Selasa, 20 Maret 2012

Dia yang Memuliakan Tamu


Dia yang Memuliakan Tamu


REP | 20 March 2012 | 02:28Dibaca: 37   Komentar: 0   Nihil

Hangat, ramah, dan terbuka. Begituah sifat yang kami dapatkan dari sosok Untung. Lelaki 30 tahun ini adalah rekan kerja sepupuku. Pada pagi di Ahad (18/3) lalu kami berkunjung ke kontrakannya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Dia tinggal bersama istrinya yang tengah hamil tua anak pertama. Begitu tiba, dia menyambut kami dengan riang gembira.
Kontrakan yang ditempati Untung bersama istrinya berukuran 3×4 meter persegi. “Sebulan Rp 700 ribu,” kata dia saat kami tanya. Dia hidup dengan kesederhanaan. Tidak banyak perabot yang ada di kontrakannya itu. Hanya tempat tidur, televisi 14 inci, peralatan masak dan makan, serta lemari.
Di balik hidup yang pas-pasan itu, kami menangkap sesuatu yang istimewa dari Untung: dia sangat memuliakan tamu. Keluarga kecil ini menyuguhkan kami air putih. Istrinya membuat pisang goreng begitu kami tiba. Namun bukan jenis suguhan yang membuat kami begitu respek padanya. Tapi suguhan itu hadir dari jiwanya yang riang gembira dengan kedatangan kami sebagai tamunya. “Makanan yang ada hanya ini. Ayo makan,” kata Untung semangat.
Bermaksud menghormati tuan rumah, kami segera mencomot pisang goreng yang masih hangat itu lalu memakannya. Sungguh nikmat. “Sebenarnya nggak usah repot-repot. Kami datang untuk silaturrahim, bukan mencari makanan,” canda Subhan, sepupuku. Kami tertawa. “Nggak repot kok, kami hanya ingin memuliakan tamu kami,” kata Untung usai tawa kami reda.
Memuliakan tamu! Inilah perbuatan yang seakan makin asing di tengah hidup kaum modern masyarakat perkotaan. Tapi Untung dalam kesahajaannya masih mempraktekan perbuatan luhur itu. “Memuliakan tamu adalah akhlak terpuji. Dia sunnah yang diajarkan Rasulullah pada kita,” begitu ingatanku melayang pada kata-kata guruku sewaktu kecil. “Tidaklah seseorang yang datang tamu kepadanya lalu dia memuliakan, kecuali Allah akan membukakan pintu surga baginya,” lanjut guruku mengutip sabda Rasulullah.
Tamu apabila masuk ke dalam rumah saudaranya, maka masuk pula bersamanya seribu berkah, seribu rahmat, serta ampunan Allah untuk penghuni rumah. Allah juga memberi pahala seribu orang yang mati syahid, dan menulis baginya dengan setiap suap yang dimakan tamu dengan ganjaran haji mabrur, serta Allah membangun sebuah kota di surga untuknya. “Dan barang siapa yang memuliakan tamu, maka seakan-akan dia telah memuliakan tujuh puluh nabi,” begitu wejangan guru mengutip sabda Rasulullah.
Dikisahkan saat Umar bin Khattab kedatangan tamu, dia berdiri menyambut dan melayaninya sendiri. Seseorang bertanya tentang hal itu, maka Umar menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Para malaikat berdiri di dalam rumah yang di dalamnya sedang ada tamu.’ Maka aku merasa malu untuk duduk sedangkan para malaikat berdiri.
Akhlak luhur memuliakan tamu inilah yang membuat Nabi Ibrahim beroleh predikat Khalilullah (kekasih Allah). Seseorang bertanya pada Ibrahim musabab Allah menjadikannya al-Khalil. Ibrahim menjawab, salah satunya, karena dia tidak senang makan, baik sore maupun pagi hari, kecuali bersama tamu. Bahkan di suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Ibrahim pernah berjalan sejauh satu sampai dua mil hanya untuk mencari orang yang mau menemaninya makan.
Ingatan-ingatanku tentang segala keutamaan memuliakan tamu berkelebat-kelebat di tengah-tengah obrolan yang gayeng. Sekitar dua jam lamanya kami berbincang. Ketika sadar hari semakin siang, kami hendak pamit pulang. Namun Untung menahan kami. “Tunggu sebentar, istri sedang menyiapkan makan siang,” kata dia. Kami tak kuasa menolak. “Setiap tamu yang datang ke rumah Untung, nggak boleh pulang sebelum makan,” ujarnya. Maka kami pun makan dengan sajian sederhana namun penuh berkah itu. Saat pamit, Untung mengantarkan kami sampai ke ujung gang dengan wajah bahagia. [AMIRULLAH]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar