Minggu, 18 Maret 2012

Wanita “Mengatur” Pria, Pantaskah?


Wanita “Mengatur” Pria, Pantaskah?


REP | 18 March 2012 | 00:32Dibaca: 1205   Komentar: 121   8 dari 8 Kompasianer menilai aktual

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita pasti berinteraksi dengan setiap manusia tak terkecuali lawan jenis. Memasuki usia remaja, ada keinginan dalam diri kita untuk memiliki pasangan. Wajar, bukan? Ya, Pacaran sendiri merupakan proses pendekatan dan penjajakan dimana kita bisa menilai pasangan kita tersebut, layak atau tidak dibawa ke tahap yang lebih serius yaitu menikah.
Namun wanita kerap sekali melupakan kenyamanan dalam hubungan pacaran tersebut. Jika ada masalah, pasti langsung marah-marah. Jika ada yang tidak disukainya dari pacarnya entah itu sikap, cara berpakaian ataupun benda milik pacarnya, pasti sang wanita tak segan-segan untuk mengatur si pria. Ih, bagusnya kamu itu begini, pakaianmu yang rapi. Jangan malu-maluinlah kalau jalan.
Keadaan demikian sedang dialami oleh teman SMA saya, Novi (bukan nama sebenarnya). Novi ini kerap mengirimkan SMS pada saya yang isinya curhat tentang sang pacar yang membuatnya tak nyaman. Kebetulan si Adit ini teman kuliah saya dulu waktu D3, jadi saya juga sangat mengenal Adit, dia begitu lembut dan tidak pernah macam-macam dalam berpacaran dengan siapapun. Saya yang mengenalkan mereka jadi saya pula yang jadi tempat curhatan Novi bila ada masalah.
1331992138477011493
www.ciricara.com
Aku kesal kali lah liat si Adit. Keretanya itu jelek kali. Kereta (sepeda motor di  daerah saya). Lebih bagus kereta tukang ojek langganan aku. Udah ku suruh ganti keretanya itu, kalau gak diganti juga, aku bakalan marah lagi. Menurutmu gimana, da? Cocokkan aku kek gitu sama dia? Maksudku sih biar gak malu-maluin klo dibawa jalan.
Pernah juga karena sikap Novi yang sering marah-marah dan ngatur Adit, Adit memutuskan hubungannya dengan Novi. Saya mengerti betapa muak dan jengahnya Adit menghadapi sikap Novi yang selalu marah-marah itu. Aditpun sempat mengirimkan pesan ke Facebook saya, “bilang sama novi kawan kau itu, jangan pernah hubungi aku lagi”. Sontak saya tekejut dan bingung, lalu bertanya kepada Adit, namun tak dijawab.
Keesokan harinya saya menanyakan hal tersebut kepada Novi, dan iapun menangis.“gak selera ngapa-ngapainpun aku, dia mutusin aku gara-gara sikap aku. Dari semalam aku nangis”. Dan singkat cerita setelah dibujuk oleh Novi dan permintaan maaf serta janji diucap oleh Novi, mereka pun kembali pacaran lagi.
Atau yang lain, saat ini Adit sedang sakit dan butuh istirahat. Demi istirahatnya, dia mematikan ponselnya. Sedangkan si Novi maunya SMSan terus. Jadi si Novipun marah-marah lagi. Kau tau, da.. Karena sakit handphonenya sengaja dimatiin, aku jadi ‘gak bisa ngomong sm dia. Padahal kan aku pengen perhatiin dia. Masa’ dia kekgitu. Emangnya dianggap apa aku ini.
Sebagai teman yang dimintai saran, saya hanya mengatakan jangan pernah mengatur laki-laki yang jadi pacarmu. Belum tentu dia jadi suamimu nanti. Kalaupun dia jadi suamimu, kau ‘gak pantas mengatur dia karena dia adalah imam dalam keluargamu nanti. Kalaupun kau mau mengatur dia, berarti kau harus siap jika dia ngatu-ngatur kau juga.
Novi berkata, kau tau kan aku cinta kali sama dia? aku ‘gak mau kehilangan lagi. Aku ‘gak mau cuek sama pacarku itu. Aku mau dia untuk masa depanku nanti. Kenapalah dia gak ngerti juga kekmananya cintanya aku sama dia?
Saya menjawab, aku tahu dan aku ngerti kemauanmu. Tapi coba kau berikan waktu buat dia istirahat, toh dia sedang sakit. Cobalah sedikit lebih mengerti Adit, jangan egois kali jadi cewek. Nanti diputusin lagi, nangis-nangis kau.
Emang Novi yang ‘gak sabaran, saya yang malah kena “semprot”. Saya yang jadi objek amarahnya. Lalu sayapun diam dan berkata, “kau itu memuakkan makanya Adit ‘gak tahan. pacarmu itu masih satu kota denganmu, jangan “lebay”lah. Kalau kau khawatir, kau datangi dia kerumahnya. Toh orang tua dia pun udah setuju sama kau”.
Dari tulisan saya diatas, jelas terlihat bahwa sang wanita sangat mendominasi dan agresif dalam hubungan itu. Jelas si pria pun merasa tidak nyaman, kan? Agresif juga memang diperlukan agar pasangan anda merasa bahwa anda membutuhkannya. Namun janganlah Hyper Agresif, pria sangat tidak menyukai hal tersebut.
Bilapun dalam hubungan tersebut anda temukan masalah, sediakan waktu berdua untuk membicarakan hal tersebut berdua dan jangan saling mengedepankan emosi. Kalau begitu, bukan penyelesaian yang akan anda dapatkan. Jangankan menjadi suami, menjadi pacarpun dia akan enggan.
Berikan pasangan anda kelonggaran waktu dan biarkan dia memanjakan anda dengan caranya. Toh para pria juga memiliki hati yang lembut jika memang ia mencintai dan berniat mengajak anda ke tahap yang lebih serius lagi. Dan jika masih mau mengatur pasangan anda, berarti anda juga harus siap diatur olehnya.
Dari pada dahi berkerut terus, mending nikmati waktu anda denga pasangan. Jangan marah-marah lagi ya. Pasangan anda pasti mencintai anda. Salam Sayang dari saya.

Selamat Pagi
Auda Zaschkya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar