Jumat, 30 Maret 2012

Jatuh Bangun Brambang Brebes


Jatuh Bangun Brambang Brebes
Selasa, 14 Februari 2012 | 12:29 WIB
Oleh: Sonya Hellen Sinombor dan Siwi Nurbiajanti
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Buruh membersihkan bawang untuk memenuhi kebutuhan industri mi instan di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (19/1). Maraknya bawang merah impor yang masuk di pasaran menyebabkan harga komoditas ini pada tingkat petani merosot hingga Rp 1.000 per kilogram.
    Brebes tak cuma dikenal sebagai kota telur asin yang legendaris. Kota kecil di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah ini juga dikenal sebagai sentra brambang atau bawang merah yang kualitasnya nyaris tak tertandingi di seantero Indonesia.
    Tak heran jika bawang merah dari Brebes ini menguasai pasar di Jawa Tengah menembus pasar bawang nasional, bahkan dicari pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta. Begitu terkenalnya brambang Brebes, sampai-sampai bawang merah impor pun harus ”transit” ke Brebes sebelum beredar di Pasar Induk Kramatjati.
    ”Ada pedagang yang mendatangkan bawang merah impor dengan bentuk mirip dengan bawang merah lokal,” ujar Sodikin, Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemerintah Kabupaten Brebes.
    Kualitas brambang Brebes yang hebat itu, menurut para petani, dipengaruhi embusan ”angin kumbang” yang datang dari Gunung Kumbang. Konon, angin kumbang menjadikan bawang merah Brebes beraroma harum khas dan tidak dimiliki bawang merah lain. Aroma harum melengkapi warna merah menyala, rasa lebih pedas, dan tekstur lebih keras yang dimiliki bawang merah ini.
   Namun, ironisnya, bawang merah impor dari India, Thailand, Filipina, China, dan Vietnam tak sekadar numpang lewat di Brebes. Bawang merah impor itu mengempaskan brambang Brebes ke harga serendah-rendahnya: Rp 500 (lima ratus rupiah!) per kilogram. Petani yang selama ini jatuh bangun melawan serangan hama penyakit dan kondisi alam tak berdaya menghadapi serbuan bawang impor yang masuk bertepatan dengan masa panen raya bawang di Brebes.

   Harga bawang merah lokal, yang pada Februari 2011 mencapai Rp 15.500 per kilogram, pada Desember 2011 turun drastis menjadi Rp 4.500 per kilogram. Pada Januari 2012, harga bawang merah anjlok menjadi Rp 2.000-Rp 2.500 per kilogram. Bahkan, pada minggu ketiga Januari, di Pasar Bawang Klampok, Brebes, harga bawang merah menembus Rp 500-Rp 1.000 per kilogram.
    Sentra bawang merah Brebes pun terguncang. Nasib petani pun tak seharum aroma brambang Brebes itu. ”Harga bawang jatuh dan petani harus mencari cara untuk membayar pinjaman, atau kredit di bank yang dipakai sebagai modal menanam,” papar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Brebes Juwari.
    Tak kuat menahan kerugian, petani bawang merah akhirnya bangkit. Pertengahan Januari lalu, sekitar 2.000 petani berunjuk rasa di jalur pantai utara Jawa di depan Pasar Bawang Klampok meneriakkan penolakan terhadap bawang merah impor. Perjuangan pun berlanjut hingga ke DPR di Jakarta.
    Selain menembus pasar tradisional dan modern untuk bumbu masakan, brambang Brebes yang terkenal dengan varietas Bima menjadi andalan bumbu masak mi instan yang diproduksi sejumlah perusahaan mi instan dalam negeri.
    Bawang merah juga masuk dalam lingkup farmasi sebagai bagian dari resep obat-obatan tradisional. Karena itu, bagi warga Brebes, brambang bukan sekadar penopang perekonomian, melainkan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat Brebes. Selain menjadi ikon dan lambang Kabupaten Brebes, bawang merah adalah nafkah hidup jutaan orang Brebes dalam wujud aktivitas kehidupan sehari-hari lewat slogan, puisi, motif batik, tarian, dan ajang festival.
   Tarian topeng sinok - ikon Kabupaten Brebes - ternyata mengandung gerakan menanam, memanen bawang, hingga gerakan gadis petani yang mempercantik diri.
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Buruh tani mengangkut hasil panen bawang merah di Limbangan Kulon, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (21/1). Maraknya bawang merah impor yang masuk di pasaran menyebabkan harga komoditas pada tingkat petani merosot hingga Rp 1.000 per kilogram.
    Begitu besar pengaruh bawang merah dalam kehidupan petani di Brebes, sampai-sampai hari pernikahan pun ditentukan oleh hasil panen bawang. ”Jika panen bawang baik, pernikahan berlangsung sesuai jadwal. Namun, jika gagal panen, pernikahan ditunda,” ujar budayawan Brebes, Atmo Tan Sidik, yang juga Kepala Humas Pemkab Brebes.
   Pengalaman turun-temurun menanam bawang merah menciptakan karakter petani bawang yang ora kapok-kapok (tidak pernah kapok) menanam bawang merah. ”Ada ungkapan di kalangan petani bawang, mbuh kepriben-kepriben tetap gandulan waton nandure bawang (apa pun yang terjadi, tetap menanam bawang),” ungkap Atmo.
   Pada periode 1999-2001, saat harga panen bagus, banyak petani bawang merah Brebes naik haji. ”Maka, ada istilah haji bawang,” kata Atmo.
    Filosofi bawang merah pun merasuk hingga ke seluruh sendi kehidupan, membentuk kultur masyarakat yang berani dan terbuka. Dalam buku Sejarah Mentalitas Brebes yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Brebes (Bappeda, 2009) disebutkan, sikap orang Brebes yang terbuka itu merupakan penggambaran kulit bawang yang melepas diri (brambang lembahing mana).
    Kendati tak ada catatan resmi kapan brambang mulai dibudidayakan di Brebes, cerita tentang kejayaan dan kemakmuran petani brambang Brebes dari 1970-an hingga saat ini adalah cerita lisan yang bisa dipercaya. Kisah buruh tani yang menjadi juragan bawang merah, Carab bin Taswat (almarhum), dan sukses pada tahun 1970-1980-an hingga kini tak pernah habis.
    Carab bin Taswat, ”sang legenda” asal Desa Kemurang Wetan, Kecamatan Tanjung, itu memotivasi semangat petani. Tidak hanya membeli dan menyewa lahan untuk ladang bawang merah, Carab juga membeli 21 bus antardaerah dengan trayek Jakarta-Pemalang dan Jakarta-Purwokerto serta tujuh kapal purse seine. Agar bawang merah Brebes dikenal, semua angkutan itu diberi nama ”Sumber Bawang”.
Kompas
    Saat ini, 11 dari 17 kecamatan di Kabupaten Brebes menjadi sentra pertanian bawang merah, yakni Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulukamba, Tonjong, Losari, Kersana, Ketangguhan, Larangan, Songgom, Jatibarang, dan sebagian Banjarharjo. Dari sekitar 1,9 juta jiwa penduduk Brebes, sekitar 70 persen di antaranya adalah petani yang mayoritas menanam bawang merah. Luas panen bawang merah 25.000-30.000 hektar per tahun. Bawang merah juga memberi kontribusi 40,6 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Brebes. Tahun 2010, angka PDRB Kabupaten Brebes Rp 14,6 triliun.
    Maka, upaya Pemkab Brebes untuk menyusun rancangan peraturan daerah tentang peredaran bawang merah impor di sentra bawang merah perlu didukung pemerintah pusat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar