Kamis, 22 Maret 2012

Berita Budaya Nasional Bulan Maret 2012 Bagian ke 1


Warga Bali di Batam Gelar Pawai Ogoh-ogoh  

syaiful HALIM
Warga Bali di Batam Gelar Pawai Ogoh-ogoh  

20/03/2012 10:14
Liputan6.com, Batam: Warga Bali di Kota Batam, Kepulauan Riau, akan menggelar pawai ogoh-ogoh untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934 yang akan jatuh pada Jumat, 23 Maret 2012. Demikian dikatakan Ketua Panitia perayaan Hari Raya Nyepi 2012 Dharma Shanti di Batam, Kepri, Senin (19/3).

"Patung ogoh-ogoh raksasa setinggi empat meter akan diarak pada Kamis mulai sekitar pukul 19.00 WIB dari Pura Agung Amertha Buana Batam menuju depan perumahan Taman Kota Baloi, Lubuk Baja dan kembali ke pura untuk dibakar," kata Dharma. "Kegiatan ini diadakan dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antarkeluarga Bali yang ada di Batam."

Dharma mengatakan, saat ini warga Bali di Batam berjumlah sekitar 1.500 orang. "Pawai ogoh-ogoh itu juga untuk memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat di Kota Batam. Pawai ogoh-ogoh ini hanya bentuk kreativitas masyarakat Bali untuk semarakkan upacara hari raya Nyepi. Jadi kegiatan seperti ini tidak mutlak dilaksanakan," katanya.

Walaupun pawai ogoh-ogoh dilakukan pada Kamis pekan ini, namum puncak perayaan Tahun Baru Umat Hindu di Batam kali ini akan diadakan pada 6 April 2012. "Pada hari tersebut, kami akan mengundang pejabat di Batam dan Kepri untuk silaturahmi. Acara puncak juga akan dimeriahkan dengan pagelaran seni budaya dari Bali," katanya.

Ogoh-ogoh merupakan hasil karya seni masyarakat Bali dalam menyambut ritual Hari Raya Nyepi. Dalam tradisi masyarakat Bali, ogoh-ogoh merupakan simbol penyucian Bumi. Bagi masayarakat Bali, ogoh-ogoh merupakan media untuk menyalurkan kreativitas dalam bentuk yang positif serta dapat meningkatkan rasa solidaritas.

Tradisi membakar ogoh-ogoh setelah diarak memunculkan pemikiran baru yakni menyucikan dengan menggunakan air suci (thirta). "Kesenian dan ogoh-ogoh dijadikan sarana bagi masyarakat sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan cara yang menarik sehingga mudah dipahami," kata Dharma.(Ant/SHA)

Seru dan Menantang dengan Permainan Tradisional  

Arif Nur
Seru dan Menantang dengan Permainan Tradisional 

11/03/2012 08:20
Liputan6.com, Surabaya: Permainan tradisional anak-anak kini semakin ditinggalkan. Tapi di sejumlah daerah, permainan tradisional kembali diperkenalkan ke anak-anak agar mereka mengenal akar budaya dan makna dari permainan itu.

Misalnya, Pemerintah Kabupaten Grobogan mengadakan perlombaan permainan tradisional bersamaan dengancar free day di sepanjang Jalan R. Soeprapto. Sejumlah permainan tradisional ini di antaranya egrang, bakiak, atau lari batok kelapa. Seru dan menantang.

Kini permainan tradisional seperti ini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak dan sudah tergantikan oleh permainan modern seperti video game. Tapi, setelah mencobanya, anak-anak pun antusias untuk ikut berlomba.

Rencananya, perlombaan seperti ini akan rutin digelar agar anak-anak semakin bersemangat ikut melestarikan permainan tradisonal. (YUS)

Berebut Hasil Bumi di Festival Dongdang  

Asep Solihin
04/03/2012 05:03
Liputan6.com, Bogor: Ribuan orang dari berbagai pelosok datang untuk menyaksikan Festival Dongdang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/3). Pesta rakyat ini digelar di lapangan kompleks Pemkab di Cibinong, Bogor. Dongdang adalah istilah Sunda yang berarti tempat membawa makanan atau barang hantaran saat pesta atau peristiwa istimewa.

Kali ini hadir 2012 buah dongdang yang disediakan oleh berbagai komunitas di Bogor. Menampilkan berbagai hasil bumi yang dikemas unik sesuai budaya setempat. Isi dongdang umumnya buah-buahan, sayur-sayuran, dan jajanan pasar untuk melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Sayang, di tengah prosesi, masyarakat yang tidak sabar rupanya tergerak untuk menyerbu dan berebut dongdang.

Ini adalah tahun ketiga Festival Dongdang diselenggarakan. Festival ini direncanakan diselenggarakan rutin sebagai acara tahunan di Kabupaten Bogor.(ADO)

Pencak Macan, Tradisi yang Mulai Punah  

Mohammad Khodim
Pencak Macan, Tradisi yang Mulai Punah 

02/03/2012 05:42
Liputan6.com, Gresik: Seni tradisi pencak macan sebagai pengiring prosesi adat pernikahan pesisir di Gresik, Jawa Timur, kini keberadaanya terancam punah. Demi menjaga kelestarian tradisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun itu, masyarakat pecinta seni dan budaya Gresik mengemas tradisi pencak macan menjadi seni pertunjukan dan pengiring rombongan pengantin.

Acara digelar di Wahana Tlogo Dendo, Gresik, baru-baru ini. Pencak macan biasa digunakan rombongan pengantin adat khas Gresik menuju kursi pelaminan. Kesenian rakyat khas warga pesisir utara Gresik ini sebelumnya sempat mati suri dan terancam punah akibat tergerus arus modernisasi.

Seni pencak macan mengandung nila-nilai filosofis ajaran Islam yang bermuara pada upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam pencak macan digambarkan empat karakter yang diwakili oleh seekor macan, monyet, genderuwo, dan seorang pendekar.

Macan melambangkan manusia yang berwatak keras dan emosional. Monyet melambangkan sosok manusia yang jahil, nakal, lucu, dan suka mengganggu. Sedangkan genderuwo atau hantu melambangkan hawa nafsu yang selalu ingin menguasai manusia. Namun semuanya berhasil dikalahkan oleh seorang pendekar berjiwa ksatria.

Upaya melestarikan seni tradisi seperti pencak macan jelas perlu didukung. Dibutuhkan peran aktif pemerintah dan masyarakat agar seni tradisi tidak hilang ditelan zaman.(ULF)

Serangan Umum 1 Maret Diperingati  


Serangan Umum 1 Maret Diperingati 

01/03/2012 19:26
Liputan6.com, Yogyakarta: Ratusan warga Yogyakarta yang terdiri dari berbagai elemen mengikuti peringatan 63 tahun Serangan Umum 1 Maret 1949 di Plaza Serangan Oemoem, Kamis (1/3). Peristiwa sejarah ini akan diusulkan menjadi hari Pahlawan Nasional bagi masyarakat Indonesia.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, peristiwa serangan umum ini merupakan bagian dari sejarah perebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tangan penjajah. Tak hanya itu, peristiwa tersebut juga menjadi bukti keberadaan dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB. "Peristiwa ini merupakan titik awal kembalinya NKRI yang terjadi di Yogyakarta," kata Haryadi.

Penasihat acara sekaligus mantan Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, mendukung penuh agar peringatan Serangan Umum 1 Maret dijadikan Hari Pahlawan Nasional. "Makna sejarah Serangan Umum 1 Maret ini tidak hanya milik warga Yogyakarta, tetapi juga Indonesia. Nilai-nilai kepahlawanannya sangat penting untuk pembentukan karakter bangsa saat ini," katanya.

Acara yang diikuti ribuan pelajar, TNI, veteran, dan berbagai elemen masyarakat ini disertai dengan berbagai kegiatan. Di antaranya upacara bendera, tabur bunga di taman makam pahlawan, ziarah ke makan pahlawan, dan mubeng benteng.(NatGeo/ADO)

Ada Barongsai di Pawai Maulid Nabi  

Sugihartono
Ada Barongsai di Pawai Maulid Nabi 

27/02/2012 05:57
Liputan6.com, Brebes: Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Brebes, Jawa Tengah, dilakukan tidak seperti biasanya, Ahad (26/2). Arak-arakan drum band dari berbagai sekolah Islam menjadi pembuka barisan pawai taaruf. Dan, pada barisan terakhir, sekelompok pemain barongsai melakukan atraksi persis di depan Masjid Al Itiihad.

Ribuan warga muslim yang hadir di tempat ini pun terpesona dengan gaya atraksi barongsai yang baru pertama kali disaksikan warga di tempat ini. Kelompok barongsai ini merupakan sumbangan warga muslim dari etnis Tionghoa di Kota Brebes, sebagai bentuk kerukunan antarumat beragama.(ADO)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar