Rabu, 21 Maret 2012

WISATA KULINER BREBES


Sate Jatibarang

  • PDFPrintE-mail

Kuliner yang satu ini memang tidak asing bagi setiap kalangan dan juga dikenal di banyak daerah,tetapi berbada tempat berbeda pula rasa khasnya.

Inilah sate kambing jatibarang Brebes yang banyak ditemui di jalan Brebes - Jatibarang banyak berjejer Rumah makan sate kambing.

sate kambing dengan sambel kecapnya.........................................................

Tape Ketan daun jambu

  • PDFPrintE-mail

Tape Ketan Daun Jambu, atau lebih dikenal dengan tape ember, merupakan makanan tradisional & oleh-oleh khas dari daerah kuningan Jawa Barat. Dibuat dari beras ketan pilihan, tanpa pewarna dan pengawet. selain rasanya yang sangat nikmat, tape ini juga memiliki kemasan yang cukup unik, yakni satuannya dibungkus dengan daun jambu air dan dikemas perseratus bungkus dalam ember kecil. Selain itu airnya juga sangat digemari untuk minuman obat.

Ayam Panggang Bie Seng Tanjung

  • PDFPrintE-mail

Kalau kita melewati jalur Pantura dari Jakarta menuju Jawa Tengah, kita akan melewati kota kecil bernama Tanjung, sekitar 15 menit setelah perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah. Kota ini berada antara Cirebon dan Brebes. Nah kalau anda melewati kota Tanjung, cobalah mampir ke rumah makan Bie Seng. Letaknya ada di jalan  Cendrawasih no: 123, sebelah kiri jalan kalau dari arah Losari menuju Brebes. Tidak sulit koq mencarinya.

''Kafe Saka Limalas'' Bumiayu

  • PDFPrintE-mail

''Kafe Saka Limalas'' Bumiayu

KAFE, tempat yang sudah tidak asing bagi warga kota. Mau nyantai, melakukan lobi, atau pembicaraan bisnis hingga persoalan cinta, kafe sering menjadi jujugan. Bagaimana bagi warga yag hidup di kota kecil atau pedesaan? Warung kopi sudah lama dikenal sebagai tempat ngobrol dan nongkrong, baik sekadar berbicara dengan tetangga maupun kawan.


Ayam Panggang Bie Seng Tanjung

  • PDFPrintE-mail

Kalau kita melewati jalur Pantura dari Jakarta menuju Jawa Tengah, kita akan melewati kota kecil bernama Tanjung, sekitar 15 menit setelah perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah. Kota ini berada antara Cirebon dan Brebes. Nah kalau anda melewati kota Tanjung, cobalah mampir ke rumah makan Bie Seng. Letaknya ada di jalan  Cendrawasih no: 123, sebelah kiri jalan kalau dari arah Losari menuju Brebes. Tidak sulit koq mencarinya.

Rumah Makan Bie Seng menyajikan masakan tradisional Indonesia ini sudah ada sejak tahun 1968, dan memang laris sampai sekarang. Karena berada di jalur Pantura, maka  banyak pelanggang yang berasal dari luar kota juga. Di daerah Tanjung memang tidak banyak pilihan rumah makan untuk disinggahi, saya rasa Bie Seng adalah salah satu rumah makan yang paling  kami rekomendasikan di daerah Tanjung. Selain tempatnya bersih, makanannya pun enak-enak.

Sebut saja seperti Ayam Panggang dan Kepiting Soka Gorengnya. Dua menu ini adalah kesukaan saya setiap kali singgah di rumah makan Bie Seng. Ayam Panggangnya berbumbu yang sangat lezat, seperti bumbu kecap yang terasa manis dan gurih. Daging ayamnya pun sangat lembut, terlebih lagi bumbu kecapnya tadi meresap sampai kedalam-dalamnya. Mantap rasanya. Apalagi kalau dalam keadaan panas, wuih mantap deh rasanya.

Nah kesukaan saya selain ayam panggang tadi adalah Kepiting Soka yang di goreng. Jarang banget menemukan kepiting soka yang digoreng biasa. Kebanyakan digoreng tepung, tapi di Bie Seng ini hanya digoreng biasa. Tapi jangan salah, meskipun hanya di goreng biasa, tapi ini juga terasa enak lho. Kulit kepitingnya yang lembut itu bisa kita makan, jadi seperti kriuk-kriuk, cruncy di luar dan lembut daging yang didalamnya.

Masih banyak lagi yang enak di Bie Seng, lauk yang disediakan juga banyak. Seperti lauk masakan rumah. Soal rasa memang Bie Seng tidak perlu di ragukan lagi, enak lah pokoknya. Harganya pun tidak mahal, untuk sepiring nasi, kepiting soka, aya panggang, dan oreg tempe hanya di hargai sekitar Rp. 27.000,- saja. Jadi kalau anda sedang melintas perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah, cobain deh rumah makan Bie Seng yang ada di Tanjung ini. Kepiting Soka Goreng dan Ayam Panggangnya sangat layak untuk anda cicipi. Selamat mencoba teman-teman. (ita)

Lokasi:
Rumah Makan Bie Seng
Jl. Cendrawasih no: 123 Tanjung - Brebes, Jawa Tengah
Telp: 0283-877588
Jam Buka : 07.00 -24.00

Menu:
Kepiting Soka Goreng
Ayam Panggang
Ayam Goreng
Oreg Tempe
Ikan Goreng
Cap Cay
Telur 
Baso

''Kafe Saka Limalas'' Bumiayu

  • PDFPrintE-mail

''Kafe Saka Limalas'' Bumiayu

KAFE, tempat yang sudah tidak asing bagi warga kota. Mau nyantai, melakukan lobi, atau pembicaraan bisnis hingga persoalan cinta, kafe sering menjadi jujugan. Bagaimana bagi warga yag hidup di kota kecil atau pedesaan? Warung kopi sudah lama dikenal sebagai tempat ngobrol dan nongkrong, baik sekadar berbicara dengan tetangga maupun kawan.

Bagi warga Kota Bumiayu, wilayah selatan Brebes, ada tempat khusus yang bisa menyalurkan kebutuhan seperti itu. Warung makan di tepi sawah, dekat sungai di Dukuh Rancakalong, Desa Dukuhturi, Bumiayu. Melihat fisik bangunan yang sangat sederhana, bahkan masih berlantai tanah, tidak berbeda jauh dengan warung kopi di kampung-kampung. Namun, coba tengok ke bagian belakang. Ternyata ada ruang terbuka terbuat dari papan, di bawahnya ada kolam ikan. Bagi tamu yang ingin nyantai bisa memilih duduk lesehan di belakang.''Para pegawai, pelajar yang ulang tahun, atau rapat-rapat sering ke sini. Tempat di belakang ini menjadi pilihan,'' ucap Maspupah (30), pemilik dan sekaligus pengelola warung. Warga asal Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, sekitar 5 km dari warung itu, baru setahun ini meneruskan usaha yang dirintis Jemah, sang ibu. Menu-menu yang disediakan juga warisan dari orang tuanya. ''Saya tidak tahu siapa yang memberi nama, sayur sawi ini dinamakan criwis, dan gorengan dari ampas kelapa dan bungkil ini disebut dage bal,'' cetusnya. Untuk melanjutkan usaha membuka warung, dia dibantu dua pegawai.

Gunung Slamet

Sejauh mata memandang ke arah timur, dari belakang warung dapat menikmati pemandangan Gunung Slamet dengan kepulan asapnya. Juga hamparan hijau tanaman padi dari kampung di seberang sungai Kali Erang yang berair jernih. Jika melongok ke selatan, dapat menyaksikan ''Saka Limalas'', jembatan layang rel kereta api, jalur selatan yang melewati Kota Bumiayu. Memandang jembatan dengan tiang berjumlah lima belas yang tinggi-tinggi, yang dilintasi kereta api, mirip ular merayap pada bentangan di kaki langit. Gemuruh kereta sering terdengar. Rata-rata dalam jangka setengah jam terlihat kereta meluncur, baik dari arah timur maupun barat, yang menghubungkan Jakarta-Surabaya lewat jalur selatan.

Sambil ngobrol dan menikmati hidangan khas, dage bal, gorengan tahu, dan tempe, teh poci, maupun nasi dengan lauk petai bakar, sambal, dan criwis, sayur oseng-oseng dengan bahan baku sawi. Jika asyik menikmati hidangan, pengunjung seolah tak mau terusik, termasuk oleh gemuruh suara kereta yang silih berganti. Biarkan kereta lewat, moci (minum teh poci) jalan terus, begitulah kira-kita celetuk dalam hati. ''Saya pernah ke sini tahun lalu, sebelum bagian belakang ada. Yang ngangeni ya dage bal ini,'' kata Ali, warga Kota Brebes yang sengaja datang ke ''Kafe Saka limalas''.

Penyebutan kafe itu untuk memberikan apresiasi peran warung itu yang selama ini sering menjadi ajang pertemuan, ulang tahun, lobi maupun urusan dagang.''Ibaratnya, menjadi terminal bagi orang yang yang mempunyai berbagai kepentingan. Bahkan para makelar pun sering nongkrong,'' cetus Drs Djajoesman, Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Kabupaten Brebes. Apa yang dikatakan itu tidak meleset. Sejumlah makelar material bangunan memang menjadikan warung itu sebagai tempat menjaring pembeli. Dekat warung ada tumpukan batu dan pasir di tepi jalan yang diambil dari sungai terdekat.''Kafe saka limalas'' hanya buka siang hari, pukul 09.00 - 17.00. Sebab, di warung itu tidak ada aliran listrik. Penerangannya hanya menggunakan lampu minyak.

Krupuk Rambak

  • PDFPrintE-mail
Kulit kerbau tak hanya bisa diolah menjadi pelapis bedug atau produk kerajinan lainnya. Tapi juga makanan yang cukup banyak disukai yakni krupuk kulit atau rambak. Rambak yang diproduksi sejumlah warga di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah kini bahkan bisa menembus pasar ekspor.

Di tangan warga Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, kulit kerbau atau lamping tidak hanya diolah untuk dijadikan bedug atau barang kerajinan lainnya. Tapi juga penganan krupuk yang oleh warga disebut krupuk rambak.

Pertama, kulit kerbau yang telah dijemur hingga kering direbus sampai lunak dalam air yang diberi ramuan bumbu. Setelah itu kulit kerbau diiris tipis-tipis kemudian dijemur kembali sampai kering.

Selanjutnya digoreng dengan suhu tertentu agar krupuk mengembang. Proses penjemuran dan pengorengan ini yang menentukan rasa gurih dan kerenyahan krupuk. Harga krupuk rambak lebih mahal yakni mencapai 90 ribu rupiah perkilogram.

Sedikitnya terdapat 75 perajin kerupuk rambak di Bumiayu. Tak heran daerah ini disebut sebagai sentra produsen kerupuk rambak. Kerupuk rambak Bumiayu juga telah menembus pasar ekspor antara lain Malaysia dan Brunai Darussalam.

Bandeng Presto

  • PDFPrintE-mail
Selama ini, bandeng presto atau bandeng tulang lunak dikenal sebagai makanan khas Semarang, Jawa Tengah. Tak banyak yang tahu, cara pengolahan ikan air tawar itu berasal dari Desa Limbangan Wetan, Kabupaten Brebes, Jateng. Warga pelosok Desa Limbangan Wetan pun umumnya menjadi pengusaha rumahan bandeng presto. Kini, tercatat sekitar 30 industri rumahan bandeng presto di Limbangan Wetan. Pasar bandeng presto sudah merambah berbagai daerah seperti Banyumas, Jateng, Bandung, Majalengka, Jawa Barat, hingga Jakarta.

Tarudin, pengusaha bandeng presto di Semarang mengaku belajar menekuni usahanya dari warga Brebes, sekitar 1960-an. Berbekal pengetahuan tersebut, Tarudin meneruskan usaha orang tuanya di bidang makanan olahan di Semarang, pada 1971. Sejak itu, Tarudin mengembangkan usahanya hingga kini mampu memproduksi satu ton bandeng tulang lunak per bulan. Setiap kilogram bandeng presto dijual seharga Rp 25 ribu. Tarudin mengaku meraup keuntungan bersih sekitar Rp 3,5 juta sampai Rp 4 juta per bulan.

Bahan dasar makanan khas ini adalah ikan bandeng segar, garam kasar atau garam krosok, daun bambu, dan daun pisang. Ikan yang akan diolah dikupas dulu sisiknya. Setelah itu, dicuci hingga bersih. Langkah berikutnya menata ikan ke dalam keranjang. Di bagian bawah diberi alas daun pisang dan di atasnya ditaburi garam. Di antara tumpukan ikan, disisipkan daun bambu dan garam. Daun bambu digunakan agar kulit ikan tak menempel dengan ikan di atasnya. Daun bambu juga dipercaya menambah kelezatan bandeng presto selain mengurangi rasa asin yang berlebihan.

Satu keranjang ikan yang rata-rata berisi 50 kg sampai 70 kg ikan dimasukkan ke dandang dari bahan logam tahan karat. Untuk menghasilkan bandeng bertulang lunak, dibutuhkan waktu memasak sekitar delapan jam. Semakin lama dimasak, bandeng akan berkurang bobotnya. Dari satu kuintal bandeng, dihasilkan sekitar 50 kg bandeng presto. Untuk menekan harga supaya terjangkau masyarakat menengah ke bawah, sebagian pengusaha memasak bandeng hanya sampai empat jam. Tapi, hasilnya tulang ikan kurang lunak.(ZAQ/Sugihartono dan Budi Harto)

Rujak Belut

  • PDFPrintE-mail
YANG doyan belut atau orang Jawa menyebut welut, sehari saja tak merasakannya pasti kebingungan. Terlebih jika sudah dimasak oleh koki berpengalaman, tentu akan menjadi teman makan yang mengasyikkan. Bahkan yang percaya, hewan air tersebut antara lain dapat sebagai obat ''kuat', penyakit kulit, dan darah rendah.

Mbok Ribut (80), warga RT 7 RW 2, Desa Cigedog, Kecamatan Kersana, Brebes tampaknya tahu persis soal khasiat belut. Dengan keterampilannya, dia mampu mengolah hewan licin tersebut menjadi rujak belut yang sedap.

Semula Mbok Ribut membuka warung kecil-kecilan di rumah Jalan Cermai, Desa Cigedong. Pembelinya hanya tetangga dan omset penjualan tak seberapa. Sehari menghabiskan satu sampai dua kilogram belut. Lama-kelamaan usahanya semakin maju. Rumah yang dipakai untuk berjualan pada 1980-an menggunakan dinding bambu, kini berubah menjadi warung yang bagus. Tembok keliling mengitari rumahnya yang sangat luas. Pembeli yang bermobil bisa parkir aman persis di depan rumah dengan pohon pelindung yang teduh. ''Ya itu berkat usaha ibu saya, dari warung kecil-kecilan kini menjadi begini,'' papar Ny Kaswen (40) anak dari Mbok Ribut yang meneruskan usahanya.

Untuk sampai ke rumah Mbok Ribut, 18 km barat Kota Brebes, bisa ditempuh dengan kendaraan 45 menit. Setelah sampai ibu kota Kecamatan Tanjung, perjalanan masih ke selatan 9 km masuk Kersana. ''Dari Kersana masih sekitar satu kilometer baru masuk Jalan Cermai, Desa Cigedog,'' tutur Camat Kersana Sutarsono BA.

Bumbu

Olahan rujak belut Mbok Ribut memang lain dari pada yang lain. Belut yang masih hidup dicuci sampai bersih. Setelah itu dicampur dengan bumbu bawang putih, bawang merah, jahe, laos, kemiri, dan tumbar.

''Belut yang hidup dimasukkan ke suatu tempat dicampur dengan bumbu-bumbu itu kemudian ditutup rapat,'' ujar Ny Kaswen.

Setelah sekian jam digoreng dengan minyak sayur. Ny Kaswen mengungkapkan, belut itu tak perlu dimatikan. Ungkapnya, ketika dicampur dengan bumbu-bumbu dan ditutup rapat hewan itu akan mati. Dengan demikian, dia tak kesulitan lagi ketika akan menggoreng.

Belut gorengan itu lantas dipotong-potong 10-15 cm. Sebelum disajikan, dibuatlah bumbu rujak lebih dulu. Bumbunya antara lain kacang, gula jawa, merica, tomat, jahe, garam, dan bawang merah. Khusus untuk bawang merah dan tomat tak digerus tapi dipotong-potong sebagai penyedap. Bumbu rujak yang sudah jadi kemudian sekalian diulek dengan potongan belut, maka jadilah rujak belut.

"Belut goreng tak usah dicampur dengan bumbu rujak sebenarnya sudah enak dimakan,'' papar Ny Kaswen.

Beberapa pembeli memang lebih suka langsung menyantap potongan belut goreng. Rasanya gurih dan sangat cocok untuk santap siang atau malam. Bahkan beberapa pembeli yang datang terkadang sengaja menyantap tanpa bumbu rujak. Tapi yang suka pedas biasanya minta sekalian dicampur bumbu rujak.

Setelah 22 tahun berjualan rujak belut, banyak pedatang dari luar kota sengaja mampir ke Cigedog. Mereka rata-rata menyatakan makanan itu mempunyai ciri khas tersendiri. Harga satu porsi relatif murah, hanya Rp 5.000. Dengan demikian untuk ukuran kantong tipis uang Rp 10.000 bisa makan dengan minuman soda susu.

Kupat Glabed dan Sate Blengong


Bagi Anda yang biasa melakukan "ritual" mudik, dari Jakarta dan kota-kota sekitarnya menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur, bila melalui jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) tentunya akan melewati Kabupaten Brebes. Dan sudah menjadi kebiasaan bagi para pemudik untuk selalu singgah di kota-kota yang dilewati selama perjalanan untuk sekedar melepas lelah, sholat, dan tentunya berburu kuliner. Karena kesempatan ini menjadikan berbeda berburu kuliner yang tidak dijumpai sehari-hari di tempat tinggal atau disekitar kita bekerja selama ini, dan sudah menjadi buah bibir bahwa kuliner di daerah jawa selain murah tentunya nikmat dan cocok di lidah orang Indonesia pada umumnya.

Kali ini, dalam perjalanan pulang dari Jawa selepas berkunjung ke sanak famili menuju kembali ke Serang-Banten, tepat di Alun-alun Kota Brebes kami berhenti untuk melepas lelah dan sholat ashar karena hari sudah menjelang sore hari. Masjid Agung Brebes berada di sebelah kanan alun-alun kota dan biasanya bila kami melewati alun-alun ini memang selalu berhenti, selain untuk istirahat tentunya belanja telor asin yang menjadi ikon Kabupaten Brebes.
Nah, kali ini kami berbeda karena melihat kondisi alun-alun sore hari yang sudah ramai oleh pengunjung dan pedagang kaki lima disekitar area alun-alun. Kami melihat banyak terdapat warung kaki lima bertulisan "Kupat Glabed" dan "Sate Blengong". Penasaran tentunya, jadi kepengen untuk merasakan bagaimana dan apa itu makanan. Tanpa sungkan-sungkan dihampiri dan tanya-tanya tentang makanan khas ini.

Kupat Glabed

Sama seperti halnya kupat-kupat biasa yang ada di tanah Jawa, disuguhkan dengan menggunakan kuah bersantan pekat berwarna kuning. Kemudian ditaburkan dengan kerupuk berbahan beras dan bawang goreng, bila anda suka dapat ditambahkan dengan potongan daging bebek yang diolah menjadi satu dengan sayur kuah santan tadi. Setelah itu kembali diguyur semacam sambel khas untuk memberikan rasa pedas dan segar. Satu porsinya seharga Rp11.000,00.


Sate Blengong

Berbahan daging bebek yang diolah dan dimasak menyerupai sate, dengan bumbu bersantan disajikan pertusuk seharga Rp3.000,00. Seperti ada rasa kacangnya terasa sangat nikmat, kami menikmati sate ini bersama dengan kupat glabed. Sate ini menjadi kegemaran masyarakat setempat, terlihat dari pengunjung yang memadati penjual sate yang khusus menjualnya dengan cara dibungkus, karena penjual tersebut tidak menyediakan area untuk makan di tempat.

Dari kedua kuliner khas Brebes ini, satu menjadi kesimpulan adalah menggunakan daging bebek sebagai menu utamanya. Dari tanya-tanya tadi, tentunya hal ini berhubungan dengan Brebes dengan ikon telor asinnya sehingga banyak produksi bebek dan berbagai olahannya.

Pada awalnya, bebek yang di olah menjadi makanan adalah bebek-bebek yang sudah tidak produktif untuk bertelor lagi tetapi karena lambat-laun kebutuhan bebek untuk diolah menjadi masakan, akhirnya diternakkan juga bebek yang khusus untuk bebek potong. Hal ini selain memberikan daging bebek yang segar karena masih berumur muda, juga memberikan diversifikasi pendapatan masyarakat setempat.


Demikian perjalanan dan kuliner kali ini, bila anda melewati Kota Brebes, jangan lupa untuk mampir di Alun-Alun Kota.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar