Selasa, 27 Maret 2012

HOME » Lestarikan Budaya Nasional, Gelar Wahana Permainan Tradisional di Ancol


Lestarikan Budaya Nasional, Gelar Wahana Permainan Tradisional di Ancol

| 21 January 2012 | 16:48 WIB|  206

Salah satu bentuk permainan tradisional (1)
Sekarang ini, permainan tradisional telah tergeser oleh derasnya permainan modern. Sebut sajaplaystation, nintendo, dan lain-lain. Memang. Bukan hal salah bila hidup harus selalu mengikuti perkembangan jaman. Namun terlepas dari semua itu, ada hal yang dilewatkan dari esensi sebuah permainan, yaitu manfaat dari permainan itu sendiri.
Bila permainan tradisional dibandingkan satu sama lain, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Permainan modern menawarkan kemudahan, keindahan (dari segi warna, bentuk, ukuran, dan tampilan), serta kepraktisan memainkannya. Game komputer misalnya, cukup duduk dan klik beberapa fitur, game tersebut langsung bisa dimainkan. Selain itu, tidak membutuhkan area bermain yang luas. Ckup di dalam ruangan saja.  Kelebihan ini tidak bisa didapatkan dari permainan tradisional. Untuk memainkannya, misalnya grobak sodor, dibutuhkan lahan bermain yang luas. Hal ini sedikit mustahil ditemukan di kota-kota besar seperti jakarta dan surabaya.
Gobak Sodor (2)
Namun, permainan tradisional memiliki kelebihan yang tidak ditawarkan oleh permainan modern. Permainan tradisional menawarkan pendidikan karakter yang secara tidak langsung akan terbentuk. Karakter tersebut misalnya kerja sama, jujur, kreatif, cerdik,  menghargai orang lain, dan kebersamaan. Permainan tradisional selalu melibatkan teman bermain. Pelibatan teman ini membentuk karakter sosial anak yaitu menghindarkan individualitas, egois dan sifat apatis. Misalnyabentengan. Permainan kejar-kejaran yang dimainkan secara berkelompok ini menuntut kerja sama yang tinggi agar bisa menang dari kelompok lain. Selain itu, mereka harus mengatur strategi agar bisa mengalahkan lawan. Bila mereka kalah, mereka harus fair menerima kekalahan mereka. Dari satu permainan ini saja, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan.
Selain pembentukan karakter, permainan tradisional selalu melibatkan gerak tubuh. Hampir tak ada permainan yang tidak membuat keringat bercucuran. Hal ini sangat penting bagi perkembangan motorik, kesehatan organ tubuh, dan mencegah obesitas. Motorik adalah  perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Motorik ini ada dua yaitu  motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan sebagian besar atau seluruh anggota tubuh. Contohnya melompat, berlari, memanjat, dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, menyusun balok, memasukkan benang dalam mote, dan lain-lain. Kedua motorik ini mampu berkembang secara optimal dalam permainan tradisional.
Selain mengembangkan motorik, gerak tubuh juga penting untuk  mencegah obesitas pada anak. Berdasarkan  data yang dilansir oleh  dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menyebutkan bahwa pada tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua. Jumlah ini sangat mengkhawatirkan. Obesitas adalah sumber dari penyakit jantung, stroke, dan penyakit kronis lainnya. Namun dengan bergerak, kalori dalam tubuh akan terbakar dan inilah yang akan menghindarkan diri dari obesitas.
Bahaya obesitas pada tubuh anak (3)
Meskipun permainan tradisional menawarkan berbagai manfaat baik bagi pembentukan karakter dan kesehatan, namun sedikit sekali bentuk-bentuk upaya pelestariannya. Salah satu dari pelestarian ini dapat dilihat adalah upaya Komunitas Hong yang berhasil merekonstruksi puluhan bahkan ratusan mainan tradisional. Upaya yang lainnya? Masih bisa dihitung jari.
Bila Komunitas Hong berhasil merekonstruksi ulang mainan tradisonal, ada satu lagi yang nyaris dilupakan. Permainan tradisional membutuhkan wahana khusus yang mampu menampung mainannya dan menyediakan area untuk memainkannya. Bila ditengok kanan-kiri, jawabannya tetap sama. Belum ada.
GELAR WAHANA PERMAINAN TRADISIONAL DI ANCOL
Bila permainan tradisional kekurangan wahana untuk menampung mainan, menjadi area untuk memainkannya, tempat melestarikan, dan memperkenalkannya pada masyarakat, lain halnya dengan permainan modern. Banyak sekali tempat wisata yang menyuguhkan permainan modern. Sebut saja Taman Impian Jaya Ancol, pusat hiburan outdoor terbesar di Indonesia.
Waw, itulah kata yang paling merepresentasikan perasaan takjup ketika berjunjung ke wahana wisata Ancol. Ancol menawarkan berbagai wahana yang memacu adrenalin (tornado, dkk), cinta lingkungan (sea world) dan sebagainya. Sayangnya, nyaris semua wahana  tersebut menggunakan sentuhan teknologi canggih, listrik, komputer, dan pengaturan otomatisasi. Teknologi memang menawarkan kemudahan dalam pengelolaan, namun Ancol butuh sentuhan lain. Ancol butuh nuansa tradisional untuk menyeimbangkan atmosfir modernitas yang sangat kental di sana. Caranya adalah dengan menggelar wahana permainan tradisional di pusat permainan tersebut.
Wahana permainan tradisional berisi berbagai mainan tradisional dan area permainannya. Mainan berarti alat untuk bermain, sedangkan permainan adalah cara untuk memainkan mainan tersebut. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Secara garis besar, konsep wahana l ini adalah sebagai berikut.
Pertama, wahana ini menyediakan berbagai mainan tradisional dari berbagai pelosok Indonesia dan area khusus untuk memainkan mainan-mainan tersebut (khusus untuk mainan yang membutuhkan lahan khusus untuk memainkannya). Misalnya ada enggrang dan area memainkan egrang. Kalau congklak, tidak perlu area khusus (kan cuman butuh tempat duduk saja).
Kedua, hampir semua permainan tradisional membutuhkan partner bermain. Partner ini disediakan oleh pengelola Ancol. Ada beberapa anak yang ditugaskan untuk menemani pengunjung anak-anak yang ingin mencoba memainkan mainan tradisional. Menemani ini berarti menjadi lawan maindari pengunjung tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi keinginan pengunjung yang ingin memainkan grobak sodor misalnya. Permainan ini harus dilakukan secara berkelompok. Ternyata, di wahana dia tidak bisa memainkannya karena tidak ada lawan. Jadi itulah mengapa kehadiran partner dibutuhkan. Partner ini hanyalah pilihan saja. JIka pengunjung tidak menginginkan adanya partner untuk menemani bermain atau memang sudah membawa teman bermain sendiri, partner tersebut bisa beristirahat. BIla pengunjung menghendaki adanya patner, dia harus membayar uang ekstra sebagai pengganti lelah sang partner.
Pembuatan wahana permainan tradisional ini memiliki banyak manfaat bagi anak khususnya dan kelestarian budaya nasional. Manfaat-manfaat tersebut antara lain:
1. Menumbuhkan rasa cinta budaya nasional pada anak dan pengunjung dewasa
Budaya adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Permainan tradisional pun termasuk dalam katagori tersebut. Pembuatan wahana permainan tradisional anak akan belajar untuk mencintai hasil budayanya sendiri. Paling tidak, perlu ditumbuhkan  ketertarikan pada permainan tradisional tersebut.  Bila ketertarikan ini terus menerus dipupuk, yang timbul adalah rasa memiliki akan permainan tersebut. Jangan sampai anak yang lahir di kota menganggap permainan tradisional adalah milik anak desa saja. Rasa memiliki inilah yang menjadi tonggak utama rasa cinta budaya sendiri.
2. Menumbuhkan rasa ingin untuk melestarikan permainan tradisional pada diri pengunjung
Rasa ingin melestarikan permainan tradisional ini berkaitan erat dengan point pertama. Rasa ini merupakan implementasi dari kecintaan terhadap budaya nasional. Kecintaan ini akan memunculkan sebuah tanggung jawab untuk terus menjaga budaya tersebut dari kepunahan dan gerusan globalisasi. Bila rasa ini tumbuh pada setiap pengunjung yang usai mengunjungi wahana permainan tradisional, maka tidak menutup kemungkinan muncul berbagai upaya pelestarian yang luar biasa.
3. Memperkenalkan mainan dan permainan tradisional dari berbagai pelosok daerah Indonesia pada pengunjung umumnya, dan pada anak khususnya
Bukan hal yang baru jika anak sekarang khususnya, yang tidak tahu permainan tradisional dari berbagai daerah. Jangankan daerah lain, mungkin banyak anak yang tidak tahu permainan tradisional daerahnya sendiri. Salah satu tujuan dari pembuatan wahana ini adalah memperkenalkan permainan tradisional pada anak dan pengunjung. Dengan memperkenalkan permainan ini, diharapkan muncul rasa menghargai dan memiliki terhadap hasil karya anak bangsa.
Mainan tradisional: Congklak/dakon (4)
4. Mengajarkan anak arti sebuah kearifan lokal
Permainan tradisional mengandung kearifan lokal yang tidak ditemukan dalam permainan modern. Kearifan lokal (local wisdom) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Setiap mainan tradisional menggunakan bahan-bahan dari alam. Misalnya egrang. Mainan ini dibuat dari bambu atau kayu. Hal ini mengisyaratkan pada kita bahwa alam menyediakan berbagai sumber yang bermanfaat bagi manusia. Bahan-bahan dari alam pastilah ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi, dan efek samping. Hal ini tidak ditemukan pada mainan modern yang banyak menggunakan plastik, mika, dan bahan nondaur ulang yang menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Egrang, mainan ramah lingkungan (5)
Menggelar sebuah wahana permainan tradisional bukan hal yang mudah, banyak pertimbangan dan persiapan untuk membuatnya menjadi kenyataan. Apalagi menggelarnya di Ancol. Inilah sebuah ide kecil dari hasrat saya yang selama ini terpendam untuk melestarikan permainan tradisional.
Semoga mampu menginspirasi,,
karena yang FB, saya tidak tahu lokasi url-nya dimana, saya crop foto buktinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar