Senin, 26 Maret 2012

Festival budaya pertanian digelar di jembatan Tukad Bangkung


Festival budaya pertanian digelar di jembatan Tukad Bangkung
» Selasa, 14 Februari 2012 | 10:28 WIB | Dibaca: 724
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-ilmiah-458.html  berita-ilmiah_458.pdf  berita-ilmiah_458.doc umm-news-458-id.ps
Ilustrasi - Jembatan Tukad Bangkung, kabupaten Badung, Bali (istimewa)
Denpasar (ANTARA News) - Festival Budaya Pertanian digelar di areal Jembatan Tukad Bangkung, Kabupaten Badung, Bali, pada medio Juli 2012.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Badung, Anak Agung Gede Raka Yuda, di Denpasar, Selasa, mengatakan bahwa acara tersebut untuk menciptakan keseimbangan pembangunan fisik di kawasan utara dan selatan daerah itu.

"Kawasan selatan Badung selalu menjadi aspirasi dan apresiasi publik, sedangkan kawasan utara sudah memberikan dampak ekologis yang luar biasa dalam bentuk tata air dan udara yang mengalir secara alami," katanya.

Kegiatan itu, harap dia, untuk membangun respons dan partisipasi masyarakat sehingga dapat menyentuh gairah seni masyarakat dan petani.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Badung IGAK Sudaratmaja menjelaskan bahwa masyarakat pegunungan sangat akrab dengan tradisi yang bercirikan "linggayat" atau ritual yang memanfaatkan keberadaan lingga dan yoni sebagai sarana pemujaan dengan orientasi kesuburan dan kemakmuran.

"Upacara tersebut dilaksanakan dengan sarana upacara khusus dengan menyajikan `pelupuhan babi` yang terdiri atas nasi sasahan yang disajikan di atas daun telujungan yang dipersembahkan kepada Dewa Wisnu lambang kesuburan dan kemakmuran," katanya.

Sehari setelahnya, masyarakat mendapatkan air yang sebelumnya dipakai membasuh 'lingga'. "Tirta inilah kemudian dipercikkan di sawah atau tegalan dengan harapan hasil panen sawah dan tegalan akan berlimpah," katanya.

Raka Yuda menambahkan bahwa Festival Budaya Pertanian mengandung dimensi spirit budaya pertanian, konservasi ekologi, dan regulasi ekonomi.

"Dengan adanya tradisi ini diharapkan akan menjadi spirit dan taksu dari kegiatan festival serta diharapkan pula nantinya masing-masing kecamatan bisa menggali potensi budaya khas yang ada didaerahnya untuk diusung sebagai tema festival," katanya.

Jembatan Tukad Bangkung berlokasi di Desa Plaga, Kecamatan Petang, dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 19 Desember 2006.

Jembatan yang menghubungkan tiga kabupaten, yakni Badung, Bangli, dan Buleleng itu menjadi jembatan terpanjang di Bali dan diklaim sebagai tertinggi di Asia.

Panjang jembatan itu 360 meter, lebar 9,6 meter dengan pilar tertinggi mencapai 71,14 meter dan fondasi pilar 41 meter di dalam tanah. Jembatan itu berteknologi "balanced cantilever" dengan perkiraan usia pakai selama 100 tahun.

Konstruksi jembatan itu diperkirakan tahan terhadap gempa hingga 7 pada skala Richter. Jembatan itu menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan Jembatan Tukad Bangkung.

Diperlukan dana Rp49 miliar lebih untuk membangun jembatan itu. Dana itu berasal murni dari APBD Provinsi Bali dengan sistem multitahun sejak 2001.


Sumber : www.antaranews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar