Kamis, 22 Maret 2012

Berita Budaya Nasional Bulan Maret 2012 Bagian ke 2


Warga Bima Gelar Hanta Ua Pua  

Yudha Hendrawan
Warga Bima Gelar <EM>Hanta Ua Pua</EM> 

24/02/2012 07:07
Liputan6.com, Bima: Warga Bima, Nusa Tenggara Barat, menggelar tradisi Hanta Ua Pua atau mengangkat mahligai rumah yang dinaiki Penghulu Melayu atau Ulama Bima, Kamis (23/2). Tradisi yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu juga mencoba mengilas balik masuknya agama Islam ke NTB.

Acara itu diawali dengan dengan kehadiran prajurit berkuda atau jara wera di halaman istana. Di hadapan Sultan Bima, pasukan berkuda itu pun unjuk kebolehan.

Tak berapa lama, tibalah rumah mahligai, yang menjadi inti utama tradisi Hanta Ua Pua. Dalam bahasa Indonesia, hanta ua pua berarti angkat sirih puan, yang diletakkan di atas rumah mahligai.

Dalam tradisi khas suku Mbojo itu, sebanyak 44 warga Bima yang melambangkan 44 keterampilan mengangkat rumah mahligai berukuran 4 X 4 meter yang dinaiki Penghulu Melayu atau Ulama Bima dan delapan penari, dari Kampung Melayu tempat para penyebar Islam tinggal hingga Istana Asi Mbojo.

Usai rumah mahligai masuk ke istana disertai 99 telur rebus hias yang melambangkan nama-nama Allah SWT atauasmaul husna, Penghulu Melayu pun menemui Sultan Bima dan menyerahkan kitab suci Al Quran, agar diamalkan oleh Sultan Bima—saat ini merupakan Bupati Bima Ferry Zulkarnain.

Usai acara, warga pun memburu 99 butir telur asmaul husna. Tak hanya penonton, pengisi acara, bahkan penjaga keamanan pun turut berebut telur itu. Bahkan, seorang ibu harus mengenakan helm agar tidak cedera saat berdesakan.(SHA)

Warga Antusias Saksikan Tradisi Nyangku  

Eko Setyabudi
Warga Antusias Saksikan Tradisi <em>Nyangku</em> 

21/02/2012 23:10
Liputan6.com, Ciamis: Warga Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, ramai-ramai mengikuti perhelatan adat cuci pusaka atau nyangku, Selasa (21/2). Dalam ritual adat tahunan ini, berbagai pusaka peninggalan Raja Panjalu, Prabu Sanghyang Borosngora dirawat dan dibersihkan dengan cara dicuci.

Sejak pagi warga sudah berkumpul. Acara dimulai dengan mengarak berbagai pusaka peninggalan Prabu Borosngora menuju makam sang prabu di tengah Situ Panjalu.

Setelah dibawa dengan perahu, iring-iringan pengawal atau abdi panjalu tiba di makam Prabu Borosngora. Di tempat ini segenap hadirin menaikkan doa bagi mendiang raja kerajaan Panjalu.

Usai doa, pusaka antara lain sebilah pedang, kujang, dan cis dibawa kembali untuk dicuci di alun-alun Panjalu. Inilah puncak tradisi nyangku ketika warga berebut mendapatkan air bekas cucian pusaka. Meski harus berdesakkan, warga tetap antusias.

Bagi yang tak kebagian, mengumpulkan air yang terbuang di lantai atau sekadar mengusapkan wajah pada kain yang terkena air cucian pusaka pun sudah cukup. Ada alasan kenapa warga memperebutkan air cucian pusaka itu.

Tradisi ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jabar. Bagi Pemprov Jabar, ritual adat nyangku akan dikembangkan menjadi ikon wisata Ciamis.

Ritual adat nyangku merupakan agenda rutin tahunan warga Panjalu setiap bulan Mulud. Usai pencucian seluruh pusaka kembali dibungkus dan disimpan di tempat khusus yang diberi nama bumi alit dan baru dibawa keluar lagi pada mulud berikutnya.(AIS)

Warga Wonosalam Gelar Pesta Durian  

Bambang Ronggo
Warga Wonosalam Gelar Pesta Durian 

06/02/2012 05:30
Liputan6.com, Jombang: Kenduri biasanya berupa hajatan syukur dengan hidangan berupa nasi dan aneka lauk pauk. Tapi di Jombang, Jawa Timur, ada acara kenduri khusus menyajikan buah durian sebagai hidangan untuk disantap bersama. Karena itu namanya pun menjadi kenduri durian.

Acara kenduri durian ini mendapat antusias warga setempat. Hajatan yang digelar di Lapangan Wonosalam, Jombang, sejak pagi sudah dipadati warga. Meski sempat tertunda cukup lama karena hujan dan bupati yang datang terlambat, tak mengurangi antusias warga.

Rasa lelah itu terbayar begitu kenduri dimulai. Warga langsung menyerbu gunungan yang disusun dari ribuan buah durian bido, durian khas Jombang.

Kenduri durian diselenggarakan para petani Jombang sebagai ungkapan syukur atas panen melimpah kali ini. Tak kurang dua ribu butir durian disiapkan para petani Wonosalam untuk memeriahkan pesta durian.(AIS)

Ratusan Orang Berebut Sedekah Raja Yogya  


Ratusan Orang Berebut Sedekah Raja Yogya 

05/02/2012 14:30
Liputan6.com, Yogyakarta: Ratusan orang rela berdesak-desakkan memperebutkan lima gunungan yang menjadi sedekah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di halaman Masjid Gedhe, Yogyakarta, Ahad (5/2). Walau panas sinar matahari cukup menyengat, ratusan orang dari berbagai usia telah datang memadati halaman Masjid Gedhe sejak pagi, dan menunggu datangnya gunungan Gerebek Maulud.

Saat gunungan akhirnya tiba di halaman Masjid Gedhe, sekitar pukul 11.00 WIB dan didoakan oleh Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, lima gunungan itu pun langsung diserbu oleh warga.

Gunungan yang diperebutkan oleh warga di halaman Masjid Gedhe Kauman atau dikenal dengan tradisi Ngalap Berkah tersebut adalah Lanang, Wadon, Gepak, Darat dan Pawohan.

Warga yang telah berhasil naik ke gunungan kemudian berebut memperoleh salah satu bagian dari gunungan, bahkan bilah-bilah bambu yang menjadi dasar pembuatan gunungan pun tak luput menjadi rebutan massa. Dalam sekejap, gunungan yang berukuran cukup besar itu pun "lenyap".

"Upacara Gerebek Maulud ini adalah salah satu bentuk rasa syukur dari Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang diwujudkan dalam sedekah berupa hasil bumi," kata Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat.

Perebutan gunungan, lanjut dia, adalah bagian dari budaya yang merupakan hasil karya, cipta dan kreasi dari masyarakat dan bukan merupakan bentuk ibadah. "Intisari dari Maulud Nabi Muhammad SAW adalah meneladani kehidupan Rasulullah," lanjutnya.

Pada Gerebek Maulud Tahun Wawu 1945, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyiapkan tujuh buah gunungan, yaitu tiga Gunungan Lanang, dan sisanya masing-masing satu buah untuk Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawohan.

Dua buah Gunungan Lanang, masing-masing diarak ke Pura Pakualaman Yogyakarta dan ke Kepatihan, juga untuk diperebutkan oleh masyarakat. Gunungan tersebut diarak dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat diawali oleh Prajurit Bugis, Abdi Dalem Sipat Bupati dan diakhiri oleh Prajurit Surokarso.

Gunungan itu melewati delapan bregada prajurit yang telah bersiap di keraton, kemudian diarak ke arah utara melewati dua pohon beringin atau "Ringing Kurung", menuju ke barat ke arah masjid. Sedangkan dua gunungan lain terus diarak ke utara menuju ke Pura Pakualaman dan Kepatihan.

Delapan bregada prajurit yang dilewati gunungan tersebut adalah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Daeng, Prajurit Patang Puluh, Prajurit Jogokariyo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Nyuthro, Prajurit Ketanggung dan Prajurit Mantrijero.

Setelah gunungan selesai diperebutkan, Prajurit Bugis dan Surokarso kembali ke keraton untuk kembali bergabung dengan delapan bregada prajurit lain sebelum dibubarkan di Bangsal Pracimosono Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pelaksanaan Gerebek Maulud ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya Sekaten, yang selalu digelar sepekan sebelum peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.(ANS/Ant)

Sekaten Kembali Digelar  

Fery Aditri
<i>Sekaten</i> Kembali Digelar 

31/01/2012 06:17
Liputan6.com, Yogyakarta: Tradisi syiar islam yang dilakukan Sunan Kalijaga di setiap bulan maulid hingga kini masih terus dilestarikan oleh kraton Yogyakarta.

Tradisi ini bernama sekaten yang berasal dari kata syahadaten yang berarti dua kalimat syahadat dan dilakukan dengan menabuh gamelan kraton selama tujuh hari tujuh malam sebelum Maulid nabi di halaman Masjid Gede Kauman, Yogyakarta.

Gemelan yang ditabuh ini adalah dua perangkat gamelan milik kraton Yogyakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo. Penabuhnya adalah para abdi dalem kraton sendiri. Bergantian mereka memainkan gending-gending khusus sekaten seperti gending sumiatun, gending rambu, dan gending ngajatun yang merupakan karya Sunan Kalijaga

Tradisi sekaten ini dilakukan sejak berdirinya kraton Kesultanan Yogyakarta. Tujuannya adalah selain untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad juga untuk syiar islam. Gamelan yang terus-menerus ditabuh ini untuk menarik warga untuk melihat. Meski tidak sebanyak dulu, masih ada warga yang datang untuk mendengarkan gending-gending ini.

Kesempatan berkumpulnya warga ini dimanfaatkan untuk ceramah tentang agama Islam. Bagi yang warga yang tertarik dengan ajaran islam akan langsung disyahadatkan di masjid ini.

Tradisi sekaten ini merupakan rangkaian dari peringatan menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada puncak perayaan Maulid nanti akan digelar tradisi Grebeg Maulid, yaitu dikeluarkanya sejumlah gunungan kraton yang merupakan sedekah raja untuk dibagikan kepada rakyat. (YUS)

Upacara Mecaru Harmoniskan Alam dan Manusia  

Putu Setiawan
Upacara Mecaru Harmoniskan Alam dan Manusia  

29/01/2012 04:27
Liputan6.com, Badung: Gencarnya modernitas di Bali, tak melunturkan adat istiadat dan tradisi di bumi Pulau Dewasa itu. Salah satunya adalah upacara Melaspas. Warga Desa Adat Kampial, Kecamatan Kuta selatan, Kabupaten Badung menggelar upacara tersebut di pura desa yang baru usai dibangun.

Satu bagian dari upacara tersebut adalah Mecaru atau menghaturkan sesajen korban. Tujuan dari bagian tersebut mengharmoniskan hubungan antara Bhuwana Agung atau alam semesta dengan Bhuwana Alit atau manusia.

Ada lagi ritual lainnya. Yakni menanam lima unsur logam dan permata atau panca datu yang terdiri dari emas, perunggu, besi, baja, dan permata mirah. Menurut Ketua Panitia, Wayan Badra, Panca Datu ditanam sebagai simbol bahwa pura yang baru usai dibangun telah sah menjadi tempat suci untuk aktivitas persembahyangan.

Pada bagian akhir upacara, seluruh warga desa adat Kampial bersembahyang bersama untuk keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan YME. Setelah acara sembahyang selesai, upacara diakhiri dengan pembagian tirta atau air suci oleh pemangku Hindu kepada seluruh warga yang hadir. (Vin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar