Senin, 05 Maret 2012

Mobil Esemka: Kemajuan Dunia Otomotif Indonesia?


Indonesia dihebohkan dengan kehadiran Mobil Esemka sedang lantaran digunakan sebagai mobil dinas oleh walikota Solo Joko Widodo. Mobil Nasional yang dinamakan ESEMKA ini dirakit oleh para siswa SMK di Jawa Tengah. Mobil Esemka tidak hanya punya 1 model tetapi berbagai model dan tipe tergantung dari sekolah SMK mana yang merakitnya. Menurut salah seorang kepala SMK di jawa tengah, mobil ESEMKA ini akan diproduksi masal dan untuk suku cadangnya bisa diperoleh di berbagai SMK produsen mobil tersebut. Jadi istilahnya SMK bisa berubah menjadi seperti diler ataupun tempat pemasaran mobil-mobil itu. Mirip 3S (Sales, Service dan Spare Part)-nya pabrikan lah. Namun sepertinya SMK bakal menggandeng pihak lain untuk menjual mobil-mobil ini kalau nanti diproduksi betulan.
Mobil Esemka ini tidak kalah dengan mobil sejenis SUV lainnya yang saat ini menguasai pasar mobil di Indonesia. Saat ini PT Autocar Industri Komponen (AIK) dan beberapa perusahaan seperti PT Solo Manufaktur Kreasi membantu SMK mewujudkan mobil Esemka itu. Tetapi untuk saat ini mobil esemka masih belum diproduksi secara masal lantaran masih menunggu izin layak jalan dari instansi terkait.
Model mobil pertama yang diproduksi oleh Esemka ialah model SUV yang dikenal dengan Esemka Rajawali. Modelnya kini sudah mengalami perubahan. Saat ini rupanya lebih mirip Honda CR-V 2012 dengan bodi belakang Isuzu Panther namun dengan ukuran lebih panjang.
perakitan-mobnas-esemka
Sementara model kedua adalah pikap double kabin yang dibuat oleh SMK 1 Singosari Esemka Digdaya yang dinamai Digdaya. Rencananya jika dipasarkan mobil ini akan dibanderol seharga Rp 100 juta. Dengan harga tersebut untuk ukuran pikap double kabin memang menggiurkan. Apalagi ditambah dengan tongkrongan bodi yang kekar.
Dari sisi bentuk, Digdaya memiliki bentuk yang lebih orisinil karena sedikit menggunakan parts dari mobil lain.
Pilihan-pilihan mesin untuk Rajawali dan Digdaya tersebut antara lain mesin bensin berkapasitas 1.500 cc, 1.800 cc, 2.000 cc dan 2.200 cc. Versi dieselnya pun kabarnya tengah disiapkan.
Setelah mengenal 2 jenis mobil Esemka sebelumnya yakni Digdaya dan SUV. Kita beralih ke mobil Esemka lainnya yakni Zhangaro. Si mobil niaga ini diproduksi oleh SMK Negeri 10 Malang. Berbekal mesin yang sama pikap ini sekilas memang dengan Suzuki Futura atau Suzuki Carry, apalagi bila menilik pada desain dashboardnya, terutama pada lingkar kemudianya.
Namun, untuk engine, tetap berlogo Esemka 1.5 i EFI, meskipun untuk sasisnya mencangkok dari Mitsubishi Colt T 120 SS, tahun 2003. Begitupun untuk gearbox yang dimabil dari merek yang sama, yakni Mitsubishi colt T 120 SS.
Sedangkan transmisi 5 speed dari Suzuki Vitara, diklaim mumpuni untuk mengajak Zhangaro bergerak mengangkat beban.
Daihatsu Gran Max ikut andil dengan menyumbangkan headlamp, sementara Daihatsu Taft GT, mengisi penerangan buritan, atau stop lamp.
Berbahan plat setebal 1,5 mm, bak seluas 1 meter kubik cukup besar untuk memenuhi kebutuhan angkut mengangkut, dengan panjang 225 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 33 cm.
Pabrik-Esemka
Kemudian adalagi mobil van yang dibuat oleh SMK Negeri 6 Malang. Van ini dinamai Rosa Van 1.5i.
Disokong oleh sasis dari Toyota Hiace, mobil ini mampu menampung 8 orang dewasa, selayaknya mobil van dengan 8 seaternya.
Ruang kabin pun terasa lega, meskipun balutan kemewahan belum dijadikan acuan dalam mendesain ruang kabin.
Namun, mobil sebesar ini juga disematkan dengan kapasitas mesin yang sama, yakni 1.500 cc Multi EFI. Nah untuk mengimbangi berat bodi yang besar, SMK menggunakan gearbox Toyota Hiace bensin, karena rasio giginya lebih kecil, jadi ringan.
Begitupun dengan transmisinya yang mencangkok kepunyaan Suzuki Vitara.
Dan model terakhir adalah model mobil hatchback. Masih menggunakan mesin esemka 1.5i multi injection. Hatchback ini menginatkan kita dengan Terios. Ya memang lampu depannya menggunakan lampu sama dengan Terios.
Suzuki Escudo berperan dalam transmisinya, poros propeller, rem belakang dan handle pintu. Sedankan suspensi menggunakan milik Mitsubishi L300 dan Isuzu Panther. Spionnya dicomot dari Spion APV.
Namun SMK membuat sendiri poros input, kaca dan wearing kabelnya.
Mengenai harga mobil Esemka, diperkirakan harga on the road mobil esemka ini sekitar Rp. 120 jutaan, sangat murah sekali jika dibandingkan dengan mobil sejenis SUV lainnya yang sekitar 200 jutaan.
Sukiyat Penggagas Mobil Esemka
Sukiyat pembuat mobil esemka
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Sebenarnya Sukiyat tidak pernah bermimpi untuk membuat mobil. Pada awalnya dia hanya ingin membantu para siswa Jurusan Otomotif Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Dia ingin siswa di sekolah itu bisa melakukan praktik membuat bodi mobil. Apalagi, di sekolah itu, dia menjadi ketua komitenya.
Kalau sekarang kita punya mobil buatan sendiri, ya, harus berani menghargai produk kita sendiri.
Sukiyat kemudian menyumbangkan bodi mobil Toyota Kijang untuk dibongkar dan dipelajari bagian-bagian bodi dan mesinnya kepada sekolah. Sebelumnya, ia juga mengajari siswa dengan menggunakan mobil Toyota Crown yang lantas dibongkar, kemudian disisakan bagian kisi-kisi, lantai, dan rangkanya saja.
Siswa lantas diajari cara membuat badan mobil secara manual, yakni membentuk pelat eser dengan teknik ketok (kenteng). Mesinnya menggunakan yang sudah jadi karena saat itu target Sukiyat adalah mengajari siswa membuat badan mobil.
Uniknya, meski aslinya mobil itu sedan, dia mengarahkan siswa untuk membuat bodi Toyota Land Cruiser. Sedan itu pun berubah menjadi mobil sport utility vehicle (SUV).
”Saya sendiri terheran-heran, kok bisa ya? Dari sinilah saya lalu terpikir, mengapa tidak sekalian saja mereka membuat mobil,” ceritanya.
Maka, dalam suatu acara di Bayat, Klaten, ia dipertemukan dengan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Joko Sutrisno yang tertarik dengan kemampuan Sukiyat. Bengkel Kiat Motor miliknya lantas menjadi mitra perusahaan dalam program perakitan mobil oleh siswa SMK, yang telah dimulai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa tahun sebelumnya.
SMK-SMK pun mengirimkan siswa mereka ke Kiat Motor di Ceper, Klaten, untuk belajar membuat bodi mobil, termasuk bagian interior dan eksterior mobil, serta rangkanya.
”Para siswa itu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Banyak siswa yang setelah lulus suka main ke tempat kami. Mereka bercerita sudah mendapat pekerjaan dengan gaji baik,” kata Sukiyat.
Saat merintis pembuatan prototipe mobil SUV yang kini dinamai Kiat Esemka, Sukiyat terlebih dahulu mengajari siswa membuat miniatur menyerupai badan Toyota Hardtop. Setelah berhasil, siswa lantas didampinginya membuat bodi mobil prototipe yang belakangan dinamakan Kiat Esemka.
Siswa sedang memproses mobil esemkaUntuk desain bodi mobil, Sukiyat terinspirasi bentuk Toyota Land Cruiser Prado dan Ford Everest. Adapun mesin mobilnya menggunakan hasil rakitan siswa, yang komponennya sebagian besar juga dibuat siswa bersama mitra industri.
”Untuk bodi, interior dan eksterior dibikin manual oleh siswa dalam waktu 2-3 bulan. Kalau sudah ada mesin dies, sehari saja bisa jadi ratusan bodi, tetapi harga dies sangat mahal,” katanya.
Bukan Hanya Mobil
“Selama ini mitra pembuatan mobil Esemka sejak 2008 memang dengan usaha kecil. Kami akan jalan terus membuat mobil rakitan Esemka meski banyak yang berwacana dengan mobnas itu,” kata Joko.
Dia sendiri optimistis dengan langkah yang ditempuh karena insyaallah tinggal uji ulang dan penyempurnaan lainnya. Soal pesanan yang melonjak dia juga menyikapi dengan positif.
“Kalau siswa SMK jurusan otomotif semakin banyak yang membuat mobil maka media belajarnya semakin luas dan SMK nantinya melahirkan lulusan dengan SDM yang trampil,” kata Joko
Pasalnya SMK yang dibanjiri pesanan mobil Esemka seperti di Solo, misalnya akan mendistribusikan pekerjaan ke SMK lain ke berbagai daerah.
“Soal mobil Esemka prinsipnya kita akan jalan terus produksi karena memang menjadi media pembelajaran dan tinggal menyempurnakan saja.
Senada dengan Joko Sutrisno, usaha kecil yang selama ini bermitra dengan SMK, PT Nasional Motor optimistis mobil-mobil Esemka bisa berseliweran di jalan-jalan utama kota-kota besar karena produksi SMK tidak kalah dengan buatan pabrikan besar.
motor-esemka
“Kami bahkan bersama siswa SMK I Purwosari, Pasuruan tengah membuat dua unit bus masing-masing kapasitas 50 seat yang tengah di kerjakan kroyokan. Tiga bulan lagi bus selesai dan kirim ke SMK di Bali untuk mobil panggung keliling,” kata Priyono, konsultan Otomotif Kemdikbud dari PT Nasional Motor, Jatim.
Selama ini, kata Prijono, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terbatas hanya melahirkan sumber daya manusia (SDM) otomotif maupun beragam prototipe mobil nasional di tanah air.
“Tapi sejak 2009 sudah banyak prototipe mobil nasional dilahirkan dari tangan trampil siswa SMK di Malang mulai dari Digdaya 1, Digdaya 2, Rajawali dan tipe-tipe mobil nasional lainnya dengan brand Esemka yang kerap dipamerkan di tingkat provinsi maupun tingkat nasional,” ujarnya.
Kalau sudah banyak pejabat yang mau mengganti mobil dinasnya dengan hasil rakitan siswa SMK, maka suatu langkah kemajuan hingga akhirnya benar-benar akan lahir mobil nasional yang diakui seluruh bangsa ini.
Joko Sutrisno menambahkan dengan besarnya minat masyarakat atas mobil Esemka tersebut maka pihaknya optimistis akan melahirkan pelaku UKM otomotif yang besar.
“Bukan siswa SMK saja yang pintar merakit, UMKM di Indonesia selama ini sudah teruji membuat berbagai komponen otomotif sehingga sinergi SMK dan industri kecil itulah lahir prototipe mobnas,” tegas Joko

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar