Jumat, 09 Maret 2012

Kesenian Sisingaan Kabupaten Subang

Kesenian Sisingaan Kabupaten Subang PDF Print E-mail
Written by Ferdy Fedinand   
Rabu, 15 Desember 2010 15:34
Asal-usul dan Perkembangan Kesenian Sisingaan
Kesenian Sisingaan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang dengan menggunakan sepasang patung sisingaan sebagai ciri khas utama
Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang. Pada masa pemerintahan Belanda berkuasa di Subang pada tahun 1812 pada saat itu Subang dikenal sebagai daerah Doble bestuur dan dijadikan kawasan perkebunan dengan nama P&T Lands(Pamanoekan en Tjiasemladen). Pada saat Subang dikuasai oleh Belanda masyarakat Subang mulai diperkenalkan dengan lambang Negara mereka yaitu Crown atau mahkota kerajaan. Pada saat yang bersamaan Subang juga dikuasai oleh Inggris dan memperkenalkan lambang negaranya yaitu Singa. Sehingga secara administratif Subang dibagi ke dalam dua bagian yaitu : Secara politik dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.
Dengan adanya tekanan dari penjajah terhadap masyarakat Subang yaitu tekanan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya, masyarakat Subang melakukan perlawanan terhadap penjajah. Perlawanan pun tidak hanya melalui fisik, akan tetapi dalam bentuk kesenian yang di dalamnya mengandung Silib (Ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), Siloka ( kiasan atau melambankan), Sasmita (Contoh kriteria yang mengandung arti atau makna). Artinya bahwa tindakan masyarakat Subang diekspresikan secara terselebung melalui sindiran, perumpamaan yang mengena terhadap keadaan pada saat itu. Salah satu ekspresi jiwa masyarakat Subang mereka wujudkan dengan cara membuat salah satu kesenian yang dikenal dengan nama kesenian Sisingaan.
Kesenian sisingaan merupakan ungkapan rasa ketidak puasan atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada kaum penjajah. Dengan demikian sepasang sisingaan melambangkan kaum penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang menindas masyarakat Subang, atau lambang kebodohan atau kemiskinan. Dengan diciptakan sisingaan tersebut para seniman dapat berharap agar suatu saat generasi muda harus bangkit dan harus mampu mengusir penjajah dari tanah air mereka dan dapat hidup jauh lebih baik lagi.
Sisingaan secara garis besar terdiri dari 4 orang pengusung sisingaan, sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra,nayaga, dan sinden atau juru kawih. Jadi secara filosofi 4 orang pengusung sisingaan melambang masyarakat pribumi ditindas oleh kaum penjajah, sepasang patung sisingaan melambangkan 2 penjajah (Belanda&Inggris), sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang suatu saat harus mampu mengusir penjajah, dan nayaga melambangkan mayarakat yang gembira atau masyarakat subang yang berjuang dan memberi motivasi terhadap generasi muda untuk dapat mengalahkan dan megusir penjajah dari tanah air mereka.
Sisingaan yang diciptakan oelh seniman pada saat itu sangat tepat dengan menggunakan Sisingaan sebagai alat perjuangan untuk melepaskan diri dari tekanan kaum penjajah. Sementara itu kaum penjajah tidak terusik akan tetapi merasa bangga melihat pagelaran Sisingaan, karena lambang mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk suatu kesenian rakyat. Penjajah hanya memahami bahwa Sisingaan merupaka karya seni diciptakan sangat sederhana dan spontanitas oleh penduduk pribumi untuk menghibur anak sunat. Akan tetapi maksud rakyat Subang tidak demikian, dengan menggunakan lambang kebesaran mereka dalam bentuk kesenian dengan cara menunggangi dan menjambak rambut sisingaan merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan semua kebencian mereka terhadap kaum penjajah.
Pada awal terbentuknya sisingaan tidak seperti sisingaan yang ada pada zaat sekarang. Cikal bakal sisingaan zaman sekarang adalah singa abrug. Disebut singa abrug karena patung singa ini dimainkan secara usung dan pengusungannya aktif menari sedangkan singa abrug diusungkan kesana kemari seperti mau diadu. Singa abrug pertama kali berkembang di daerah tambakan kecamatan Jalan Cagak.
Pada zaman dulu sisingaan dibuat dengan sangat sederhana, muka dan kepala singa dibuat dari kayu ringan seperti kayu randu atau albasiah, rambut sisingaan dibuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus, Sedangkan badan sisingaan terbuat dari carangka (kerajinan anyaman bambu) yang besar dan ditutupi oleh karung kadut (karung goni) atau ada pula yang dibuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan untuk usungan sisingaan dibuat dari bambu yang dipikul oleh empat orang. Pembuatan sisingaan tidak dibuat sendiri akan tetapi dilakukan bersama-sama.
Waditra pada masa itu sangat sederhana hanya memakai beberapa alat musik saja, kemudian lama-kelamaan mengalami perkembangan. Waditra yang dipakai pada masa itu terdiri dari beberapa buah angklung pentatonis yang berlaras salendro. Alat musik tersebut antara lain:
- 2 buah angklung galimer
- 2 buah angklung indung
- 2 buah angklung pancer
- 2 buah angklung rael
- 2 buah angklung ambrug
- 1 buah angklung engklok
- 1 buah terompet
- 2 buah dogdog lonjor
- 1 buah bedug
- 3 buah terbang
Sementara lagu yang dinyanyikan pada masa itu antara lain: lagu badud, samping butut, manuk hideung, sireum beureum, dan lain-lain. Sedangkan lagu pembuka biasanya menggunakan lagu tunggul kawung. Dan apabila yang hajatan tokoh agama, maka lgu yang disajikan biasanya lagu yang bernuansa Islami atau shalawatan nabi.
Sedangkan pengusungan sisingaan biasanya dari masyarakat. Karena pada saat itu belum terbentuk grup dan masih saling pinjam sisingaan. Gerakannyapun masih sederhana dan dilakukan secara spontanitas tetapi tidak menghilangkan gerak yang mengandung makna heroik atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh. Gerakan helaran pada saat itu diantaranya: tendangan,lompatan, minced, dan dorong sapi. Sedangkan busana atau pakaian yang digunakan oleh pengusung sisingaan pada saat hanya terdiri dari: Kampret, pangsi, iket, seperti masyarakat pada umumnya. Sedangkan kalau hajatan yang bergolongan ekonomi menegah ke atas busana yang dipakai adalah baju takwa, sinjang lancer, iket. Kemudian sekitar tahun 1960-an busana pengusung sisingaan mulai beralkulturasi yaitu adanya perubahan warna yang mencolok dan bahan pakaiannya yang cukup baik.

Dikutip dari http://ferdy-skynet.blogspot.com/2010/03/kesenian-sisingaan-kabupaten-subang.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar