Jumat, 10 Februari 2012

Empati vs Emosi

Empati Vs. Emosi

OPINI | 07 February 2012 | 17:42 103 6 1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif

Tatkala lampu sudah menunjukkan warna hijau, tetapi kendaraan yang berada paling depan belum juga bergerak. Di belakang ada orang yang sedang terburu-buru.
Seketika tampak emosi. Klakson dibunyikan berkali-kali sambil berteriak,”Emang Jakarta milik bapakmu. Kalau bawa mobil jangan ngelamun dong. Bikin Jakarta macet aja!”
Di lain pihak, kebetulan pengendara paling depan sedang galau memikirkan anaknya yang sedang sakit. Mendengar ada yang meneriaki, spontan emosi.
“Hui, sabar dikit kenapa?! Mau buru-buru emang udah mau kiamat atau mau ke neraka?”
Hanya karena masalah beberapa detik. Hanya dalam waktu hitungan sekali hisapan rokok. Emosi bisa tersudut membakar hati. Ujung-ujungnya bisa berkelahi.
Saling menyalahkan dan merasa paling benar. Masalah sepele harus diatasi dengan emosi yang berlebih.
Coba bila masing-masing ada untuk saling memaklumi. Tidak menggunakan pandangan sendiri sebagai yang paling benar, maka saling emosi pasti dapat dihindari.
Seumpama bila menemukan kejadian seperti di atas. Pengendara di belakang berpikir. Mungkin supirnya sedang ada masalah berat, sehingga melamun dan tidak memperhatikan lampu hijau telah menyala.
Sebaliknya begitu juga manakala pengendara yang di depan mau memaklumi. Mengapa pengendara di belakangnya berteriak dan membunyikan klakson. Mungkin dia sedang terburu-buru ada urusan penting. Ini salah saya.
Bukankah tidak akan ada masalah lagi?
Pada kesempatan lain ada seseorang yang begitu mahir menyetir mobil, sedangkan mobil yang dikendarai sudah cukup tua. Sering bermasalah.
Ketika menemukan lampu merah ia langsung berhenti persis di depan. Celakanya saat lampu sudah menunjukkan warna hijau, mobilnya tidak bisa melaju.
Mobil yang persis berada di belakang, supirnya terus-menerus menyalakan klaksonnya.
Pengendara mobil tua tersebut turun dari mobilnya dengan wajah penuh peluh dan wajah memerah. Ia berjalan ke arah mobil di belakangnya.
Supir yang menyalakan klakson terus tampak tegang tapi sigap. Orang-orang di sekitar sudah menjadi bakal terjadi perkelahian.
Namun di luar dugaan si pengendara mobil tua dengan halus berkata,”Maaf, Pak. Kalau bapak bersedia, mari kita tukar posisi. Bapak membantu menyalakan mesin mobil saya, sedangkan saya membantu membunyikan klakson mobil Bapak.”
Jangan sekarang, kita lebih memiliki sedikit empati. Tapi lebih banyak memiliki emosi. Tak heran banyak hal yang sepele harus diselesaikan dengan saling mengumbar emosi.
Itulah sebabnya bila kebetulan perilaku kita ada yang persis dengan supir yang suka main klakson atau mengumpat. Setelah membaca tulisan ini jangan emosi. Apalagi main klakson sambil membaca.


Empati

OPINI | 18 January 2012 | 10:40 88 16 2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif
Empati,suatu perasaan yang timbul dari relung hati yang paling dalam diri manusia.
Ketika yang satu ini telah hilang dari tubuh kita,maka kita tidak layak lagi menyandang gelar sebagai manusia.
Boleh jadi derajad kita lebih rendah dari hewan sekalipun,karena hewan hanya mempunyai naluri.
Kita boleh kehilangan segala harta yang kita miliki,tapi jangan sampai kehilangan rasa empati.
Negara kita seperti ini,karena sebagian dari kita semua sudah kehilangan rasa empati dan nurani.
Mari kita rubah negara ini kearah yang lebih baik.Kita mulai dari diri sendiri dan keluarga kita terlebih dahulu.
Karena seberapa kotorpun air yang ada disumur,apabila mata airnya jernih ,suatu saat pasti sumurnya akan bersih dan jernih.
Dan demikian juga sebaliknya.
Uneg-uneg seorang ayah dari satu orang puteri pagi ini.
Salam silaturrahim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar