Selasa, 27 Maret 2012

Maulid Nabi Muhammad SAW


Jumat, 10 Februari 2012

Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh : Drs. H. Ali Abdul L.
KELAHIRAN seorang manusia merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit tidak henti-hentinya banyak menyambut kelahiran bayi-bayi manusia. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

Karenanya, Rasulullah Muhammad SAW tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, atau sebagai hari yang setiap tahunnya harus diperingati. Keluarga beliau, baik pada masa jahiliah maupun pada masa Islam, tidak pernah memperingatinya, padahal beliau adalah orang yang sangat dicintai keluarganya. Apalagi, dalam tradisi masyarakat Arab, baik pada zaman jahiliah maupun zaman Islam, peringatan atas hari kelahiran seseorang tidak pernah dikenal.

Bagaimana dengan para sahabat beliau? Kita tahu, tidak ada seorang pun yang cintanya kepada Nabi Muhammad SAW melebihi kecintaan para sahabat kepada beliau. Para sahabatlah yang paling mencintai Nabi Muhammad SAW. Kemungkinan, peringatan atas kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah dilakukan para sahabat beliau meskipun dengan alasan untuk mengagungkan beliau.

Wajar bila dalam sirah (sejarah) Nabi Muhamad SAW dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan fragmen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, baik yang dilakukan Nabi sendiri maupun oleh para sahabat beliau.

Malahan, saat Khalifah Umar bin al-Khaththab bermusyawarah mengenai sesuai yang sangat penting dengan para sahabat, yakni mengenai perlunya penanggalan Islam, mereka hanya mengemukakan dua pilihan, yakni memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Muhammad sebagai rasul atau sejak beliau hijrah ke Madinah.

Akhirnya, pilihan Khalifah Umar yang disepakati para sahabat jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang hak dan yang batil.

Kala itu, tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Tahun hijrah

Demikian pula ketika mereka bermusyawarah tentang dari bulan apa tahun Hijrah dimulai; mereka pun hanya mengajukan dua alternatif, yakni bulan Ramadan dan bulan Muharam. Pilihan akhirnya jatuh pada yang terakhir, karena bulan Muharam adalah bulan ketika orang-orang kembali dari menunaikan ibadah haji, dan Muharam adalah salah satu bulan suci (ath-Thabari, ibid.). Saat itu pun tidak ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awwal, bulan lahirnya Rasulullah sebagai awal bulan tahun Hijrah.

Memang, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, tidak ada yang istimewa pada dirinya sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya.

Sebagaimana dalam Alquran Surat Fushshilat ayat 6 yang artinya: "Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya".

Dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun dilakukan, kita tentunya harus mengambil hikmah di balik itu semua. Salah satunya terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dilakoni Rasulullah SAW saat pertama kali menginjakan kakinya di Madinah. Wallahualam bi shoawab.
(Penulis adalah Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bandung)**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar