangsa yang majemuk. Indonesia memerlukan upaya sinergi menuju penguatan dan kesadaran bersatu dalam perbedaan (ber-Bhinneka Tunggal Ika) untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.
Ikhtiar itu bisa dilakukan dengan mengadakan proses pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga serta lingkungan pendidikan formal dan informal tentang prinsip bersatu dalam perbedaan [unity in diversity) karena individu dalam masyarakat majemuk haruslah memiliki kesetiaan ganda (multUaydlilies) terhadap bangsa dan negaranya. Mereka juga tetap memiliki keterikatan terhadap identitas kelompoknya, tapi dengan tetap menunjukkan kesetiaan yang lebih besar terhadap bangsa Indonesia.
Refleksi terhadap lemahnya masyarakat kita akan makna keberagaman dan kemajemukan disebabkan pelajaran yang berorientasi akhlak/ moralitas serta pendidikan agama yang kurang diberikan dalam bentuk latihan-latihan pengamalan secara nyata dan menyentuh kehidupan riil masyarakat kita. Bahkan tidak jarang dunia pendidikan justru mengembangkan persoalan-persoalan yang dapat memperuncing ketidakrukunan kehidupan antarumat beragama.
Menjaga dan melestarikan keberagaman dalam mewujudkan kebersamaan dan kerukunan hidup sangat efektif dimulai dari lingkungan pendidikan. Sekolah, dengan demikian, harus menyediakan ruang bagi bertumbuhnya keberagaman dan kemajemukan.
Oleh karena itu, pengenalan terhadap simbol-simbol keberagaman antarsuku, kepercayaan, agama, dan budaya perlu dikenalkan terhadap anak didik sejak dini. Hal itu dimaksudkan untuk mem-berikan pemahaman bahwa berbeda itu adalah sebuah keniscayaan. Mengenalkan beragam perbedaan sejak dini merupakan fondasi utama dalam membangun karakter inklusif dan mengembangkan sikap toleransi.
Lembaga pendidikan sebagai agen perubahan masyarakat harus turut bertanggung jawab atas lemahnya sikap toleransi dan inklusivisme yang kembali marak terjadi akhir-akhir ini. Penafsiran yang sempit dan kering terhadap ajaran agama dianggap sebagai pemicu perilaku fanatisme golongan.
Oleh karena itu, sudah saatnya lembaga pendidikan segera mengubah sistem dan proses pengajaran yang bisa mempersempit pemahaman ajaran agama. Misalnya, siswa nonmuslim dapat ambil bagian dalam acara Idul Adha, turut serta mempersiapkan daging kurban, yang non-Kristen dapat ambil peran dalam kegiatan aksi Paskah/Natal, yang non-Buddha dapat berpartisipasi dalam persiapan VVaisak, dan sebagainya.
Bahkan penting kiranya mengajak anak didik untuk studi banding ke tempat-tempat ibadah yang berlainan agama, mengenalkan ajaran-ajaran dan laku ritual mereka.
Sayangnya, pendidikan agama yang dianggap sebagai pilar moral bangsa ternyata belum banyak memberikan jawaban nyata atas berbagai macam munculnya konflik SARA yang sering terjadi. Apa yang salah dari pembelajaran agama selama ini?
Analisis yang dikemukakan
Brenda VVatson dalam bukunya, Education and Belief ([987) sangat menarik. Menurutnya, ada tiga sebab utama yang menyebabkan gagalnya pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Pertama, proses pendidikan yang diajarkan guru lebih mengarah kepada proses indoktrinasi (indoctrina-tion process) sehingga pembelajaran agama diposisikan sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan tak terbantahkan. Kedua, lebih menekankan pada pembelajaran agama yang bersifat normatif-infor-matif. Ketiga, kuatnya ideologi atau komitmen agama yang dianut sang guru.
Bila prosespendidikan di sekolah-sekolah kita masih berpegang teguh pada ketiga hal tersebut, jangan harap pembelajaran agama bisa membumi dan menjadi tumpuan moral bangsa yang lebih bermartabat. Oleh karena itu, revitalisasi pembelajaran agama dan moral dalam menumbuhkan sikap toleransi menjadi kebu-tuhan yang mendesak. Sudah saatnya lembaga pendidikan kita mengubah sistem dan proses pendidikan menuju pendidikan yang lebih inklusif bila tidak ingin perilaku kekerasan menjadi habilbaru generasi bangsa ini.
Jadi, pendidikan toleransi perlu ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Lebih cepat diajarkan berto-leransi, lebih baik bagi perkembangan jiwa anak-anak. Saat anak mulai bergaul denganteman-temannya, dia akan mulai merasakan perbedaan, (ika tidak diajarkan bertoleransi, nantinya dia bisa berkonflik dengan teman-temannya karena perbedaan.
Banyak orang tua yang hidup dalam komunitas beragam dan memiliki teman-teman yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Meng-ajarkan toleransikepada anak-anak seba i k n y a dimulai dari sikap orang tua yang menghargai perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri tanpa sikap yang dibuat-buat. Anak-anak di masa depandihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda sehingga pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan anak-anak.
Apalagi, kelak jarak antarnegara dan benua sudah semakin dekat berkat kemajuan teknologi. Psikolog anak Gordon Allport berpendapat anak-anak yang diamatinya lebih cenderung tumbuh toleran jika mereka tinggal di rumah yang mendukung dan penuh kasih.
Paling tidak, ada empat cara mengajarkan toleransi kepada anak. Pertama, perkenalkan keragaman. Anda bisa mulai dengan memberi pengertian bahwa ada beragam suku, agama, dan budaya. Beritahukan kepada buah hati, meskipun memiliki agama atau suku yang berbeda, manusia sebenarnya sama dan tidak boleh dibeda-bedakan. Memperkenalkan keragaman sedini mungkin nantinya bisa memupuk jiwa toleransi buah hati agar lebih memandang perbedaan yang ada secara lebih bijak.
Kedua, perbedaan bukan untuk menimbulkan kebencian. Ajarkan kepada buah hati bahwa perbedaan yang ada jangan disikapi dengan kebencian, karena kebencian akan membuat sedih dan menyakiti hati orang lain. Cobalah ajak buah hati untuk berandai-andai jika dia dibenci karena perbedaan, tentu akan merasa sedih. Dengan begitu.dia lebih merasa empati danbertoleransi dengan apa yang dirasakan orang lain
Ketiga, beri contoh. Jangan h.my.i memberi tahunya lewat kata-kala, tetapi juga contoh nyata, lika bertemu seseorang menggunakan simbol agama \.mj; cukup ekstrem atau se-enr.ing yang memiliki warna kulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan, apalagi mengatakan sesuatu bernada kebencian dan ledekan. Ingatlah bahw .1 Ando adalah contoh bagi buah hati. Bersikaplali seperti biasa dan jika buah hati bertanya, berikan penjelasan vang bijak.
Keempat, bertoleransi untuk kedamaian. Beritahukan kepada buah hati bahwa sikap toleransi itu --angat dibutuhkan. Jika tidak ada sikap toleransi, banyak orang yang akan bermusuhan dan saling membenci. Katakan juga kepadanya jika hal itu terjadi, dia tidak akan nyaman saat bersekolah ataupun bermain.
Psikolog anak dari Karuna Center for Peace Building di Leverett, Massachusetts, Amerika Serikat, Paula Green PhD, mengemukakan sikap toleransi dan intoleransi dapat dipelajari. Jika orang tua takut akan perbedaan, anak-anak akan mengikutinya. Pengajaran toleransi adalah tanggung jawab orang tua, dan hal itu perlu dilakukan secara serius.
Sebagai pendidik dan pencetak generasi berikutnya, orang tua mempunyai kewajiban untuk berdiri dan berada di garis depan dalam melawan kefanatikan, rasisme, dan prasangka dalam segala bentuknya. Membina identitas bangsa melalui pendidikan yang berbasis toleransi memerlukan upaya yang berkesinambungan serta berkaitan dengan berbagai aspek, dan salah satu yang sangat penting ialah pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar