Minggu, 18 Maret 2012

MATEUS SUWARSONO, PENDIRI SANGGAR SENI BALAI MAROJAHAN - Sumut Masih Membutuhkan Pejuang Budaya


MATEUS SUWARSONO, PENDIRI SANGGAR SENI BALAI MAROJAHAN - Sumut Masih Membutuhkan Pejuang BudayaPDFPrint
Friday, 16 March 2012
Kreativitas seni budaya Sumatera Utara (Sumut) hingga kini belum mampu berkontribusi dan mewarnai budaya nasional.Selama ini,budaya nasional kebanyakan diwarnai budaya asal Jawa,Papua dan Bali.


Kalaupun ada di luar itu, biasanya datang dari budaya Minang dan Aceh.Adapun Sumut yang memiliki berpotensi besar memberikan kontribusi dengan multietnisnya justru tenggelam. Bagi Mateus Suwarsono, Sumut masih sangat membutuhkan pejuang budaya yang mampu mengangkat kreativitas seni agar dapat berkontribusi dan mewarnai budaya nasional.

Ia menilai,proses berkesenian dan membangun geliat budaya di Sumut belum tuntas dan harus terus diperjuangkan. Meskipun dirinya telah berhasil mendirikan Balai Marojahan, sebagai wadah dan pusat sanggar seni pertunjukkan di Medan. Karena itu pula,ayah tiga anak ini enggan meninggalkan Sumut yang sudah 15 tahun disinggahinya.

Penari berlatar belakang seni tari kontemporer ini masih berobsesi membawa budaya Sumut berkiprah di tingkat nasional. “Kalau ditanya apakah saya akan kembali ke Jawa, jelas sampai sekarang saya belum berkeinginan untuk pindah.Karena dari dalam hati saya merasa proses berkesenian di Medan belum tuntas,”kata Suwarsono ketika ditemui di kediamannya di Jalan Saudara No 58 Medan.

Awalnya,ketika dirinya hijrah ke Medan pada 2008 silam,ia mencoba mengusung seni tari kontemporer.Namun, hingga saat ini Medan belum memiliki segmen yang jelas dari seni kontemporer, sehingga secara perlahan dosen di Fakultas Kesenian HKBP Nommensen ini beralih menggeluti seni tari tradisonal.

“Lima tahun belakangan ini memang saya lebih cenderung aktif menggali kreativitas seni tradisi. Begitupun,sesekali masih tetap berkreasi dengan seni tari kontemporer. Sebanarnya saya tidak menyukai adanya pengkotak-kotakan kreativitas.Namun karena segmen dari tari kontemporer di sini masih kurang,makanya saya berupaya untuk mengangkat nilai kearifan lokal dari seni tradisi,”ucap alumnus Seni Tari Institut Seni Indonesia,Yogyakarta ini .

Seni tari kontemporer pernah bangkit di Medan sekitar tahun 1998 dengan munculnya komunitas Gom Gom Dance yang diprakarsai Anton Sitepu dan Hafiz Taadi. Samun setelah tahun 2000 ke atas seni tari kontemporer parkatis tak lagi bergeliat. Seni tari kontemporer yang merupakan seni tari kekinian itu justru tersingkir dari kreativitas warisan yang merupakan seni tradisi.

“Sumut ini masih begitu kuat kreativitas warisannya karena memang segmen seni tradisi di sini masih sangat kental.Sayangnya hal itu belum mampu mewarnai budaya nasional, ”kata penggagas Komunitas Tari Medan dan Ars Dance Theatre ini. Menurut dia,proses pempelajaran seni tradisi di Sumut tak lepas dari latar belakangnya,yakni seni kontemporer.

Karena itu, banyak karya Suwarsono yang justru mengkombinasikan antara seni tradisi dan kontemporer.Seperti seni tradisi tari cawan berisi air dielaborasi menjadi tari cawan berisi lilin.Ternyata, karya seni tradisi yang sduah dikreasikan itu lebih banyak diminati, terutama di kalangan ummat religi.

Seni tradisi yang sudah digelutinya saat ini berasal dari Batak,Melayu,dan Karo. “Seni tradisi yang sama sekali belum pernah saya sentuh itu dari Melayu Pesisir dan Nias. Kalau dari tradisi lainnya sesekali sudah pernah mewarnai proses kreatif saya,” ucapnya.

Dalam proses menggali seni tradisi di Sumut,Suwarsono lebih senang aspek koreografisnya (esensi gerak) dan belum banyak merujuk pada konstektual. Alasannya jika merujuk pada budaya konstektualnya harus berhati-hati. Suwarsono melihat seni tradisi di Sumut masih sangat kuat.

Tercermin dari sulitnya budaya pendatang masuk mewarnai seni lokal.Tidak seperti Lampung yang justru budaya pendatang lebih mendominasi,semisal budaya Bali dan Jawa. Lantas kenapa seni tradisi di Sumut yang begitu kental tak bisa mendominasi seni nasional? Padahal,Sumut memiliki delapan identitas etnis lokal ditambah tujuh etnis pendatang.

Menurut Suwarsono,hal itu lebih dikarenakan perkembangan seni budaya di Sumut memiliki masalah yang kompleks.Tidak hanya dari segi pemerintah yang kurang perhatian terhadap kemajuan dari seni,tapi juga seniman yang masih kurang digali.

Hingga kini,Sumut, khususnya Medan,belum memiliki infrastrukur seni yang layak. Belum ada akademi seni formal yang melahirkan seniman murni.”Kita juga belum memiliki tempat pertunjukkan yang layak,” tutur pengasuh budaya di beberapa sekolah di Medan ini.  LIA ANGGIA NASUTION Medan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar