Selasa, 27 Maret 2012

Melatih Moral dan Budi Pekerti


Senin, 26 Maret 2012

Drs. Tavip Bachtiar
(Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Cileunyi)

Melatih Moral dan Budi Pekerti

PENDIDIKAN moral dan budi pekerti tidak hanya diterapkan di ruang kelas melainkan ditanaamkan dalam kegiatan ekstrakurikuler (eskul). Pendidikan itu antara lain diimplementasikan dalam bentuk kegiatan penghijauan di lingkungan sekolah pada lahan milik pemerintah provinsi. Kegiatan bertema "Bumiku Hijau" itu dikoordinasi oleh pengurus osis yang ada di SMAN 1 Cileunyi.

Para siswa mendapat bantuan benih pohon dari Dinas Kehutanan Prov. Jabar sebanyak 2.000 pohon jabon, jati putih. Ribuan pohon itu sudah sebagian ditanam oleh para siswa pada lahan kosong yang ada di lingkungan sekolah dan sebagian lagi dibagikan kepada masyarakat untuk sama-sama ditanam pada lahan kosong.

Pembinaan karakter juga melalui kegiatan cerdas cermat yang dilaksanakan secara rutin. Mereka juga didorong untuk terus berdisiplin dalam latihan.

Ada pula yang diterapkan melalui kreativitas remaja masjid (Karisma). Melalui Karisma itu bisa ditanamkan pendidikan agama yang dibina langsung oleh para pembina dengan fokus akhlak dan disiplin ilmu.

Kami juga mengarahkan para siswa agar mampu dan sigap menghadapi bencana alam melalui kegiatan Palang Merah Remaja (PMR). Diminta atau tidak diminta kami selalu mengirimkan tim PMR ke daerah yang terkena bencana alam.
(engkos kosasih/"GM")**
Senin, 26 Maret 2012

Husny M. Sodikin

Jawara dari Cileunyi

HUSYNI M. Sodikin (17), siswa kelas XII di SMAN 1 Cileunyi, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung adalah siswa berprestasi dalam seni bela diri pencak silat Taji Malela. Warga Kp. Pasir Kaum, Desa Cimekar, Kec. Cileunyi ini menjadi siswa terbaik pertama dalam seni bela diri pencak silat di tingkat Provinsi Jabar yang diselenggarakan di Kab. Garut, pada Februari 2012 lalu.

Prestasi yang diraih anak keempat dari lima bersaudara pasangan M. Sodikin dan Diah Anisanur ini, menjadi kebanggaan.

Bukan hanya bagi dirinya melainkan bagi keluarga, sekolah, dan warga Kabupaten Bandung. "Belajar dan menekuni seni bela diri pencak silat sangat menyenangkan. Apalagi, belajar pencak silat berkaitan dengan budaya Sunda," kata Husny.

Menurutnyas, dengan menekuni seni bela diri tradisional, selain dapat menyehatkan badan, juga banyak manfaatnya. "Antara lain jadi banyak teman dari berbagai daerah dan kota. Kalau di sekolah sih sudah jelas, ya" katanya.

Siswa berprestasi di kelasnya ini, menggemari seni bela diri pencak silat Taji Malela sudah sejak SMP, sehingga boleh dibilang sudah menjadi bagian dalam hidupnya sehari-hari. "Aku mencintainya atas kemauan sendiri, bukan atas dasar dorongan orang lain. Yang pasti, seni bela diri ini sangat menyenangkan," kata pria dengan nilai akademik rata-rata 8,5 ini.

Karena hobinya sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya itu, Ia mengatakan, menekuni seni bela diri karena bagian dari budaya asli masyarakat Indonesia, khususnya warga pituin Sunda. Dengan dasar itulah, ia ingin melestarikan warisan seni budaya urang sunda.

Husny ingin sekali menjadi orang sukses. Selepas SMAN, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia ingin menjadi guru sosiologi agar bisa mempelajari tentang kehidupan sosial masyarakat. "Semua ini berkat dukungan orangtua dan guruku. Tanpa mereka aku tidak berarti apa-apa," katanya.
(engkos kosasih/"GM")**
Senin, 26 Maret 2012

SMAN 1 Cileunyi

Mengukir Prestasi Lewat Taji Malela

UNTUK meningkatkan kemampuan siswa baik dalam kegiatan di luar akademis, SMA Negeri 1 Cileunyi, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung menyiapkan 20 kegiatan ekstra kurikuler (eskul) yang diterapkan kepada para siswanya. Dari sekian banyak kegiatan eskul tersebut, ada di antaranya yang berprestasi di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Salah satunya dalam bidang seni bela diri pencak silat Taji Malela.

Selain itu, para siswa ada yang menggemari mengikuti baris berbaris paskibraka, palang merah remaja, modern dance, dan karya ilmiah remaja. Kegiatan eskul tersebut menjadi pilihan bagi mereka, berdasarkan bakat dan minat siswa meskipun tidak semua siswa mengikuti kegiatan tambahan tersebut.

Kepala SMAN 1 Cileunyi, Drs. H. Otang Rismas, M.Pd. melalui Wakasek Bidang Kesiswaan, Drs. Tavip Bachtiar, mengatakan, dari sekian banyak eskul yang ada, pencak silat Taji Malelalah yang sempat mengikuti sejumlah even, baik di tingkat gugus, kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun tingkat nasional. "Kami jadi juara umum pada kejuaraan tingkat Jabar yang dilaksanakan di Garut pada Februari 2012 lalu," kata Tavip kepada "GM" di ruang kerjanya di SMAN 1 Cileunyi, Kamis (22/3).

Menurut Tavip, mereka membiasakan diri berlatih dua kali dalam seminggu selepas mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya masing-masing.

"Namun kalau menghadapi even, para siswa berlatih setiap hari sepulang sekolah," katanya. Kegiatan eskul tersebut, lanjutnya, merupakan kegiatan tambahan untuk menyalurkan minat dan bakat siswa di luar mata pelajaran yang ada. "Kami sedang berusaha membangun pendidikan budaya, karakter melalui kegiatan eskul," kata Tavip.

Dalam pendidikan budaya, imbuhnya, ada nilai kesetiakawanan bersama, ketahanan, solidaritas, sportivitas yang dapat dan sangat menunjang sekali melalui kegiatan tersebut. Seni bela diri yang bernapaskan budaya sunda itu, mulai dipelajari dan ditekuni para siswa sejak 1993, menyusul berdirinya sekolah tersebut. Siswa yang sudah unjuk kebolehan di tingkat nasional adalah Toni, alumni SMAN 1 Cileunyi sedangkan yang berprestasi di tingkat Jabar adalah Husny, siswa kelas XII.
(engkos kosasih/"GM")**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar