Rabu, 14 Maret 2012

Pulau Kemaro dan Legenda Guci Berisi Sawi


Pulau Kemaro dan Legenda Guci Berisi Sawi
28/01/2012 13:49:05 WIBOleh : Admin Disparsenbudpora

Pagoda 9 lantai yang menjadi daya tarik Pulau Kemaro

.... Daya tarik Kemaro adalah pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Banguna ini baru dibangun tahun 2006. Selain pagoda ada klenteng yang sudah dulu ada. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini....



Jika ke Palembang dan berkunjung ke Benteng Kuto Besak atau melihat Jembatan Ampera, sempatkanlah mampir ke Pulau Kemaro. Ini sebenarnya delta yang ada di Sungai Musi dan lokasinya tak jauh dari Jembatan Ampera.

Dari jembatan bersejarah itu kita bisa menyewa perahu klotok untuk menuju P. Kemaro. Ongkos sekitar Rp 100.000,- pp. Lama perjalanan sekitar 30 menit menyusuri S. Musi yang berair cokelat. Kita bisa melihat kehidupan S. Musi. Juga aktivitas dermaga PT Pusri. Kalau pas beruntung kita bisa melihat kapal yang sedang berlabuh memuat pupuk.

Daya tarik Kemaro adalah pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Banguna ini baru dibangun tahun 2006. Selain pagoda ada klenteng yang sudah dulu ada. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.

Legenda itu bermula ketika Siti Fatimah yang putri raja dipersunting oleh saudagar Tan Bun An pada zaman Kerajaan Palembang. Siti Fatimah lalu diajak ke daratan Tiongkok untuk bersua dengan orangtua Tan Bun An. Sepulang dari Tiongkok, pasangan ini diberi hadiah tujuh buah guci. Sesampainya di dekat Pulau Kemaro ini, Tan Bun An ingin melihat isi guci. Ternyata cuma sawi-sawi asin. Karena kesal guci-guci itu dibuang ke sungai. Sayangnya, guci terakhir jatuh dan pecah. Ternyata di bawah sawi itu tersimpan hadiah yang berharga.

Tanpa pikir panjang Tan Bun An terjuan ke sungai mencari guci-guci yang sudah dibuang. Karena tidak muncul-muncul, pengawalnya ikut terjun ke sungai ingin membantu. Karena keduanya lama tak muncul, Siti Fatimah pun terjun ke sungai berniat membantu. Ternyata ketiganya tidak pernah muncul lagi ke permukaan. Untuk mengenang ketiganya di Pulau Kemaro dibuatlah makam untuk mengenang mereka. 

Nama Kemaro mengacu ke kemarau, karena konon pulau ini tidak pernah terendam saat Sungai Musi meluap dan merendam perumahan di sisi sungai. Kegiatan yang paling ramai di pulau ini adalah perayaan Cap Go Meh, yaitu perayaan pada 15 hari (saat terang bulan) setelah tahun baru Imlek. Saking ramainya, dibuat jembatan ponton dari tepian sungai sehingga orang tak perlu lagi menyeberang.
Sumber: http://intisari-online.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar