Jumat, 17 Februari 2012

Kearifan Lokal Mampu Menangkal Penetrasi Budaya Global

Kearifan Lokal Mampu Menangkal Penetrasi Budaya Global

YOGYAKARTA, (PRLM).- Kearifan lokal dinilai mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bersifat destruktif, terutama di tengah arus informasi dan globalisasi, kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Budaya global yang didominasi budaya Eropa dan Amerika Serikat (AS) kini mulai merasuki budaya lokal, sehingga memberi kesan budaya barat wajib ditiru untuk mengikuti perkembangan zaman," katanya di Yogyakarta, Jumat (7/8)..
Pemahaman yang keliru tersebut, menurut Sultan, harus dikikis sehingga bangsa Indonesia tetap mempertahankan ciri khas kebudayan dan kearifan lokal yang dimiliki.
"Budaya lokal memiliki banyak keunggulan dibanding beberapa budaya asing yang bersifat destruktif karena dengan kearifan lokal bangsa Indonesia mampu membina persatuan dan kesatuan di tengah kemajemukan bangsa," katanya.
Sultan mencontohkan, hasil budaya lokal yang membuat bangsa ini tetap berdiri kokoh, antara lain, budaya gotong royong masyarakat Jawa, "jumping stone" (loncat batu) suku Nias, irigasi subak di Bali, "si gale-gale" (suku Batak), suku Asmat dengan "spatalur" (suku Asmat), dan "kelebit (suku Dayak).
"Indonesia dapat maju jika mampu menghargai kearifan lokal dan dipimpin sosok yang mau hidup berdampingan," katanya.
Dengan pola hidup berdampingan, katanya, para pemimpin bangsa akan mampu merumuskan visi dan misi rakyat, bukan visi dalam menjalankan pemerintahan.
"Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menjalankan visi dan misi menyejahteraan rakyat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Rapublik Indonesia (NKRI)," katanya.
Sultan mengatakan, budaya lokal memiliki kelebihan potensi tertentu, sehingga perpaduan multibudaya mampu menambah keragaman budaya dalam semangat merekatkan persatuan.
"Akulturasi antartradisi yang ada di Indonesia mampu membawa perubahan yang lebih dinamis. Dalam beberapa kasus kearifan lokal ternyata lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas.
Suku Dayak, misalnya, memiliki pengetahuan lokal tentang cara berladang yang mampu menyelesaikan persoalan lingkungan hidup. Masyarakat Banjar menemukan sistem pertanian lestari yang mampu meningkatkan produksi padi.
"Sejumlah perkembangan itu membuktikan budaya lokal tidak berjalan ditempat, namun mampu mengikuti perkembangan zaman dengan lebih bijak," katanya. (das)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar