Selasa, 20 Maret 2012

Perempuan Kedua yang Tak ada Duanya


Perempuan Kedua yang Tak ada Duanya


REP | 20 March 2012 | 01:32Dibaca: 87   Komentar: 0   Nihil
Oleh : Lady Rose
Tak selalu dimanjakan dan bergelimang curahan materi dan kasih, jika menjadi perempuan kedua.  Bahkan tiga perempuan yang aku kenal ini, tegar, hidup perkasa, ditengah dera desakan ekonomi dan sergahan istri pertama.  Perempuan-perempuan perkasa yang tiada duanya.
MELATI
Melati telah menjadi janda selama lebih dari sepuluh tahun saat itu, sebagai Pegawai Negri, Melati merasa sangat bersyukur karena masih mampu membiaya sekolah ketiga anaknya.  Sampai kemudian seorang lelaki yang adalah sopir kendaraan umum antar kota yang hampir setiap hari menjadi langganannya saat berangkat bekerja menghampiri hati Melati.  Pertemuan yang kerap dalam waktu singkat membuat keduanya jatuh cinta, walaupun sang lelaki adalah sopir kendaraan umum yang telah memiliki istri dan anak, mengendarai kendaraan umum antar kota milik pribadi yang dicicil dari pinjaman bank sang istri yang seorang guru PNS.  Saat ini mereka telah menjalani pernikahan siri, hidup bersama lebih dari lima tahun, damai tanpa gangguan berarti.  Tidak ada gangguan yang lebih berarti dari teror istri pertama diawal hubungan mereka.
Bahkan saat kesulitan keuangan mendera Melati pun, tak pernah Melati sedikitpun meresahkan pikiran sang suami yang tetap setia dalam profesinya, walaupun telah membagi hari kunjungan kepada kedua istri.  Sebagai istri kedua, Melati diuntungkan dengan mendapatkan hari kunjungan lebih banyak dari Istri pertama.  Mungkin inilah yang menguatkan perasaan dihargai dan dicintai oleh suami yang dirasakan Melati.  Hanya Melati dan Tuhan yang tahu.
INDAH
Sebelumnya Indah, 38 tahun, janda yang cantik, muda, putih, seksi bekerja di salon sang kakak, dan disalon tersebutlah dia mengenal “bapak”.  Begitu dulu Indah menyebut suami yang telah menikahinya selama 6 tahun.  Indah berpisah setelah menikah 9 tahun lamanya.  Sang bapak bekerja di Lembaga Pemerintahan, yang belkerja dikota besar, berpisah kota dengan istrinya dikota lain.  Kota yang mereka persiapkan untuk ditinggali dimasa menjelang masa pensiun sang suami.  Indah berbeda usia cukup jauh, sekitar 15 tahun lamanya dengan bapak yang kemudian melamarnya dan memintanya menjadi istri.
Permintaan menjadi istri, enam tahun lalau, kemudian tidak dengan mudah disetujui oleh Indah, karena janji menjadi perubahan status istri, akan disimpan lama dari istri pertama sampai dengan batas waktu yang ditentukan.  Apapun, akhirnya Indahpun mau menjadi istri kedua, sampai sekarang.
Saat ini sang bapak sudah pensiun, tetapi sergahan sang istri pertama terhadap Indah tidak berakhir juga. Sudah lebih dari tiga tahun, Indah diketahui statusnya sebagai istri sah aspal (aspal karena status bapak tertera bujangan di surat nikahnya) sang  suami tercinta.  Indah hanya bisa menghibah, kepada sang madu, istri pertama suaminya, agar membolehkan menelepon setiap tiga hari sekali.  Tetapi hal itu tak mudah diluluskan.  Jangan tanya tentang kehadiran.  Sudah berapa bulan terakhir Indah tidak bertemu suaminya, tak ada peluang berkomunikasi, bahakan Indah lebih sering saling menjawab SMS dengan madunya, istri suaminya,  istri asli yang pertama.
Bahkan kemudian Indah membuat pengakuan bahwa uang bulanan yang diberikan hanya ala kadarnya, terbatu karena Indah membuka salon dirumahnya, pun status rumah yang ditempati mereka saat ini masih atas nama sang suami.  Duh Indah…akan tetapi dengan kelembutan Indah hanya menyampaikan alasan, “Aku sih ga akan minta rumah ini mba, toh kami juga ga punya anak, cuma berharap kalopun ibu disana dan anak-anaknya mau mengambil rumah ini, silahkan, asal nanti setelah aku mati..”   Begitu baik hatimu Indah, tak pernah menuntut.
ANGGUN
Saat itu Anggun diterima bekerja saat kehamilannya menjelang 3 bulan.  Kehamilan pertamanya, yang diberkahi, mengingat usianya sudah menjelang 37  tahun.  Kehamilan yang juga tidak disangka, karena hadir disaat Anggun sedang mempertimbangkan menuntut cerai dari suaminya yang baru dinikahinya salam 2 tahunan.  Kenapa bercerai?  Karena sang suami mengaku, bahwa dia telah rujuk kembali pada istri pertama yang dicerainya tiga tahun lalu.
Cuma Anggun rasanya yang akan setegar ini,  karena bekerjanya Anggun pun karena sang suami semenjak rujuk dengan istri pertamanya dan kemudian ikut juga boyongan kekota besar beserta tiga anak lelaki mereka, sudah sangat jarang menghubungi dirinya, jangan pernah berhapa untuk mengirimkan uang sekadarnya saja pun.
Cuma Anggun yang akan diam, menyimpan deritanya bahkan dari ibu kandungnya.   Bahkan akupun tidak cukup kuat hanya untuk sekedar menahan diri untuk tidak membagi cerita, karena memang demikian tegarnya Anggun dimataku.  Alasan Anggun hanya, “apakah aku akan mendapat suami lagi jika bercerai? Walaupun aku tahu hanya untuk membelikan susu untuk bayi kami Rp. 70,000 saja suamiku tidak akan sanggup!”.  Bahkan dalam sesekali kunjungan curi-curi yang paling sering suami Anggun lakukan kepada Anggun, dia masih sempat melihat SMS mesra dari istri tuanya yang sedang hamil anak keempat saat ini, SMS mesra sang suami saat suami sakit dirumah Anggun.
Saat ini Anggun hanya akan bertahan, demi anak mereka, tak ada lg yang bisa diharapkan dari perkawinan mereka.  Bertahan sampai jika ada yang meminta dia menjadi istri, hal yang tidak mungkin mengingat Anggun masih berstatus istri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar