Minggu, 04 Maret 2012

Sinden Gambang Keromong Klasik Terakhir

Sinden Gambang Keromong Klasik Terakhir
Senin, 6 Februari 2012 | 03:05 WIB
 
Oleh Iwan Santosa/Irwan Julianto
Kesenian gambang keromong adalah jembatan budaya Betawi, Sunda, dan peranakan Tionghoa yang berkembang sejak medio abad ke-19. Encim Masnah alias Pang Tjin Nio adalah satu-satunya sinden lagu-lagu klasik gambang keromong yang tersisa. 
Masnah, peranakan Tionghoa kelahiran Banten Lama, dekat kelenteng Avalokiteswara, dari pasangan Tionghoa dan Jawa itu, mulai berkiprah sebagai penyanyi gambang keromong dan penari cokek pada usia 14 tahun.
”Awalnya, gara-gara ditinggal mati suami dan anak. Ditinggal orangtua pasti sedih. Kehilangan suami dan anak bisa hilang akal. Kalau ada yang ngajak nyanyi atau menari, ya (saya) ngikut,” ujar Masnah saat masih segar dalam film dokumenter Anak Naga Beranak Naga tahun 2006.
Dalam film itu, ia menceritakan keterlibatannya menjadi penyanyi dan penari gambang keromong. Dia juga membintangi film dokumenter lainnya, Dua Perempuan.
Ketika ditemui pekan lalu, Masnah tersengal-sengal saat berbicara dan telinganya tak lagi tajam mendengar. Dia berkali-kali menghela napas dan setengah berteriak saat berusaha berbicara. Berjalan jauh pun ia susah karena kedua kakinya sudah lemah.
Primadona
Pada masa silam, sebagai primadona gambang keromong, Masnah bebas mengikuti kelompok mana pun yang mau menanggapnya. Berbeda dengan situasi kini yang mengharuskan sinden punya kelompok gambang keromong sendiri.
Kini, seorang sinden bisa bermain dengan kelompok lain, tetapi syaratnya sedang tidak ada permintaan pentas yang ditangani grup gambang keromong yang menaunginya. Dulu, pada masa jaya, Masnah menjadi bintang panggung di pekalangan (acara hajatan), pernikahan, ulang tahun, dan pelbagai acara masyarakat lainnya.
Bisa menyanyi bersama grup gambang keromong yang laris ditanggap memang menyenangkan. Sauw Ong Kian, pemimpin grup Sinar Gemilang, tempat Masnah terakhir kali bergabung, menceritakan, uang sawer dari pertunjukan dikumpulkan dan bisa memenuhi kotak gambang.
”Setelah penuh, barulah uang sawer dan penghasilan dibagi untuk para anggota kelompok gambang keromong,” ujar Ong Kian yang sejak zaman orangtuanya pun sudah kerap manggung bersama Masnah, sang primadona.
Kehidupan Masnah menjadi sedikit susah saat Perang Dunia II dan militer Jepang menyerbu Pulau Jawa pada 1 Maret 1942. Dia bersama beberapa sanak keluarga mengungsi ke Batavia menumpang perahu dari Banten, dan tiba di Pelabuhan Pasar Ikan.
”Saya bersama beberapa teman dan kerabat bergabung dengan grup gambang keromong di Gang Songsi, Jembatan Lima, Jakarta. Saya sempat lama bergabung dengan gambang keromong Cabe Rawit-Irama Persatuan di daerah Pecah Kulit (kini Jalan Pangeran Jayakarta),” ujar nenek yang suaranya lantang jika diminta membawakan lagu-lagu klasik gambang keromong ini.
Penyanyi kesohor itu melanjutkan, pada masa silam, seorang gadis yang tak bisa menyanyi tak bisa menjadi anak cokek (penari). Kini, asal bisa menari dan cantik, seseorang bisa menjadi cokek.
Meski buta huruf dan tak pernah bersekolah, Masnah mengaku mengenal hitung-hitungan, termasuk soal honornya menyanyi. Dia tidak mematok berapa harga yang harus dikeluarkan untuk mengundangnya hadir dalam satu hajatan.
Saat diwawancara Warisan Indonesia disebutkan, untuk menyanyi tiga lagu, dia dibayar Rp 500.000. Bila berikut uang sawer, dia bisa membawa pulang Rp 1 juta.
Walau sakit-sakitan, bulan lalu ia masih diajak menyanyi dua kali di kelenteng dekat rumahnya, di bilangan Sewan (Rawa Kucing), Tangerang. Ia kini tinggal di rumah anak angkatnya, Endang Winata alias Ojit, yang berdinding bata semen tanpa diplester.
Setahun yang lalu, Masnah menjual rumah warisan dari suami terakhirnya dan kini ditempati Goyong (60), anak kandung sang suami dari istri pertama. Goyong mewarisi bakat dari ayah kandungnya yang fasih memainkan alat-alat musik, membuat peralatan gambang, dan dua jenis rebab khusus untuk gambang keromong.
Kesetiaan Masnah pada jalur gambang keromong mendapatkan pengakuan dari berbagai lembaga. Smithsonian Institute dari Amerika Serikat secara khusus merekam gambang keromong dengan Masnah menyanyikan lagu klasik. Ketika itu Masnah masih menyanyi diiringi suaminya yang terakhir, Oen Oen Hok.
Foto Masnah muda bersama almarhum suaminya itu terpajang di samping foto besar suaminya, di atas meja sembahyang. Ada juga sampul CD Music from the Outskirt of Jakarta-Gambang Kromong yang diproduksi Smithsonian Folkways tahun 1991.
Ia juga memasang foto suaminya dengan dua rekannya pemain rebab serta foto Masnah sekitar 20 tahun lalu. Masnah pun masih mengingat lagu-lagu gambang keromong, seperti Cente Manis Berdiri, Stambul Rusak, Sereh Wangi, Langkuan, dan Jali Jali.
Manggung di Singapura
Pemerhati budaya peranakan Tionghoa di Tangerang, David Kwa, berharap ada yang secara khusus mendokumentasikan dalam bentuk digital rekaman-rekaman lagu Masnah.
”Penyanyi sekarang tak ada yang punya kemampuan seperti Encim Masnah. Mereka hanya mengenal lagu-lagu sayur. Lagu dalem atau disebut juga lagu klasik hanya Encim Masnah yang mengerti,” kata David Kwa yang pernah tampil bersama Encim Masnah pada acara televisi Kick Andy beberapa tahun silam.
Masnah mengatakan, kalau kondisinya sehat, ia selalu siap berangkat untuk menyanyi gambang keromong meski penghasilan dari menyanyi itu tak seberapa dan habis untuk kebutuhan sehari-hari, terutama biaya berobat.
Walaupun gambang keromong, musik pemersatu Betawi, Tionghoa, dan Sunda itu, semakin tersisih, Masnah tetap setia pada dunia yang membesarkannya. Dia bangga pernah manggung di ”Gedung Durian”, Esplanade, Singapura, 18-21 September 2006, diiringi grup gambang keromong Sinar Gemilang pimpinan Sauw Ong Kian.
Masnah tampil anggun di Esplanade. Ia berkebaya dan mengenakan sarung batik yang disediakan warga Singapura. Itulah puncak pengakuan karier Masnah yang justru dia peroleh di Singapura.
Memang setahun kemudian, tepatnya 28 Desember 2007, ia mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik atas kesetiaannya melestarikan lagu-lagu klasik gambang keromong. Ia mendapat uang penghargaan Rp 7,5 juta, yang segera habis digunakan untuk berobat.
Saat Bentara Budaya Jakarta menggelar Pameran Budaya Peranakan Tionghoa, Senin (6/2), Masnah dengan antusias menyatakan siap menyanyi ketika mengetahui gambang keromong pimpinan Sauw Ong Kian akan tampil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar