Senin, 05 Maret 2012

AGENDA SOLO

MENGENANG GESANG

Ketenaran sungai Bengawan Solo, sebagai salah satu icon Kota Solo tidak terlepas dari Lagu Bengawan Solo. Lagu ini diciptakan oleh Gesang Martohartono (1 Oktober 1917-20 Mei 2010) pada tahun 1940.  Sang pencipta lagu memperoleh inspirasi ketika ia sedang duduk dan mengagumi sungai Bengawan Solo. Tetapi pada perkembangannya, lagu Bengawan Solo sendiri juga meraih ketenarannya setara dengan sumber inspirasinya tersebut.Lagu Bengawan Solo juga sangat dikenal di Jepang, terutama oleh generasi tua. Lagu ini sampai di negeri Sakura di masa perang dunia ke-2. Orang-orang Jepang yang kembali ke negerinya membawa lagu ini setelah masa pendudukannya di Indonesia selesai. Bahkan Bengawan Solo memiliki versi dalam bahasa Jepang, sehingga sebagain orang mengira lagu itu asli dari Jepang. Apalagi sebelumnya mereka belum menemukan siapa pengarang asli lagu tersebut. Akhirnya, keberadaan sang pencipta asli berhasil ditemukan oleh sekumpulan warga Jepang. Sehingga untuk pertama kalinya, Gesang hadir pada sebuah festival di Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Jepang-Indonesia tahun 1980. Penghargaan pihak Jepang juga diwujudkan dengan sebuah monumen patung setengah badan Gesang di Taman Jurug, Kota Solo.
Gesang tidak hanya menciptakan Bengawan Solo. Beberapa lagu lain yang ia ciptakan dan cukup populer adalah Jembatan Merah, Pamitan, Caping Gunung dan Aja Lamis. Kenangan Gesang dan karya-karyanya diperingati sejumlah seniman-seniwati yang bergelut di dunia keroncong di Kawasan Ngarsopura, Sabtu (18/2) malam dalam tajuk acara Konser Tirta Gesang. (tim KBS)

Kentroeng Rock N’ Roll Kisahkan PEMBAYUN

Pembayun adalah putri pertama Panembahan Senopati, penguasa Mataram di abad ke-16. Meskipun lahir dari seorang selir, Pembayun memiliki bakat kecerdasan ibunya, yaitu Tumenggung Adisara. Selir Panembahan Senopati itu adalah sosok yang berjasa dalam penaklukan Kadipaten Madiun. Ia berhasil membuat terlena Adipati Madiun, sehingga dengan  mudah Mataram menundukkannya.
Gagasan semacam itu juga yang ada pada Pembayun untuk menaklukkan Mangir, sebuah daerah perdikan yang terletak tidak jauh dari Mataram. Ia mengajukan diri masuk ke jantung Mangir dengan menyamar sebagai Ledek Barangan. Pembayun sudah terlalu lelah melihat pertumpahan darah akibat konflik Mataram-Mangir, sehingga ia melakukan dengan cara lain tersebut.
Kisah berjudul Pembayun Gadis Penakluk ini dibawakan oleh Komunitas Kelon, Sabtu (18/2) malam, di Balai Sudjatmoko Solo. Komunitas belajar seni peran dari Kota Solo ini menggunakan format Kentroeng Rock n’ Roll dalam penyajiannya. Para story teller bukan hanya sebagai pencerita saja, tetapi mereka juga dituntut memvisualkan adegan-adegan tertentu dengan acting atau nyanyian.  (ye)

Festival Jenang Solo 2012

Jenang adalah salah satu kekayaan kuliner nusantara yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Kota Solo. Selain sebagai salah satu jenis panganan, jenang juga sekadang dikaitkan dengan ritual-ritual tertentu. Misalnya, jenang sumsum yaitu tepung beras yang dimasak dengan air hingga menjadi bubur dan kemudian di padu santan dan siraman juruh dalam sajiannya. Jenang sungsum biasa dinikmati bersama-sama oleh segenap orang yang baru saja usai mengadakan perhelatan pernikahan. Makna filososinya para panitia kerja yang telah menguras tenaga dan pikirannya diberi jenang sumsum agar tubuhnya segar kembali dengan sumsum yang baru.
Kekayaan dan keunikan jenang semacam itulah yang mendorong diadakannya Festival Jenang Solo, Jumat (17/2) siang, di kawasan Koridor Ngarsopura. Kegiatan yang merupakan rangkaian acara memperingati HUT ke-267 Kota Solo, resmi dibuka oleh Walikota Solo Joko Widodo. Pengunjung bisa menikmati dan mencicipi aneka jenis jenang dari 62 stan yang ada di sana.
Festival Jenang Solo yang berlangsung pukul 08.00-10.00 WIB ini cukup mendapatkan perhatian yang antuasias dari warga Kota Solo. Apalagi pada festival ini, panitia membagikan kurang lebih 10.000 porsi jenang gratis kepada pengunjung. (ye)

14 FEBRUARI bersama Wayang Kampung Sebelah

Karyo adalah seorang suami dengan seorang istri dan dua orang anak. Ia sudah bertahun-tahun hidup di negeri ini dalam keadaan miskin. Mata pencahariannya sebagai pengemudi becak tidak pernah membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Apalagi ketika semakin banyak angkutan umum lain bermunculan yang menjadi saingan becak. Akhirnya, Karyo terpaksa harus mencari pinjaman uang ke beberapa orang demi keberlangsungan hidup keluarganya. Sebuah situasi yang malah membuat Karyo lebih menderita dalam kemiskinannya.
Itulah sekilas cerita dari lakon wayang berjudul Tragedi Jual Beli Mimpi yang disajikan oleh Wayang Kampung Sebelah (WKS). Pementasan wayang yang cukup gayeng tersebut berlangsung Selasa (14/2) malam di Komplek sekolah St. Valentinus, Sambeng, Solo. Meskipun lakon ini cukup mengharu biru tetapi sang dalang, Ki Jlitheng Suparman menyampaikannya dengan segar. Penonton sering dibuat tertawa oleh tingkah polah anak-anak wayang yang dimainkan sang dalang. Apalagi saat Ki Jlitheng Suparman menampilkan beberapa tokoh penyanyi “mirip” artis ibu kota. Penonton semakin bergairah dengan tawa saat menyaksikan wayang yang bentuk dan gayanya mirip Rhoma Irama dan Inul Daratista. Wayang-wayang mirip bintang itupun menyanyikan lagu yang memiliki cengkok seperti artis yang ditirukan.
Pementasan WKS tersebut merupakan bagian dari acara Hari Ulang Tahun dan Pelindung Sekolah St. Valentinus yang ke-65. Pada perayaan tersebut sekaligus juga diresmikan gedung baru Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak Valentinus yang terletak berhadapan dengan gedung sekolah lama. Selama ini, sekolah yang berada dibawah kendali Yayasan Pangudi Luhur ini mengelola Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, dan Sekolah Dasar. (ye)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar